A-Z Penyakit Hewan Ternak

Hypomagnesaemia (Grass Tetany )

Grass tetany adalah rendahnya kadar magnesium darah (hipomagnesemia) akibat rendahnya asupan magnesium atau kehilangan magnesium, misalnya saat laktasi. Penyakit ini bersifat fatal pada ruminansia yang berlangsung secara cepat tanpa adanya gejala klinis sebelum kematian pada ternak.

Pada kondisi normal kadar Mg dalam plasma adalah 1,7-3,2 mg/dL, hipomagnesemia terjadi bila kadar Mg plasma adalah 1,0-1,7 mg/dL dan kondisi grass tetany bila kadar Mg plasma kurang dari 1,0 mg/dL. Grass tetany disebut juga hypomagnesaemia akut, hypomagnesaemia tetany, laktasi tetany dan grass staggers

Grass tetany sering dijumpai pada ternak yang digembalakan di lapangan. Sapi yang dikandangkan dan diberi ransum konsentrat serta rumput kering jarang mengalami grass tetany.

Sapi yang sedang laktasi paling peka terhadap penyakit ini. Masa laktasi dapat meningkatkan kebutuhan magnesium sehingga sapi laktasi menjadi berisiko untuk mengalami grass tetany. Masalah utama adalah tidak cukupnya asupan magnesium dari pakan yang disertai dengan beberapa faktor lainnya karena terbatasnya penyerapan magnesium dari usus.

Faktor lain yang dapat memicu grass tetany adalah pemberian ransum yang mengandung banyak tanaman muda. Tanaman muda yang tumbuh subur akan mengandung kalsium yang tinggi namun rendah kandungan magnesium. Hal ini dikarennakan pemupukan dengan kadar tinggi Nitrogen atau KCl yang berlebihan memicu rendahnya absorbsi magnesium oleh tanaman.

KCl yang tinggi baik pada pakan atau pada tanaman menyebabkan rendahnya kadar Mg dan Ca. Grass tetany tidak terjadi pada ternak yang mengkonsumsi leguminosa atau campuran rumput dengan leguminosa, karena kandungan Mg pada leguminosa sangat tinggi.

Gejala 

Penyakit grass tetany berlangsung secara akut berat, subakut, dan ringan. Pada kasus akut berat, ternak mati mendadak atau kejang kemudian mati tanpa adanya gejala klinis. Sapi terlihat berlari-lari secara liar dan kemudian jatuh dengan gejala konvulsi.

Bila kesembuhan sementara terjadi dapat diikuti dengan konvulsi yang lebih parah kemudian kematian. Gejala akut lainnya yang mungkin terlihat adalah hyperthermia, kontraksi otot yang parah serta detak jantung yang tidak teratur.

Pada kasus sub akut, sapi akan mengalami gangguan seperti gagal makan dan hipersensitif. Sapi akan terlihat galak serta sulit untuk dipegang dan gejala ini akan berlangsung untuk beberapa hari sampai memasuki stadium konvulsi. Pada kasus ringan, wajah ternak tampak menegang atau tidak mampu bergerak selama 3-4 hari sebelum pulih atau justru lebih parah. 

Penanganan dan Pencegahan 

Penanganan untuk penyakit grass tetany adalah dengan memberikan pengobatan dan terapi magnesium. Larutan magnesium sulfat 25% sebanyak 400 ml dapat diberikan secara oral. Larutan ini juda dapat diberikan secara subkutan apabila ternak dapat dipegang atau diikat, dan hindari pemberian secara intravena karena dapat mempercepat timbulnya serangan jantung yang bersifat fatal.

Pada saat yang sama, terutama bila terlihat gejala spasmus, dapat diberikan sedativa untuk menenangkan hewan dan mengurangi risiko serangan jantung, kemudian diberikan kombinasi preparat magnesium dan garam Ca secara perlahan melalui intravena. Hal penting yang harus dilakukan adalah mengendalikan kejang (seizure) yang terjadi karena dapat bersifat fatal.

Pemberian pentobarbitone (3 mg/kg; 8–10 ml of 200 mg/ml pada sapi dewasa) secara bolus intravena. Selain itu, bisa juga diberikan xylazine (0,05 mg/kg i/v [15 ml dari 2% larutan]) atau acetylpromazine (0,05 mg/kg i/v [3 ml dari 10 mg/ml ACP]) namun kurang begitu efektif mengendalikan seizure yang terjadi.

Pemberian magnesium hanya untuk meningkatkan kadar magnesium plasma selama 6-12 jam, oleh sebab itu harus diberikan pakan yang cukup mengandung magnesium. Ternak yang ambruk lebih dari 12 jam, sulit untuk pulih kembali.

Secara umum, beberapa faktor yang perlu diperhatikan pemberan pakan pada ternak untuk menghindari penyakit grass tetany ini, antara lain :

  1. Rumput muda mengandung magnesium yang lebih rendah dibandingkan dengan rumput tua atau kering
  2. Rumput dengan daun tunggal dan ramping mengandung magnesium lebih rendah daripada rumput dengan daun jamak (multiple) dan lebar
  3. Pemupukan rumput dengan nitrogen dan kaliurn dapat menghambat penyerapan magnesium oleh tanaman dan juga mencegah penyerapan magnesium oleh mukosa usus
  4. Diet kalsium yang berlebihan dapat menghambat absorbsi magnesium, dan oleh sebab itu pengapuran lahan rumput dapat meningkatkan potensi tetany pada sapi yang digembalakan
  5. Pakan yang mengandung protein tinggi yang meningkatkan kandungan amonia dalam rumen dapat menghambat penyerapan magnesium, akibat terjadinya presipitasi magnesium amonium forsfat
  6. Beberapa jenis pengikat mineral (magnesium) terdapat di dalam saluran pencerapan hewan, seperti asam ketobutirat atau asam transakonitat

Tindakan pencegahan untuk mencegah penyakit grass tetany yaitu dengan memberikan suplemen magnesium pada masa-masa kritis seperti pada musim hujan dan penggembalaan pada rumput yang basah. Suplementasi magnesium dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain:

  1. Meningkatkan kadar calcined magnesite (MgO) di dalam konsentrat menjadi 60 g setiap 5,5 kg konsentrat (1,09 %)
  2. Menggunakan bolus magnesium yang diberikan secara oral
  3. Suplementasi preparat magnesium melalui air minum dengan dosis 60 g/ekor/hari
  4. Memberikan akses mineral magnesium kadar tinggi
  5. Penyemprotan rumput dengan calcined magnesite setiap dua atau tiga hari
  6. Perbaikan kandungan magnesium pada rumput melalui penggunaan campuran legum, penambahan calcined magnesium pada tanah berpasir dan pH rendah, menghindari penggunaan pupuk yang mengandung kalium tinggi dan pengapuran tanah secara teratur
  7. Memberikan rumput kering (hay) setiap hari sebelum rumput mengalami kekeringan 

 

-------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

Martindah, N., Sani, Y., dan M. Noor, S. Penyakit Endemis pada Sapi Perah dan Penanggulangannya.


Triakoso, N. 2013. Penyakit Non Infeksius pada Ternak. Pengabdian pada Masyarakat Mahasiswa, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga.
https://www.researchgate.net/publication/301222871