A-Z Penyakit Hewan Ternak

Neosporosis (Aborsi pada Sapi)

Neosporosis adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh parasit intrasellular yang disebut Neospora caninum. Neosporosis merupakan salah satu penyebab utama aborsi pada sapi. Kejadian neosporosis dengan abortus dilaporkan lebih banyak menyerang sapi dewasa selama tiga bulan pertama kebuntingan dengan rata-rata kematian fetus terjadi pada 99-105 hari kebuntingan.

Spesies rentan terhadap Neospora caninum adalah sapi dan anjing. Ternak sapi merupakan hospes intermediat alami dan juga merupakan sumber penularan. Neospora caninum ditularkan secara vertikal dari induk ke anak tanpa gejala klinis berkisar 5-60% pada sapi. Alur penularan secara eksogenous dimulai dari feses anjing yang mengandung oosit tersporulasi terdapat pada pakan, termakan sapi yang sedang bunting, dan menyebabkan keguguran, mumifikasi atau cacat lahir.

Penularan secara endogenous (vertikal) terjadi melalui kelahiran yang sehat tetapi secara persisten terinfeksi Neospora caninum.

Gejala

Neospora caninum tidak memperlihatkan gejala klinis yang khas pada sapi. Keguguran (abortus) yang terjadi selama pertengahan kebuntingan merupakan gejala klinis yang termati pada sapi perah. Neosporosis menyebabkan abortus berulang-ulang dengan pola abortus yang bersifat sporadik, endemik maupun epidemik. Pada anjing, penyakit ini menyebabkan keguguranatau kelumpuhan pada anak saat dilahirkan.

Gejala klinis juga kadang baru mulai terlihat pada anak anjing umur 5−6 minggu berupa kelemahan otot motorik (paresis) yang dapat berlanjut ke kelumpuhan total (paralisis) pada kaki belakangnya.

Penanganan dan Pencegahan

Pengobatan yang dapat dilakukan terhadap penyakit Neosporosis, adalah :

  • Klindamisin (12,5-25 mg / kg PO atau IM setiap 12 jam selama 4 minggu).
  • Trimethoprim sulfadiazin (15-20 mg / kg PO setiap 12 jam selama 4 minggu) dalam kombinasi dengan pirimetamin (1 mg / kg PO setiap 24 jam selama 4 minggu).
  • Berbagai pasif latihan gerak dan pijat mungkin bermanfaat dalam beberapa kasus.

Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga sanitasi lingkungan sekitar untuk mengurangi penularan penyakit. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah mencegah kontaminasi pakan ternak dengan kotoran anjing.

 

----------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

Penanggulangan Penyakit Gangguan Reproduksi pada Sapi Potong. Balai Veteriner Bukit Tinggi 2014. http://www.bvetbukittinggi.info/files/gangguan-reproduksi-sumbar-riau-jambi-kepri.pdf

 

Thurmod MC, Picanso JP, Jameson CM. 1990. Considerations for Use of Descriptive Epidemiologyto Ivestigate Fetal Loss in Dairy Cows. J. AM. Vet. Med. Assoc. 197: 1305-1312

 

Anderson ML. 1999 Neospora in Cattle. Proc. Am. Assoc. Bov. Pract. (32), pp:161-166.

 

Laporan Kegiatan Penanggulangan Penyakit Gangguan Reproduksi Pada Sapi Potong Tahun 2014. http://www.bvetbukittinggi.info/files/0505150406_laporan-kegiatan-penanggulangan-penyakit-gangguan-reproduksi-pada-sapi-potong-tahun-2014.pdf

 

http://hartinasamo.blogspot.com/2015/06/neosporosis.html

 

Yanti YS. Makalah Kesehatan Ternak. http://www.academia.edu/8749127/Bab_I_makalah_kesehatan_ternak