A-Z Penyakit Hewan Ternak

Ketosis (Acetonemia)

Ketosis atau Acetonemia biasanya terjadi pada sapi perah di masa awal laktasi dimana penyebab utama penyakit ini belum bisa ditentukan. Ketosis bisa disebabkan adanya gangguan metabolisme karbohidrat atau fungsi kelenjar adrenal yang tidak efisien. Adapun faktor utama terjadinya penyakit ini yaitu kebutuhan glukosa yang tinggi untuk mempertahankan produksi laktosa dan konsumsi pakan yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Penyakit ketosis terjadi pada sapi yang berproduksi susu tinggi dan gejalanya 10 hari sampai 6 minggu sesudah beranak. Penyakit ini lebih banyak menyerang sapi dewasa dari pada sapi yang sudah beranak satu kali.

Gejala

Gejala yang ditimbulkan ketika ternak terserang penyakit ketosis adalah sapi tampak lesu, penurunan nafsu makan, produksi susu menurun drastis, gerakan tubuh tidak koordinatif, menjilat-jilat dan memakan benda asing, bisa mengakibatkan terjadinya penurunan berat badan dan depresi. Selain itu, tercium bau aseton dari susu, air kencing, dan napas sapi. Darah sapi yang menderita penyakit ketosis mengandung aseton dalam kadar tinggi, sedangkan glukosa rendah.

Ternak akan pulih dengan sendirinya bila memperoleh pakan yang baik dan cukup. Pada gejala syaraf, sapi akan mengalami kejang-kejang dan gejala syaraf yang lain secara bervariasi (hipersalivasi, berputar-putar, disorientasi, hiperestesia, head pressing, depresi) akibat gangguan hepar. Jika tidak segera diobati dengan benar biasanya sapi akan mati.

Penanganan dan Pencegahan

Penanganan bisa dilakukan dengan penyuntikan hormon Adrenokortikotropik (ACTH) atau dengan Corticosteroid (Corticotropin atau Corticosterone). Selain itu, penyuntikan cairan glukosa 50% yang dilakukan secara intravenous untuk meningkatkan kadar gula dalam darah. Memberikan larutan dekstrosa 50% sebanyak 500 ml dengan cara infus.

Pencegahan yang bisa dilakukan yaitu memberikan pakan konsentrat melebihi kebutuhan pada saat periode kering, 2 minggu menjelang beranak, dan 2 minggu setelah beranak. Selain itu, pemberian Na-propionate atau Pro-pylene Glycol dalam pakan konsentrat. Memberikan beberapa zat aditif pakan seperti niasin, kalsium, propionat, natrium propionat, dan propilen glikol. Pemberian zat aditif diberikan dalam 2 – 3 minggu terakhir dari masa kebuntingan serta selama periode rentan terserang penyakit ketosis.

 

-----------------------------------------------

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Sudono, A., Rosdiana, F.R., dan Setiawan, B.S. 2005. Cara Mengatasi Permasalahan Praktis, Beternak Sapi Perah secara Intensif. Agromedia Pustaka, Jakarta.

 

Susilorini, T.E., Sawitri, M.E., dan Muharlien. 2007. Budi Daya 22 Ternak Potensial. Penebar Swadaya, Jakarta.

 

Tim Penulis Agriflo. 2012. Sapi dari Hulu ke Hilir dan Info Mancanegara. Penebar Swadaya, Jakarta.

 

Triakoso, N. 2013. Penyakit Non Infeksius pada Ternak. Pengabdian pada Masyarakat Mahasiswa, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga.
https://www.researchgate.net/publication/301222871