A-Z Penyakit Hewan Ternak

Diare

Diare merupakan gejala yang sering muncul pada ternak dengan beragam penyebab. Berdasarkan penyebabnya, diare dapat dibedakan menjadi Calf Scour dan Non-Infectious Scour.

A. Diare (Calf Scour)

Diare merupakan gejala penyakit yang disebabkan oleh Escherichia coli atau Clostridium perfringens, Salmonella spp., bovine virus diarrhae, corona virus, dan coccidia. Penyakit diare akan berimplikasi pada gangguan alat pencernaan. Diare sangat berakibat fatal bagi pedet (umur 3 bulan), karena dapat menimbulkan kematian.

Gejala

Ternak yang menunjukkan gejala diare seringkali juga mengalami nafsu makan menurun, suhu badan ternak meningkat, sapi tampak lemas karena dehidrasi. Ternak akan mengeluarkan fesesnya secara terus-menerus dan berbau busuk. Warna feses tergantung dari penyebabnya biasanya berwarna kuning keputih-putihan, hijau muda, atau kuning kehijauan.

Penanganan dan Pencegahan

Penanganan ternak yang mengalami diare yaitu memisahkan sapi yang terserang diare dengan sapi sehat, memberikan oralit, arang aktif atau norit, obat sulfa, antibiotik melalui mulut atau melalui perantara air minum.

Pencegahan yang bisa dilakukan yaitu memberikan kolostrum pada pedet secepat mungkin setelah lahir, dan menjaga sanitasi kandang, tempat pakan serta tempat minum. Selain itu, selalu membersihkan ambing susu induk sapi dengan air hangat yang dicampur dengan desinfektan. Selain itu, hindari pemberian pakan berupa daun muda atau kacang-kacangan.

B. Diare Non-Infectious Scour

Diare non-infectious scour merupakan gejala penyakit yang bukan disebabkan oleh agen-agen infeksius. Diare sering terjadi pada ternak sapi, biasanya pedet sapi perah. Penyebab diare non- infectious scour, yaitu perubahan nutrisi (perubahan pakan, overfeeding, indigesti sederhana, kualitas milk replacer jelek, kualitas kolostrum jelek, jumlah asupan kolostrum kurang, toksin, hijauan yang basah, alergi), manajemen lingkungan yang buruk (overcrowding, over population), pemberian susu yang terlalu dingin, stres (cuaca ekstrem, ternak berpindah-pindah dengan menggunakan transportasi).

Gejala

Gejala diare non- infectious scour tergantung dari jenis penyebabnya.

1. Arsenic Toxicosis

Arsenic toxicosis merupakan penyakit diare pada ternak yang disebabkan oleh bahan arsenik (spray ektoparasit, herbisida yang mengandung arsenik, pengawet kayu yang mengandung arsenik). Bahan anorganik arsen akan menyebabkan inaktivasi enzim-enzim yang mempunyai gugus sulfhidril di jaringan.

Jaringan atau organ yang mudah mengalami gangguan akibat paparan arsenik adalah saluran pencernaan, hepar, ginjal, limpa dan paru paru. Pada saluran pencernaan akan menyebabkan kerusakan kapiler yang sangat luas, hemoragik dan nekrosis.

Gejala yang timbul bisa akut, sub akut atau kronis. Pada gejala akut, sapi menunjukkan rasa sakit pada bagian abdominal, diare, dehidrasi, regurgitasi, tremor muskulus, kejang dan kematian terjadi dalam 4-6 jam setelah gejela muncul. Gejala lain biasanya berupa gangguan pada sistem syaraf pusat.

2. Winter Dysentery

Winter dysentery merupakan penyakit diare pada ternak yang penyebabnya belum ditemukan. Hasil riset terakhir menunjukkan keterkaitan dengan bovine coronavirus sebagai penyebab atau faktor sindrom ini terjadi. Mukosa kolon mengalami nekrosis dan hemoragis. Diare terjadi sebagai hasil inflamasi dan hipersekresi.

Penyakit winter dysentery sering terjadi pada musim penghujan, dimana sapi dikandangkan (terutama sapi perah). Sapi dewasa lebih sering menderita penyakit ini. Ternak menunjukkan gejala pada 1-4 hari. Gejalanya diare akut, anoreksia, depresi ringan dan penurunan produksi susu. Feses berwarna gelap, profus dan bercampur bercak darah dan mukus. Penyakit biasanya berjalan selama 2 minggu pada kawanan ternak (6-8 minggu pada kawanan ternak yang cukup besar).

3. Defisiensi Tembaga atau Molybdenum Excess

Molybdenum excess merupakan penyakit diare terjadi akibat asupan yang mengandung zat tembaga rendah atau proses penyerapan zat tembaga di saluran cerna rendah. Zat tembaga adalah kofaktor esensial pada sebagian besar enzim mamalia. Ada keterkaitan antara diet tembaga dengan sulfat dan molibdenum. Jika pakan mengandung sulfat atau molibdenum tinggi, penyerapan tembaga menurun drastis.

Pakan yang mengandung kalsium tinggi juga menggangu penyerapan tembaga. Penyakit molybdenum excess akan menunjukkan gejala klinis seperti diare, pertumbuhan terhambat, pertambahan berat badan menurun. Rambut ternak kasar, depigmentasi, membran mukosa pucat dan defisiensi zat besi. Selain itu, akan terjadi pembengakan epifisis dan pincang. Pada anakan akan menimbulkan "enzootic neonatal ataxia" yang ditandai ataksia pada kaki belakang dan pada kaki depan.

Penanganan dan Pencegahan

1. Arsenic toxicosis

Penanganan ternak yang mengalami penyakit arsenic toxicosis, yaitu pemberian karbon aktif (activated charcoal)1-4 g/kg peroral untuk menghilangkan bahan arsenik. Selain itu, pemberian sodium thiosulfate dengan dosis 15-30 gram dalam 200 ml H20 secara intravena diikuti 30-60 gram peroral, diberikan empat kali sehari. Pencegahan dilakukan dengan membatasi kontak dengan bahan arsenik.

2. Winter Dysentery

Penanganan ternak yang mengalami penyakit winter dysentery, yaitu dengan pemberian terapi suportif (nutrisi, elektrolit, air). Ternak bisa pulih secara spontan dalam beberapa hari tanpa terapi spesifik.

3. Defisiensi Tembaga atau Molybdenum Excess

Penanganan ternak yang mengalami penyakit molybdenum excess dengan cara memberikan glycinate secara subkutan atau melalui pakan suplementasi mineral yang mengandung tembaga. Selain itu, pemberian copper oxide bolus untuk terapi jangka panjang.

 

 

--------------------------------------------

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Arifin, M., dan Purwananti, V.O. 2015. Kiat Jitu Menggemukkan Sapi secara Maksimal. PT. AgroMedia Pustaka, Jakarta.

 

Tim Penulis Agriflo. 2012. Sapi dari Hulu ke Hilir dan Info Mancanegara. Penebar Swadaya, Jakarta.

 

Murtidjo, B.A. 1990. Sapi Potong. Kanisius, Yogyakarta.

 

Susilorini, T.E., Sawitri, M.E., dan Muharlien. 2007. Budi Daya 22 Ternak Potensial. Penebar Swadaya, Jakarta.

 

Triakoso, N. 2013. Penyakit Non Infeksius pada Ternak. Pengabdian pada Masyarakat Mahasiswa, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga.
https://www.researchgate.net/publication/301222871