A-Z Penyakit Hewan Ternak

Erysipelas

Pada hewan babi disebut juga Rosenbach’s erysipeloid, erytema migrans, erysipelotrichosis, rose disease dan pada manusia disebut fish handler’s disease. Erysipelas adalah salah satu penyakit menular pada hewan yang disebabkan oleh bakteri Erysipelothrix rusiopathiae atau Erysipelathrix insidiosa.. Penyakit ini juga bersifat zoonosis (dapat menular kepada manusia).

Spesies rentan adalah babi, domba, kalkun, dan unggas lain, karnivora, serta kuda sedangkan pada sapi kurang peka. Erysipelas pada babi biasanya menimbulkan bercak-bercak merah pada kulit sehingga sering disebut “diamond skin disease”. Disamping itu, erysipelas dapat menimbulkan polyarthiritis pada babi.

Penularan dapat melalui reservoir, yaitu:

  • Semua hewan yang terinfeksi
  • Tanah bekas peternakan babi yang pernah terserang erysipelas
  • Tempat pembuangan kotoran hewan dan kotoran dari RPH, empang dan pasar ikan
  • Tikus liar, tikus rumah dan rodensia lainnya yang hidup ditempat-tempat tersebut diatas,
  • Daging asal babi sakit (pemotongan gelap), sebelum maupun sesudah mengalami proses penggaraman, pengasaman atau pengasapan
  • Ikan dan tepung ikan.

Penularan pada hewan dapat terjadi lewat saluran pencernaan atau secara oral, lewat kulit yang tidak utuh atau secara kutan dan intrauterin. Ektoparasit seperti kutu anjing, caplak dan lalat dapat bertindak sebagai vektor mekanik. Pada manusia cara penularan dapat terjadi melalui kulit atau secara kutan.

Gejala

Penyakit Erysipelas dapat bersifat akut, subakut atau khronis. Bentuk ini mungkin bisa muncul bersamaan dalam atau muncul terpisah.

  • Bentuk akut dimulai dengan demam yang tinggi. Beberapa hewan menderita kelemahan, anoreksia, dan muntah-muntah, sementara yang lainnya berusaha untuk mendapatkan makanan meskipun mengalami demam tinggi. Pada beberapa hewan, titik-titik berwarna ungu kemerahan terlihat di kulit, terutama di telinga. Ditemukan juga splenomegali dan pembengkakan nodus limfa. Pada tahap terakhir erysipelas septikemik, gejala yang paling jelas adalah dipsnoe dan diare. Penyakit ini berlangsung cepat dan mortalitas biasanya sangat tinggi.
  • Bentuk subakut ditandai dengan urtikaria, yang pada awalnya terlihat titik-titik di kulit yang berbentuk jajaran genjang dan berwarna ungu atau kemerahan. Titik-titik ini ditem ukan terutama di bagian abdomen, bagian sebelah dalam paha, leher, dan telinga. Bekas titik-titik ini akhirnya berlanjut menjadi nekrosis, kering, dan akan runtuh.
  • Bentuk kronis ditandai dengan arthritis. Pada awalnya, persendian bengkak dan jika digerakan akan terasa sakit; kemudian, luka akan berkembang menjadi ankilosis. Kerugian-kerugian yang disebabkan oleh arthritis sangat terasa karena perkembangan dan pertambahan berat badan hewan menjadi terpengaruh dan karena mereka mungkin dikeluarkan dari rumah potong hewan. Bentuk kronis mungkin terlihat sebagai endokarditis. Dengan emasiasi yang sangat dan kematian yang tiba-tiba. Limfadenitis adalah manifestasi lain dari bentuk kronis.

Penanganan dan Pencegahan

Pengobatan dapat dilakukan menngunakan serum kebal, untuk tujuan profilaksis dan pengobatan.

  • Diberikan 5 ml serum untuk hewan yang beratnya sama dengan atau kurang dari 50 kg. Untuk tiap kenaikan berat badan 10 kg di atas 50 kg diberikan tambahan 1 ml serum.
  • Imunitas yang ditimbulkan tidak lebih dari 15 hari.

Pengendalian erysipelas pada babi kebanyakan tergantung pada vaksinasi. Ada dua vaksin yang baik untuk terlindungi dari penyakit ini, adsorben bakteri di alumunium hidroksi, dan vaksin hidup yang avirulen (EVA = erysipelas vaccine avirulent).

Tindakan higiene juga menjadi penting untuk pencegahan seperti : 

  1. Untuk menekan jumlah pencemaran maka harus diadakan sistem drainase perkandangan yang lancar, disediakan tempat khusus untuk pembuangan kemih dan feses, lantai kandang harus terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan.
  2. Bila ada hewan yang mati karena erysipelas harus dibakar dan semua peralatan bekas pakai harus disinfektan.

 

-----------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

Pudjiatmoko, Syibli M, Nurtanto S, Lubis N, Syafrison, Yulianti S, Kartika D, Yohana CK, Setianingsih E, Efendi ND, Saudah E.2014. Manual Penyakit Unggas . Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

 

Chotiah S. 1998. Parogenisitas Isolat Lokal Erysipelothrix rhusiopathiae Serotipe-serotipe 1, 2, 6, 11, 12, dan Tipe N. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol. 3 No. 4 Th. 1998

 

Moenek DYJA. Erysipelas pada Hewan dan Erysipeloid pada Manusia (Sebuah Zoonosis). Artner, Tahun 16 Nomor 2, Halaman 88-94