A-Z Penyakit Hewan Ternak

Cysticercosis

Cysticercosis memiliki synonim yaitu Beberasan, Barrasan, Manis- manisan, pork measles. Cysticercosis adalah penyakit kecacingangan yang disebabkan oleh Cycsticercus cacing pita. Parasit ini termasuk ke dalam Kelas Eucestoda, Ordo Cyclophyllidea, Keluarga Taeniidae, Genus Taenia, dan Spesies Taenia solium.

Spesies rentan terhadap penyakit C.cellulose adalah babi, tetapi kucing, tikus, kera, domba, anjing dan manusia dapat juga terinfestasi. Adapun hewan yang rentan terhadap C.bovis adalah sapi, kadang-kadang kerbau atau hewan pemamah biak lain seperti jerapah, gazelle dan antelope. Pada kasus tertentu, anjing dan manusia dapat menjadi inang antara akibat autoinfestasi dan kontaminasi lingkungan.

Cacing pita dewasa (T.solium dan T.saginata) merupakan parasit pada hewan besar seperti babi dan sapi namun juga dapat menginfeksi manusia. Hidupnya di dalam usus sehingga proglotida yang mengandung telur keluar dari tubuh bersama feses. Oleh karena itu, pembuangan feses yang tidak memenuhi persyaratan higienitas dapat mencemari lingkungan.

Apabila telur cacing tersebut termakan oleh hewan yang rentan, telur akan menetas di dalam lambung dan menembus dinding lambung, kemudian mengikuti aliran darah ke tempat predileksi.

Gejala

Pada hewan biasanya penyakit bersifat subklinis tetapi gejala sakit pada otot dapat timbul bila terinfeksi cacing yang berat. Pada infiltrasi cycticercus di otak dapat menyebabkan sakit kepala yang hebat, paralisis, dan epilepsi. Jika cisiticerkus mati, maka menyebabkan terjadinya kalsifikasi atau pengapuran yang akan berefek buruk jika mencapai 5-10 tahun kemudian.

Infiltrasi Cysticercus cellulosae pada babi ditemukan di otot lurik yang aktif bergerak. Tempat predileksi dari infiltrasi cysticercosis berada di lidah, musculus masseter (otot pipi), leher, jantung, musculus intercostae (otot antar tulang rusuk), dan musculus brachiocephalicus (otot bahu).

Adanya cysticercus pada otot-otot babi, akan menyebabkan degenerasi sel-sel di sekitarnya. Apabila jumlah parasit cukup banyak maka sebagian atau seluruh karkas babi tersebut harus dimusnahkan karena dapat membahayakan kesehatan manusia.

Penanganan dan Pencegahan

Pengobatan hanya dapat dilakukan terhadap cacing pita dewasa tetapi belum ada obat yang efektif untuk Cysticercus-nya. Niclosamide dapat dipakai untuk mengobati infestasi cacing pita pada manusia. Cacing dewasa T. Saginata dan T. solium dapat diobati dengan Niclosamide dosis 2 gram, Paromomycin 5 mg/kg BB, Quinacrine 7-10 mg/kg BB, atau Oxfendazole 3-4,5 mg/kg BB.

Pencegahan cysticercosis pada babi dapat dilakukan melalui vaksinasi dengan tipe vaksin “synthetic peptide-based vaccine”. Pengendalian cacing pita Taenia dapat dilakukan dengan memutuskan siklus hidupnya. Pemutusan siklus hidup cacing Taenia sebagai agen penyebab penyakit dapat dilakukan melalui diagnosa dini dan pengobatan terhadap penderita yang terinfeksi.

Karkas yang ditemukan positif terinfeksi cysticercus dalam jumlah cukup banyak harus direkomendasikan untuk dimusnahkan. Sedangkan, yang terinfeksi ringan hanya dimusnahkan bagian-bagian yang terinfeksi saja.

 

--------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

Pudjiatmoko, Syibli M, Nurtanto S, Lubis N, Syafrison, Yulianti S, Kartika D, Yohana CK, Setianingsih E, Efendi ND, Saudah E.2014. Manual Penyakit Unggas . Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

 

Triakoso N. 2011. Penyakit Zoonosis pada Ternak. Pendidikan dan Latihan Pengamat Peternakan dan Kesehatan Hewan
https://www.researchgate.net/publication/301226210

 

ESTUNINGSIH SE. 2009. Taeniasis dan Sistiserkosis merupakan Penyakit Zoonosis Parasiter. Wartazoa Vol. 19 No. 2 Th. 2009