A-Z Penyakit Hewan Ternak

Vibriosis (Kemandulan & Keguguran)

Vibriosis merupakan penyakit yang menyerang alat reproduksi ternak sehingga akan mengakibatkan kemandulan dan keguguran. Penyebab dari penyakit vibriosis adalah bakteri Vibrio fetus. Bakteri Vibrio fetus berbentuk koma dan mempunyai flagella yang digunakan sebagai alat gerak dan bersifat motil. Bakteri Vibrio fetus tidak dapat bertahan dengan pemanasan pada suhu 58o C selama 5 menit, desinfektan, kekeringan serta paparan sinar matahari langsung.

Penularan dapat melalui proses perkawinan alami atau melalui inseminasi buatan (IB) dengan straw yang terinfeksi Vibrio fetus. Namun penularan melalui IB jarang terjadi pada semen beku yang berasal dari balai inseminasi berertifikat. Tempat predileksi bakteri Vibrio fetus adalah di epitel preputium, mukosa kelenjar penis dan ujung uretra.

Gejala

Ternak yang mengalami vibriosis akan menunjukkan gejala endometritis, salpingitis, siklus berahi diperpanjang, kematian embrio, adanya keguguran, dan infertilitas. Bakteri Vibrio fetus dapat menyebabkan peradangan pada vagina, serviks, uterus dan tuba fallopii, abortus pada usia kebuntingan 3 – 5 bulan, steril pada ternak jantan maupun betina, siklus estrus yang irregular sehingga mengakibatkan angka konsepsi jelek.

Pada beberapa ternak dapat mempertahankan kebuntingannya namun anak yang dilahirkan biasanya lemah. Pada ternak jantan tidak ditemui gejala yang signifikan, namun bakteri dapat ditemukan pada ekskret smegma preputium.

Penanganan dan Pencegahan

Penanganan ternak yang mengalami vibriosis yaitu ternak tidak akan dikawinkan selama 3 bulan, menghindari kontak dengan sapi penderita lain, memberikan vaksin dengan bakterin 1 – 3 bulan sebelum dikawinkan, dan melakukan pengobatan dengan antibiotik spektrum luas.

Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan imunisasi, sanitasi dan pemeriksaan kesehatan ternak secara rutin. Selain itu, pemusnahan sisa-sisa abortus dengan cara dibakar atau didensifeksi harus dilakukan. Ternak betina yang mengalami abortus sebaiknya dilakukan diagnosa yang tepat dan dipisahkan serta tidak melakukan perkawinan sebelum ternak tersebut dinyatakan negatif atau tidak menderita penyakit vibriosis.

Share

Referensi

Yekti, A.P.A., Susilawati, T., Ihsan, M.N., Wahjuningsih, S. 2017. Fisiologi Reproduksi Ternak (Dasar Manajemen Reproduksi). Universitas Brawijaya Press (UB Press), Malang.

 

Yulianto, P., dan Saparinto, C. 2014. Beternak Sapi Limousin, Panduan Pembibitan, Pembesaran, dan Penggemukan. Penebar Swadaya, Jakarta.