A-Z Penyakit Hewan Ternak

Fasciolosis (Cacing Hati)

Fasciolosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh parasit cacing trematoda Fasciola gigantica dan Fasciola hepatica. Penyakit ini bisa menyerang ternak sapi, kerbau, kuda atau ruminansia kecil. Cacing tersebut bermigrasi dalam parenkim hati, berkembang dan menetap dalam saluran empedu.

Siput Lymnaea rubiginosa merupakan inang antara dari acing ini. Cacing F. gigantica terdapat di daerah tropis, berukuran 25-27x 3-12 mm. Cacing F. hepatica ditemukan di daerah yang beriklim sedang dengan ukuran 20-30x10 mm. Kedua spesies cacing tersebut bersifat hematopagus atau pemakan darah. Telur F. gigantica berukuran 160-196x90 -100 mm dan telur F. hepatica berukuran 130-148x60-90 mm.

Indonesia merupakan negara beriklim tropis basah, sehingga sangat cocok untuk perkembangan-biakan cacing hati F. gigantica. Telur Fasciola sp. dapat bertahan selama 2-3 bulan dalam keadaan yang lembab (dalam feses) dan cepat mengalami kerusakan apabila berada dalam keadaan yang kering. Larva cacing Fasciola sp. dapat bertahan selama 10-18 bulan dalam tubuh siput.

Sedangkan metaserkaria yang menempel pada rerumputan mampu bertahan hidup antara 3-6 bulan apabila berada di tempat yang teduh dengan lingkungan yang lembab. Metaserkaria tersebut akan cepat mati bila berada di tempat yang panas dan kering. Cacing dewasa yang terdapat di dalam hati hewan dapat hidup selama 1-3 tahun.

Gejala

Gejala klinis yang ditimbulkan oleh penyakit fasciolosis adalah rasa sakit di daerah hati, sakit perut, diare, demam dan anemia. Pada sapi dan domba terjadinya fibrosis hepatis dan peradangan kronis pada saluran empedu. Selanjutnya, terjadi gangguan pertumbuhan, penurunan produksi susu dan berat badan.

Berat ringannya fasciolosis tergantung pada jumlah metaserkaria yang tertelan dan infektifitasnya. Bila metaserkaria yang tertelan sangat banyak mengakibatkan kematian pada ternak sebelum cacing tersebut mencapai dewasa.

Ada 2 bentuk gejala klinis fasciolosis secara umum, yaitu:

  • Bentuk akut :Fasciolosis dalam bentuk akut disebabkan adanya migrasi cacing muda di dalam jaringan hati, sehingga menyebabkan kerusakan jaringan hati. Pada serangan akut, akan terjadi perdarahan dari hidung dan anus, hewan mati mendadak tanpa gejala. Ternak menjadi lemah, nafas cepat dan pendek, perut membesar dan rasa sakit.
  • Bentuk kronis :Fasciolosis dalam bentuk kronis ditandai dengan adanya edema di rahang bawah (submandibularis) pada ruminansia. Pada serangan kronis, ternak umumnya mengalami diare, kurus dengan cepat, lemah, anemia, bulu tampak kering dan kusam. Cacing F. gigantiga mencapai dewasa 4-5 bulan setelah infestasi, gejala yang nampak adalah anemia, sehingga menyebabkan ternak lesu, lemah, nafsu makan menurun, cepat mengalami kelelahan, membrana mukosa pucat, diare dan edema di antara sudut dagu dan bawah perut, ikterus dan kematian dapat terjadi dalam waktu 1-3 bulan.

Penanganan dan Pencegahan

Penanganan ternak yang menderita fasciolosis yaitu dengan pemberian obat :

  • Nitroxinil dengan dosis 10 mg/kg untuk sapi, kerbau dan domba, dengan daya bunuh sangat efektif (100%) pada infestasi setelah 6 minggu. Namun pengobatan dengan obat ini perlu diulang 8-12 minggu setelah pengobatan pertama.
  • Rafoxanide dengan dosis 10 mg/kg untuk domba, 10-15 mg/kg untuk sapi. Obat ini efektif untuk mengobati cacing trematoda dan nematoda, baik cacing muda maupun dewasa.
  • Mebendazol dengan dosis 100 mg/kg efektif (94 %) untuk membunuh cacing hati dan cacing nematoda.

Pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian obat cacing secara periodik dan diberikan minimal 2 kali dalam 1 tahun. Pengobatan pertama dilakukan pada akhir musim hujan dengan tujuan untuk mengeliminasi migrasi cacing dewasa, sehingga selama musim kemarau ternak dalam kondisi yang baik dan juga menjaga lingkungan, terutama kolam air, agar selama musim kemarau tidak terkontaminasi oleh larva cacing. Pengobatan kedua dilakukan pada akhir musim kemarau dengan tujuan untuk mengeliminasi cacing muda yang bermigrasi ke dalam parenkim hati.

Pencegahan lainnya adalah perbaikan tata cara pemberian pakan pada ternak dengan menghindari pengambilan jerami yang berasal dari sawah dekat kandang. Bila mengambil jerami yang terdapat di dekat kandang maka harus diambil dengan pemotongan minimal 30 cm dari permukaan tanah. Selain itu, perlu dikeringkan dengan cara dijemur, minimal 3 hari di bawah sinar matahari. Pemberantasan siput air merupakan bagian penting dalam pengendalian dan pencegahan penyakit ini dalam memutus siklus hidup Fasciola sp.

 

----------------------------------------------

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Triakoso, N. 2011. Penyakit Zoonosis Pada Ternak. Research Gate, DOI: 10.13140/RG.2.1.5180.7123.
https://www.researchgate.net/publication/301226210

 

Pudjiatmoko, Syibli, M., Nurtanto, S., Lubis, N., Syafrison, Yulianti, S., Kartika, D.N., Yohana, C.K., Setianingsih, E., Nurhidayah, Efendi, D., dan Saudah, E. 2014. Manual Penyakit Hewan Mamalia. Subdit Pengamatan Penyakit Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Jakarta.