A-Z Penyakit Hewan Ternak

Retensi Plasenta

Retensi plasenta merupakan suatu kondisi dimana plasenta/selaput fetus menetap lebih lama dari 8 –12 jam di dalam uterus setelah kelahiran. Plasenta ruminansia memiliki tipe kotiledon dan merupakan organ yang berfungsi sebagai pertukaran metabolit antara konseptus dan induk. Plasenta berperan juga sebagai organ endokrin yang tersusun dari komponen fetus yaitu kotiledon dan komponen induk yaitu karunkula.

Secara fisiologis selaput fetus dikeluarkan dalam waktu 3-5 jam post partus, namun karena terjadinya kegagalan dalam pelepasan vili kotiledon fetal dari kripta karunkula maternal maka terjadi retensi plasenta. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti uterus paresis, aborsi, stres, terlambat melahirkan atau prematur, distoksia, kembar, status hormonal yang tidak seimbang, infeksi, faktor genetik, defisiensi vitamin dan mineral.

Faktor- faktor penyebab munculnya retensi plasenta berbeda antara suatu negara dan negara lainnya karena adanya perbedaan manajemen, kondisi lingkungan, temperatur, dan kontrol kondisi kesehatan pada suatu peternakan.

Gejala

Pada dasarnya retensi plasenta diakibatkan kegagalan pelepasan plasenta anak (vili kotiledon) dan plasenta induk (krypta caruncula). Penyebabnya adalah infeksi (yang menyebabkan uterus lemah untuk berkontraksi), pakan (kekurangan karotin, vitamin A) dan kurangnya exercise (sapi dikandangkan) sehingga otot uterus tidak kuat untuk bekontraksi.

Beberapa gejala klinis yang cukup jelas pada sapi yang mengalami retensi plasenta yaitu sebagian selaput fetus menggantung keluar dari vulva lebih dari 12 jam sesudah kelahiran normal, abortus atau distokia.

Persentase retensi plasenta yang menunjukkan gejala sakit kurang lebih 75%, tetapi kurang lebih 20% gejala metritis juga diperlihatkan seperti depresi, tidak ada nafsu makan, peningkatan suhu tubuh, frekuensi pulsus meningkat dan berat badan menurun. Adapun gejala lain yang nampak yaitu adanya keberadaan selaput fetus di dalam servik.

Penanganan dan Pencegahan

Penanganan pada kasus retensi plasenta bertujuan menghilangkan sisa-sisa plasenta dari saluran reproduksi untuk menghindari terjadinya infertilitas pada induk. Penanganan yang dapat dilakukan dengan pelepasan selaput fetus secara manual dan pemberian antibiotika spektrum luas (Oxytetracyclin, Chlortetracyclin atau Tetracyclin).

Pengobatan secara tradisional dapat dilakukan dengan pemberian daun waru dan daun bambu secara langsung atau melalui pakan. Selain itu, pemberian preparat hormon dan injeksi kolagenase juga bisa dilakukan. Treatment pengobatan yang akan diberikan pada kasus retensi plasenta pertama-tama harus memperhatikan adanya infeksi. Plasenta harus keluar karena akan mempengaruhi proses reproduksi selanjutnya.

Bakteri yang menempel pada plasenta akan masuk ke dalam organ reproduksi. Bakteri yang bisa menginfeksi sapi seperti Burucella Abortus, Tuberculosis Campylobacter Fetus dan berbagai jamur menyebabkan placentitis.

 

----------------------------------------------

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Affandhy, S.L., Pratiwi, W.C., dan Ratnawati, D. 2007. Petunjuk Teknis Penanganan Gangguan Reproduksi pada Sapi Potong. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan Badan Penelitian Dan Pengembangan Peternakan. Departemen Pertanian

 

Syarif, E.J. 2017. Studi Kasus Penanganan Retensi Plasenta pada Sapi Perah di PT.Ultra Peternakan Bandung Selatan. Skripsi, Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Hasanuddin.

 

Kuswati dan Susilawati, T. 2016. Industri Sapi Potong. UB Press, Malang.