A-Z Penyakit Hewan Ternak

Endometritis

Endometritis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikroba Streptococcus sp., Straphylococcus sp, atau Entamoba coli yang menyebabkan terjadinya peradangan pada lapisan endometrium uterus. Infeksi bakteri patogen terutama terjadi melalui vagina dan menuju ke serviks sehingga mengkontaminasi uterus selama partus, membuat involusi uterus menjadi tertunda dan performa reproduksi memburuk.

Tingkat kejadian endometritis di Indonesia cukup tinggi rata-rata 10-80% tergantung pada bervariasinya faktor ekternal dan internal saat melakukan metode diagnosa. Radang pada endometrium uterus ini juga dapat disebabkan oleh infeksi sekunder dari bagian lain tubuh.

Penyebab lain adalah karena kelanjutan dari abnormalitas partus seperti abortus, retensio sekundinarium, kelahiran prematur, kelahiran kembar, distokia serta perlukaan pada saat membantu kelahiran.

Gejala

Gejala ternak yang mengalami endometritis yaitu keluarnya leleran dari vulva yang berwarna jernih kekuningan dan uterus membengkak. Jika ternak mengalami endometritis akut terlihat vulva akan mengeluarkan nanah dan ternak akan mengalami peningkatan suhu tubuh, produksi susu mengalami penurunan, poliuria, nafsu makan menurun, denyut nadi lemah, pernafasan cepat, ada rasa sakit pada uterus yang ditandai dengan sapi menengok ke belakang, ekor sering diangkat, dan selalu merejan.

Pada pemeriksaan transrektal, uterus teraba membesar dan dindingnya agak menebal. Bentuk infertilitas yang terjadi antara lain matinya embrio yang masih muda karena pengaruh mikroorganisme atau terganggunya perlekatan embrio pada dinding uterus.

Endometritis secara umum dibagi ke dalam dua kelompok yaitu endometritis klinis dan endometritis subklinis.

  • Endometritis klinis ditandai dengan adanya leleran purulen atau mucopurulen yang dapat ditemukan pada bagian luar (anterior) vagina atau dengan diameter serviks lebih dari 7,5 cm setelah hari ke 26 pospartum.
  • Endometritis subklinis ditandai dengan ukuran serviks ≤7,5 cm dan terdapat cairan abnormal pada lumen uterus, serta adanya poliymorphonuclear leukocytes (PMN) dalam sampel sitologi uterus atau adanya cairan dalam lumen uterus setelah 21 hari postpartum.

Penanganan dan Pencegahan

Penanganan awal ditujukan kepada upaya membuka serviks dan kontraksi uterus sehingga nanah dapat dipaksa mengalir keluar. Pengobatan dengan antibiotik dapat dilakukan dengan maksud untuk membunuh mikroorganisme penyebab endometritis. Pengaliran PGF2α kedalam uterus serta pemijatan secara manual juga merupakan terapi yang baik untuk endometritis.

Selain itu, ternak yang mengalami endometritis sebaiknya tidak dikawinkan untuk sementara. Pengobatan dengan penyemprotan antiseptik serta larutan yodium dan kalium permanganat ke dalam uterus dengan maksud untuk membersihkan sisa-sisa nanah dalam uterus dapat dilakukan.

Pencegahan agar ternak tidak mengalami endometritis yaitu menjaga kondisi lingkungan bersih, terutama saat pengawinan ternak atau masa post partum.

 

----------------------------------------------

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Yulianto, P., dan Saparinto, C. 2014. Beternak Sapi Limousin, Panduan Pembibitan, Pembesaran, dan Penggemukan. Penebar Swadaya, Jakarta.

 

Murwani, S., Qosimah, D., dan Amri, I.A. 2017. Penyakit Bakterial pada Ternak Hewan Besar dan Unggas. UB Press, Malang