A-Z Penyakit Hewan Ternak

Hipoplasia Ovaria (Kemandulan pada Sapi)

Hipoplasia ovaria merupakan penyakit gangguan reproduksi dimana indung telur (indung telur) tidak mengalami perkembangan yang disebabkan oleh faktor genetik. Hipoplasia ovaria dapat terjadi secara unilateral maupun bilateral. Secara perrektal indung telur akan teraba kecil, pipih dengan permukaan berkerut.

Ternak betina dengan hipoplasia unilateral (salah satu ovarium) dapat memperlihatkan siklus berahi yang normal, tapi sebaiknya tidak dipakai sebagai induk karena penyakit ini bisa menurun. Sedangkan apabila ternak mengalami hipoplasia bilateral (kedua ovarium) maka ternak akan bersifat steril.

Hipoplasia ovaria disebabkan oleh gen autosomal yang bersifat resesif dengan penetrasi yang tidak lengkap pada homozigot. Gen ini mempengaruhi sapi betina dan sapi jantan dalam perbandingan yang sama. Ovarium yang mengalami hipoplasia bisa secara parsial atau total.

Gejala

Sapi akan menunjukkan gejala anestrus (tidak pernah berahi) terutama pada kasus hypoplasia bilateral. Selain itu, ovarium memiliki ukuran yang kecil sehingga akan sulit untuk diraba. Pada beberapa kasus yang parah ovarium akan berbentuk seperti pita yang sedikit menebal pada bagian kranial dari ligamentum. Pada sapi yang menderita hipoplasia bilateral secara total maka sapi akan menunjukkan pelvis yang sempit, ambing tidak berkembang dengan puting kecil, uterus kecil dan keras.

Penanganan dan Pencegahan

Penyakit gangguan reproduksi dapat diantisipasi dengan memperhatikan beberapa faktor, yaitu :

  • Seleksi genetik pada ternak.
  • Manajemen pakan yang baik sehingga mendukung kesuburan saluran reproduksi.
  • Manajemen kesehatan meliputi kesehatan sapi, program pengobatan dan vaksinasi, kebersihan kandang dan lingkungan (sanitasi dan desinfeksi), sehingga dapat meminimalisir agen patogen (bakteri, virus, jamur, protozoa) yang dapat menganggu kesehatan sapi.
  • Penanganan masalah reproduksi dengan prosedur yang baik dan benar sehingga mengurangi kejadian trauma fisik, yang akan menjadi faktor predisposisi gangguan reproduksi.

 

----------------------------------------------

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Affandhy, S.L., Pratiwi, W.C., dan Ratnawati, D. 2007. Petunjuk Teknis Penanganan Gangguan Reproduksi pada Sapi Potong. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan Badan Penelitian Dan Pengembangan Peternakan. Departemen Pertanian

 

Adnan, A. dan Ramdja, N. 1986. Fisio-Patologi Anatomi Ovarium Sapi dan Aktivitas Hormonalnya. Fakultas Kedokteran Hewan, IPB. Media Peternakan, 11 : 14 – 36.

 

Yulianto, P., dan Saparinto, C. 2014. Beternak Sapi Limousin, Panduan Pembibitan, Pembesaran, dan Penggemukan. Penebar Swadaya, Jakarta.

 

Kuswati dan Susilawati, T. 2016. Industri Sapi Potong. UB Press, Malang.