A-Z Penyakit Hewan Ternak

Surra (Mubeng, Trypanosomiasis)

Surra atau disebut juga penyakit Mubeng dan Trypanosomiasis. Surra merupakan penyakit parasit yang menular pada hewan dan disebabkan oleh protozoa Trypanosoma evansi yang tersirkulasi dalam darah secara ekstraseluler. Hewan yang rentan terhadap penyakit ini adalah: unta, kuda, kerbau, sapi, kambing, domba, babi, dan anjing. Hampir semua mamalia reseptif meskipun tidak semuanya rentan, dan burung kemungkinan juga reseptif.

Surra dapat juga dapat menginfeksi manusia. Penularan penyakit surra antar hewan terjadi melalui darah yang mengandung paarasit T. evansi. Penularan paling utama melalui vektor lalat pengisap darah yang termasuk golongan Tabanidae seperti Chrysops sp, Stomoxys sp, Heamatopota sp, Lyperosia sp, dan Haematobia sp. Selain itu, arthropoda lain seperti Anopheles, Musca, pinjal, kutu dan caplak dapat pula bertindak sebagai vektor.

Secara uum penularan penyakit ini terbagi, sebagai berikut:

  • Secara mekanik infeksi Trypanosomiasis terjadi sebagai akibat gigitan insekta penggigit.
  • Kontaminasi luka yang disebabkan oleh kontaminasi alat-alat bedah yang tidak steril atau alat-alat suntik selama proses vaksinasi yang kurang steril.
  • Penularan secara transplasental telah dilaporkan pada kejadian Trypanosoma equiperdum dan T. brucei. Penularan secara vertikal dapat terjadi melalui plasenta induk.
  • Bentuk penularan per oral dapat terjadi apabila Trypanosoma tertelan hewan atau ternak yang mengalami luka pada mukosa
  • Bentuk penularan yang lain adalah melalui vektor biologi seperti kelelawar
  • Perkembangbiakan Trypanosoma memperbanyak diri dengan cara binary longitudinal fussion. Awalnya kinetoplast membelah diri, kemudian diikuti oleh pembelahan inti. Bagian tubuh yang tidak mendapat flagela dan membrana undulan, akan membentuk flagela dan membrana undulan yang baru. Kemudian sitoplasma juga akan membelah diri dari ujung anterior secara longitudinal.

Gejala

Gejala pada hewan yang terserang Trypanosoma adalah menunjukkan demam intermitten, urtikaria, anemia, oedema pada kaki, rambut rontok, kelemahan progresif, kondisi menurun dan kurang nafsu makan. Selain itu, konjuntivitis juga dapat terjadi. Kerusakan-kerusakan pada organ yang diakibatkan oleh surra antara lain splenomegali, pembesaran kelenjar limfe dan ginjal, infiltrasi leukosit pada parenkim hati, serta perdarahan dan peradangan parenkim ginjal. Gejala klinis lainnya yang tampak yaitu kulit kusam, aborsi, edema, dan gejala syaraf kadang teramati, seperti kejang periodik.

Perubahan patologi yang disebabkan surra tidak spesifik. Perubahan yang tampak berupa emasiasi, pembesaran limfoglandula, pembesaran hati dan ginjal, asites, oedema, hidrotoraks, hidroperikardium, perdarahan petekie di parenkim hati dan ginjal, perdarahan otak dan batang otak, meningoensefalitis non supuratif serta adanya darah di cairan serebrospinal dan miokarditis pada kasus kronis

Penanganan dan Pencegahan

Vaksin untuk pencegahan penyakit Surra belum diproduksi dan obat-obatan yang direkomendasikan untuk pengobatan penyakit Surra yaitu Suramin, Isometamidium Klorida dan Diminazena Aceturate. Suramin diketahui paling efektif untuk mengobati Trypanosomiasis akan tetapi sediaan ini tidak dijumpai di Indonesia. Pengendalian Trypanosomiasis dapat dilakukan dengan:

  • Ternak yang menderita Surra atau tersangka sakit diisolasi sehingga terlindung dari lalat (dengan penutupan kandang dan penggunaan insektisida);
  • Apabila penyakit Surra ditemukan lebih dari suatu kampung atau desa, maka ternak yang sakit atau tersangka sakit harus diasingkan sejak fajar sampai matahari terbenam, kecuali jika pada ternak tersebut telah dilakukan tindakan pencegahan;
  • Pintu masuk halaman kampung atau desa yang terdapat ternak sakit atau tersangka sakit, harus dipasang papan yang menyatakan adanya penyakit hewan menular Surra;
  • Ternak sepanjang tidak memperlihatkan gejala sakit dapat /dipekerjakan dalam kegiatan pertanian dan pengangkutan. Ternak yang dipekerjakan harus terlindung dari lalat;
  • Apabila pada beberapa desa dalam suatu daerah terinfeksi Surra, maka pada daerah tersebut diberlakukan larangan pemasukan dan pengeluaran ternak, serta penyelenggaraan pasar hewan dan penggembalaan ternak pada siang hari;
  • Ternak yang telah sembuh akan mendapat surat keterangan dari dokter hewan yang berwenang dan ternak yang bersangkutan dapat dibebaskan dari isolasi;
  • Penyakit dapat dianggap telah lenyap dari suatu daerah setelah lewat 3 (tiga) bulan sejak kematian atau sembuhnya penyakit
  • Insektisida sebagai bahan untuk pemberantasan terhadap vektor dapat digunakan.

 

----------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

Pudjiatmoko, Syibli M, Nurtanto S, Lubis N, Syafrison, Yulianti S, Kartika D, Yohana CK, Setianingsih E, Efendi ND, Saudah E.2014. Manual Penyakit Unggas . Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

 

Batan IW. 2018. Penyakit Surra pada Sapi dan Sapi Bali di Indonesia. Lab Manajemen dan Penyakit Sapi Bali Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Denpasar, Bali

 

Nurcahyo W. 2017. Penyakit Surra pada Hewan dan Ternak. Samudra Biru (Anggota IKAPI). YogyakartaOIE, 2012. Trypanosoma evansi Infection (Surra). OIE Terrestrial Manual 2012. Chapter 2.1.17. Belgium. 2-15.

 

Hartawan A. 2018. Penyakit Surra (Trypanosomiasis) dan Pengendaliannya.
http://www.academia.edu/27815727/Penyakit_SURRA_Trypanosomiasis_dan_PENGENDALIANNYA