A-Z Penyakit Hewan Ternak

Enterotoksemia

Enteroksemia merupakan penyakit yang menyebabkan kematian mendadak ternak yang sering dijumpai pada ternak ruminansia. Penyakit ini timbul karena penyerapan toksin yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium perfringens yang tumbuh cepat dalam tubuh ternak.

Bakteri C. perfringens merupakan flora normal dalam saluran pencernaan ternak. Namun, dalam kondisi tertentu dapat menimbulkan penyakit (Clostridial septicaemia). Perkembangan C. perfringens yang diikuti dengan produksi toksin dapat merusak jaringan tubuh disekitarnya, sehingga memudahkan penyebarannya. C. perfringens dapat menembus dinding usus dan masuk ke dalam aliran darah sehingga menyebabkan septicaemia.

Kasus enterotoksemia pada kerbau impor asal Australia pernah terjadi di Sukabumi, Jawa Barat. Sebanyak 18/50 (36%) kerbau mati setelah didistribusikan ke peternak dan dari sampel saluran pencernaanya dapat diisolasi bakteri C. perfringens tipe A. Kasus serupa juga menyerang sapi impor yang didistribusikan di Kalimantan Selatan.

Diduga penyakit ini berkaitan dengan adanya perubahan iklim atau perubahan dalam pemberian pakan secara mendadak. Perubahan ini dapat menimbulkan gangguan dalam saluran pencernaannya. Pada kasus tersebut dimulai dari adanya stres sejak proses transportasi perpindahan dari lokasi sebelumnya ke lokasi berikutnya, suhu udara yang panas selama hewan di atas kapal dengan pakan (pellet) dan rumput kering serta air minum yang terbatas.

Kemudian sampai di tempat tujuan, ternak mengalami perubahan pakan yang mendadak. Pemberian pakan berupa rumput segar dan air minum, akibatnya dapat terjadi stasis dari rumen dan usus dengan berkurangnya substrat dalam usus halus dan menurunnya kadar protease. Keadaan inilah yang kemudian cocok bagi perkembangan C. perfringens tipe A, sehingga memproduksi toksin alfa yang dapat menyebabkan kematian mendadak pada ternak.

Gejala

Ternak memperlihatkan gejala klinis seperti anoreksia, sulit bernafas, keluar busa dari mulut atau hidung, temperatur tubuh ternak mencapai 40oC, gangguan syaraf, kolap dan akhirnya mati. Secara patologi anatomi terlihat adanya sianosis pada mukosa mulut dan hidung, lumen trakhea berbusa dan hyperemia pada epiglottis. Paru-paru membengkak, jantung membesar, rumen penuh makanan dan mukosa abomasum mengalami hyperemia.

Selain itu, hati mengalami kongesti dan kantong empedu penuh. Secara mikroskopik menunjukkan perubahan sebagai berikut alveoli paru-paru oedematus disertai fibrin-fibrin dan sel-sel neutrofil. Usus halus terdapat infiltrasi sel-sel limfosit disertai kumpulan bakteri Gram positif berbentuk batang pada mukosanya.

Demikian juga pada usus besar dijumpai fokal nekrosis pada lapisan muskularis disertai infiltrasi sel-sel neutrofil, makrofage dan limfosit dan terdapat sekumpulan bakteri Gram positif berbentuk batang. Hati mengalami degenerasi lemak dan nekrosis, limpa hemosiderosis.

Penanganan dan Pencegahan

Pencegahan terhadap penyakit enterotoksemia yang disebabkan oleh bakteri C. perfringens tipe A pada kerbau dapat dilakukan dengan vaksinasi. Vaksinasi ditujukan pada ternak yang beresiko tinggi terserang penyakit dan diharapkan dapat mencegah kematian. Seperti, ternak kerbau yang mudah mengalami stres akibat perubahan pakan yang mendadak, karena perubahan musim ataupun disapih terlalu cepat dan ternak yang akan ditransportasikan.

Selain itu, pemberian vaksin alum precipitated toxoid (APT) berupa toksin alfa yang dihasilkan C. perfringens tipe A. Toksin diubah menjadi toksoid dengan menambah 0,6% formalin. Kerbau disuntik vaksin alum precipitated toxoid (APT) dengan dosis 2,5 ml/ekor/SC, kemudian diulangi lagi vaksinasi kedua dengan selang waktu satu bulan. Berikutnya dilakukan vaksinasi ketiga pada bulan keenam.

Pengulangan vaksinasi ini dimaksudkan untuk mendapatkan kekebalan yang baik dan cukup lama. Hal ini bertujuan agar kerbau yang divaksin dengan vaksin C. perfringens tipe A diharapkan mampu melindungi dirinya terhadap serangan penyakit enterotoksemia.

 

----------------------------------------------

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Tarmudji. 2003. Beberapa Penyakit Penting pada Kerbau di Indonesia. Wartazoa Vol. 13 No. 4.

 

Budiyanto, M.A.K. 2002. Mikrobiologi Terapan. Universitas Muhammadiyah, Malang. p. 272.