A-Z Penyakit Hewan Ternak

Mastitis Mikotik

Mastitis adalah peradangan pada jaringan internal ambing atau kelenjar mammae oleh mikroba, zat kimiawi dan luka akibat mekanis atau panas. Kasus ini biasanya terjadi akibat pengobatan antibiotika yang tidak terkontrol dan lingkungan perkandangan,s erta manajemen yang kurang baik dan kotor. Meskipun mastitis mikotik prevalensinya kecil namun diperkirakan dapat mencapai 2 – 3% dari keseluruhan kasus mastitis.

Mastitits mikotik disebabkan oleh mikroba jenis cendawan (kapang dan khamir). Penyebab mastitis mikotik golongan cendawan:

  1. golongan kapang yang bermiselium sejati (Aspergillus sp, Alternaria sp, Aerobasidium sp, Epicocum sp, Geotrichum sp, Penicillium sp, Phoma sp, dan Pichia sp),
  2. golongan khamir yang bersel satu dan tidak/bermiselium semu (Candida sp, Cryptococcus sp, Rhodoturrula spp, Trichosporon spp dan Saccharomyces spp).

Namun, umumnya kasus mastitis mikotik lebih sering disebabkan oleh khamir khususnya Candida sp yang tergolong grup organisme uniseluler oportunistik. Hewan yang rentan terhadap kasus mastitis mikotik adalah mamalia atau hewan yang menyusui anaknya, namun lebih sering terjadi pada hewan yang memproduksi susu dan diperah (sapi, kambing, kerbau dan kuda).

Penularan mastitis mikotik dapat terjadi dari alat perah, tangan pemerah, pakan yang terkontaminasi, lantai kandang, tanah, debu, dan sanitasi lingkungan yang buruk. Proses infeksi mastitis terjadi melalui beberapa tahapan, tahap awal kontak dengan mikroba (cendawan), kemudian mikroba tersebut mengalami multiplikasi di sekitar lubang puting (sphincter), setelah itu mikroba masuk ke dalam jaringan akibat lubang puting yang terbuka atau melalui luka.

Gejala

Secara klinis, adanya mastitis mikotik ini dapat diamati dan didiagnose melalui fenomena berikut : 1) Tanda-tanda klinis mastitis biasa berupa panas, bengkak, peradangan 2) Gejala klinis lainnya pada penderita seperti demam, kurang nafsu makan, kurus, serta produksi susu menurun 3) Pada mastitis kronis terjadi kegagalan usaha pengobatan dengan menggunakan antibiotika, yang berarti bahwa penyakitnya bukanlah mastitis bakterial melainkan mastitis mikotik.

Penanganan dan Pencegahan

Pengobatan dapat dilakukan dengan nistatin (dosis 10 g/kuartir) yang diaplikasikan melalui puting. Selain itu juga diberikan larutan desinfektan povidin iodin. Selain itu dapat diberikan amphotericin, clotrimazol, ketoconazole, fl uorocitonin,miconazol dan polimixin.

Pencegahan mastitis dapat dilakukan seperti hal-hal berikut ini:

  1. Memperbaiki lingkungan yang kotor agar menjadi baik dan bersih;
  2. Menghindari sapi digembalakan pada lingkungan yang kotor;
  3. Bila ada beberapa kasus mastitis maka harus diperhitungkan waktu pengobatan untuk proses penyembuhan;
  4. Bila ada riwayat induk telah terkena mastitis maka keturunannya yang telah dewasa diperiksa/ dirawat 1 bulan sekali;
  5. Melakukan prosedur pemerahan dengan baik dan benar. Hal ini dilakukan dengan cara:
    1. Mempersiapkan sapi-sapi yang bersih dan sehat serta bebas stress di lingkungannya;
    2. Memeriksa dan mendesinfektan alat pemerahan dan membersihkan ambing secara rutin;
    3. Mencuci puting ambing, dan permukaan bawah ambing dengan larutan sanitasi yang hangat;
    4. Melakukan dipping puting sebelum pemerahan minimal selama 1 menit;
    5. Mengeringkan puting secara menyeluruh; (f) Mengatur dan memasang mesin alat pemerah otomastis dengan benar;
  6. Dalam mengobati harus sampai tuntas dan area pengobatan harus bersih;
  7. Melaksanakan metode kering kandang;
  8. Melakukan culling untuk sapi penderita mastitis kronis;
  9. Nutrisi harus diberikan dengan baik dan benar;

Pengendalian dan pemberantasan dapat dilakukan dengan mengisolasi hewan penderita, memisahkan antara hewan sehat dan hewan sakit. Pada kasus yang sudah parah sebaiknya hewan diafkir.

 

---------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

Pudjiatmoko, Syibli M, Nurtanto S, Lubis N, Syafrison, Yulianti S, Kartika D, Yohana CK, Setianingsih E, Efendi ND, Saudah E.2014. Manual Penyakit Unggas . Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

 

Ahmad RZ. 2011. Mastitis Mikotik Di Indonesia. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2011

 

Hastiono S. 1984. Mastitis mikotik, radang Kelenjar susu oleh cendawan Pada ternak perah. WARTAZOA Vol. 1 No. 4, Juli 1984