A-Z Penyakit Hewan Ternak

Foot and Mouth Disease (FMD)/(Penyakit Mulut & Kuku)

Foot and Mouth Disease (FMD) atau Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari genus Aphthovirus, familia Picornaviridae. Virus FMD memiliki tujuh serotipe yaitu O, A, C, Asia 1, SAT 1, SAT 2 dan SAT 3, namun secara klinis serotipe ini tidak dapat dibedakan. Virus FMD menginfeksi berbagai ternak seperti sapi, kerbau, domba, kambing, unta dan babi.

Penyakit eksotik ini berasal dari luar negeri dan kejadiannya sampai sekarang belum ditemukan atau sudah tidak terjadi lagi kasus tersebut di Indonesia. Kejadian FMD pertama kali dilaporkan tahun 1887 di Malang kemudian menyebar ke Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara. Tahun 1962 kembali muncul di Bali akibat masuknya ternak secara illegal dari Jawa Timur dan berakhir tahun 1966.

Tahun 1983 terjadi wabah di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta dalam waktu 2 minggu menyebar ke seluruh Pulau Jawa melalui perpindahan ternak dan perdagangan daging. Kebijakan pemerintah untuk mengendalikan penyakit ini adalah dengan melakukan vaksinasi massal serta mengontrol jalur perpindahan ternak serta produk asal hewan ternak.

Pada tahun 1974-1983, dengan pemberian vaksinasi pada ternak maka terjadi penurunan kasus FMD. Status bebas FMD dimulai dari Bali (1978), Jawa Timur (1981), kemudian Sulawesi Selatan (1983), Indonesia dinyatakan bebas dari FMD tahun 1986.

Gejala

Virus FMD memiliki masa inkubasi yang berkisar 2-14 hari tergantung cara masuk virus pada ternak. Gejala klinis yang ditimbulkan pada ternak akibat infeksi virus FMD dapat bevariasi tergantung galur virus FMD. Gejala klinis yang pertama muncul adalah kenaikan suhu tubuh ternak yang diikuti lemas, nafsu makan turun, terbentuk vesikula atau lepuh pada lidah dan daerah celah kuku.

Lepuh yang terbentuk di lidah akan pecah menyebabkan terjadinya hipersalivasi (air liur berlebihan) yang berwarna bening menggantung pada bibir. Hal ini menyebabkan ternak kehilangan nafsu makan sehingga berat badan akan menurun drastis, sedangkan pada ternak perah akan mengalami produksi susu yang menurun. Lepuh dapat terlihat pada permukaan bibir sebelah dalam, guzi, lidah bagian samping dan belakang. Selain itu, pada sapi lepuh dapat ditemukan pada puting dan kelenjar susu. Lepuh yang terdapat pada celah kuku menjadi bengkak, merah dan panas yang akan menyebabkan ternak menjadi pincang.

Ternak pekerja ketika terinfeksi virus FMD tidak akan bisa digunakan untuk membajak sawah. Lepuh-lepuh yang terbentuk akan mudah pecah sehingga isinya keluar dan meninggalkan keropeng bersisik. Hal ini akan menyebabkan infeksi sekunder yang menunda kesembuhan penyakit. Pada babi, lepuh yang terbentuk selain di daerah lidah dan kuku, lepuh ditemukan pada pinggir cungur (snout).

Penanganan dan Pencegahan

Tindakan pencegahan dan penanganan terhadap wabah FMD, tergantung pada perkiraan besarnya kerugian yang akan dialami dan kemampuan suatu negara. Inggris melakukan tindakan stamping out yaitu membunuh hewan yang tertular dan hewan lain yang berdekatan kemudian mengubur bangkainya di daerah peternakan tersebut.

Selain itu, perdagangan hewan ditutup dan melakukan proses densinfeksi dengan larutan asam atau basa tertentu pada kandang ternak sebelumnya. Pemerintah di Indonesia memilih cara immunisasi massal terhadap semua ternak yang peka terhadap virus FMD selama tiga tahun di pulau tertular. Vaksin yang digunakan untuk mencegah wabah FMD adalah vaksin inaktif dari galur virus yang sesuai.

 

----------------------------------------------

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Balai Veteriner Bukit Tinggi. 2014. Laporan Pelaksanaan Kegiatan, Penyakit Eksotik dalam Rangka Kegiatan Perlindungan Hewan terhadap Penyakit Eksotik (PML Dan BSE). Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
http://bvetbukittinggi.ditjennak.deptan.go.id

 

Soeharsono. 2005. Zoonosis, Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia, Volume 2. Kanisius, Yogyakarta.