A-Z Penyakit Hewan Ternak

Milk Fever

Milk fever disebut juga parturient paresis atau parturient hypocalcemia. Milk fever merupakan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalsium dalam darah. Penyakit ini umumnya terjadi pada sapi perah sekitar waktu partus dengan jangka waktu 3 hari atau beberapa bulan setelah melahirkan. Pada kondisi ini, sapi akan jatuh dan berbaring dengan kepala menghadap ke belakang (lipatan paha) sehingga menyebabkan sapi mengalami kelumpuhan.

Sapi yang mengalami milk fever tidak mampu beradaptasi dengan kebutuhan kalsium yang tinggi saat memasuki masa laktasi. Sapi yang lebih muda akan beradaptasi lebih cepat dibandingkan dengan sapi tua yang membutuhkan waktu yang lebih lama. Periode adaptasi biasanya membutuhkan waktu sekitar 48 jam tergantung dari umur sapi. Proses adaptasi dimulai dengan peningkatan konsentrasi paratiroid hormon (PTH) plasma dan 1,25 (OH)2 vitamin D yang sangat drastis. Kemudian diikuti oleh konservasi kalsium di dalam ginjal.

Kebutuhan kalsium sapi dalam jakan meningkat saat memasuki masa laktasi. Kolostrum yang dihasilkan oleh sapi mengandung kalsium 2,3 g/liter (susu mengandung kalsium 1,3 g/liter). Jika seekor sapi menghasilkan 10 liter kolostrum, maka terdapat 23 gram kalsium dalam kolostrum. Jumlah tersebut kira-kira 9 kali lipat dari seluruh jumlah kalsium di dalam plasma darah. Bila seekor sapi tidak mampu memenuhi kebutuhan kalsium yang akan dikeluarkan ke dalam kolostrum maka sapi akan mengalami milk fever.

Domba umumnya mengalami milk fever pada akhir kebutingan, sedangkan pada kambing terjadi sebelum partus atau pasca partus terutama pada kambing perah yang berproduksi tinggi.

Gejala

Gejala klinis ternak sapi yang menderita penyakit milk fever umumnya terjadi 24 jam pasca partus. Namun, bisa terjadi segera sebelum partus atau beberapa hari setelah partus. Pada stadium awal ternak tampak kaku, tidak bergerak, tremor, dan temperatur tubuh ternak masih normal.

Sapi juga menunjukkan gejala anoreksi, namun umumnya tidak begitu tampak karena berlangsung sangat singkat. Gejala akan semakin meningkat dan sapi ambruk sternal dengan kepala berada di daerah perut yang merupakan gejala khas milk fever (Gambar 1). Gejala yang lain adalah denyut jantung meningkat, mata sapi melotot, respon pupil menurun, hewan tampak mengalami bloat, konstipasi, dan depresi. Apabila ternak tidak diobati bisa menyebabkan koma dan mati.

Gejala pada domba biasanya ambruk dan paralisis. Namun kadang juga ditemukan tremor dan tetani. Pada domba jarang terjadi rebah sternal sebagaimana terjadi pada sapi. Gejala pada kambing mirip seperti pada domba.

Penanganan dan Pencegahan

Pengobatan untuk ternak yang mengalami penyakit milk fever yaitu memberikan pengobatan dengan menyuntikkan 250 – 500 ml kalsium boroglukonas secara intravenous (menyuntikkan ke dalam pembuluh darah). Setelah beberapa jam penyuntikan dengan obat tersebut biasanya sapi akan berdiri. Namun, dalam interval 8 – 12 jam sapi belum bisa berdiri, maka pengobatan dapat diulangi kembali.

Selain itu, pemberian vitamin D3 dengan dosis 20 – 30 juta IU per hari selama 3 – 7 hari sebelum partus. Induk sebaiknya tidak diperah dalam waktu 24 jam setelah diberikan pengobatan atau vitamin, dan pedet harus dipisah dari induk setelah minum kolostrum.

 

---------------------------------------------

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Sudono, A., Rosdiana, F.R., dan Setiawan, B.S. 2005. Cara Mengatasi Permasalahan Praktis, Beternak Sapi Perah secara Intensif. Agromedia Pustaka, Jakarta.

 

Triakoso, N. 2010. Buku Ajar, Imu Penyakit dalam Veteriner. CV. Putra Media Nusantara, Surabaya.

 

Triakoso, N. 2013. Penyakit Non Infeksius pada Ternak. Pengabdian pada Masyarakat Mahasiswa, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga.
https://www.researchgate.net/publication/301222871

 

Susilorini, T.E., Sawitri, M.E., dan Muharlien. 2007. Budi Daya 22 Ternak Potensial. Penebar Swadaya, Jakarta.