A-Z Penyakit Hewan Ternak

Keracunan Urea

Keracunan urea merupakan salah satu kondisi yang umum ditemukan pada ruminansia terutama sapi. Keracunan dapat terjadi secara berkala saat ruminansia diberikan campuran pakan yang mengandung urea dalam jumlah besar tanpa adaptasi terlebih dahulu. Urea di dalam rumen akan dimanfaatkan oleh mikroba dan menghasilkan amonia.

Di dalam tubuh ternak, amonia adalah zat beracun yang dapat menyebabkan kondisi ensefalopati hepatik, dimana ternak menunjukkan gejala kejang-kejang karena gangguan sistem syaraf pusat akibat adanya akumulasi amonia di dalam tubuh ternak (hiperamonemia).

Pemberian urea dengan jumlah 45-50 gram/100 kg BB dalam waktu singkat akan berakibat fatal bagi ternak yang belum diadaptasi dengan pemberian urea secara bertahap. Pemberian urea sebaiknya tidak lebih 3% dari konsentrat atau 1% dari total asupan pakan. Pada sapi, pemberian 0,3 - 0,5 g/kg BB/hari sudah bersifat toksik, sedangkan 1 - 1.5 g/kg BB/hari akan berakibat fatal.

Diagnosis keracunan urea pada ternak dapat dilakukan dengan memeriksa kadar amonia di dalam darah. Kadar amonia serum biasanya lebih tinggi dari 86 mmol/l dan kadar amonia di dalam rumen 957 - 1825 mg/l dan pH rumen > 7,5. Diferensial diagnosis yaitu penyakit yang menyebabkan kematian mendadak (botulisme yang disertai defisiensi fosfor, hipomagnesemia, antraks, black leg).

Gejala

Gejala klinis penyakit ini muncul dalam 15 menit hingga beberapa jam setelah keracunan urea. Ternak akan mengalami hipersalivasi dan berbuih, gigi menggeretak karena adanya rasa sakit, dehidrasi, dan rasa sakit daerah abdomen disertai bloat (kembung). Selain itu, hewan menunjukkan peningkatan frekuensi respirasi, sering urinasi, dan hewan akan kejang serta ambruk dan bisa menyebabkan kematian.

Gejala klinis pada sapi akan muncul 20 - 60 menit setelah mengonsumsi urea, sedangkan pada domba gejala tersebut muncul setelah 30 - 90 menit. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya peningkatan tajam kadar amonia darah dan kenaikan pH rumen sekitar 8 yang mengakibatkan fungsi normal rumen akan berhenti.

Penanganan dan Pencegahan

Penanganan dapat dilakukan dengan pemberian larutan asam asetat 5-10% secara oral. Pemberian tersebut kemudian diulang 2 – 3 jam dengan jumlah setengah dosis awal. Penanganan kasus keracunan urea untuk sapi dewasa dan kerbau dapat dengan pemberian asam asetat 4 liter peroral dan dapat diulang setiap 20-30 menit sampai gejala hilang. Namun demikian, pengobatan menggunakan asam asetat dengan konsentrasi lebih dari 10% tidak dianjurkan karena akan menimbulkan iritasi pada esofagus.

Lebih lanjut, terapi cairan juga diberikan untuk mengencerkan toksin yang berada dalam sirkulasi darah. Sedangkan antibiotik, antihistamin, dan kortikosteroid diberikan untuk mencegah munculnya akibat sekunder. Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari pemberian pakan yang mengandung urea lebih banyak, sebaiknya pemberian urea tidak lebih 3% dari konsentrat atau 1% dari total asupan pakan.

 

--------------------------------------------- 

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Kertz, A. F. 2010. Review: Urea Feeding to Dairy Cattle: A Historical Perspective and Review. The Professional Animal Scientist 26 (3): 257-272. doi.org/10.15232/S1080-7446(15)30593-3

 

Shaikat, A.H., Hassan, M.M., Azizul Islam, S. K. M., Khan, S.A., Hoque, A., Islam, N. dan Hossain, M.B. 2012. Non-protein nitrogen compound poisoning in cattle.Univ. j. zool. Rajshahi Univ. 31: 6568. DOI: http://dx.doi.org/10.3329/ujzru.v31i0.15403

 

Sharma, S.K., Joshi, M., Kumar, K. dan Parmjeet. 2017. Acute Urea Poisoning in Buffaloes: Case Study Research & Reviews: Journal of Veterinary Sciences. 3 (1): 1-5.

 

Thompson, L.J. 2014.Overview of non-protein nitrogen poisoning.The Mercks Veterinary Manual.Merck & Co., Inc. White house station, N.J., U.S.A.

 

Triakoso, N. 2013. Penyakit Non Infeksius pada Ternak. Pengabdian pada Masyarakat Mahasiswa, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga.
https://www.researchgate.net/publication/301222871