A-Z Penyakit Hewan Ternak

Colibacillosis (Ternak Besar)

Colibacillosis disebut juga White Scours, Kolibasilosis, Oedema disease atau bowel oedema, gut oedema. Colibacillosis adalah penyakit pada hewan, terutama yang berumur muda yang disebabkan oleh bakteri Escherichia coli (E.coli). Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC) merupakan agen penyebab diare pada anak babi dan anak sapi. Penyebaran bakteri ini sangat luas, lazim ditemukan dalam usus (terutama usus bagian bawah) baik pada hewan maupun manusia. Bakteri ini sering dihubungkan dengan berbagai kejadian seperti infeksi pusar, infeksi persendian, mastitis, pyelonephritis, cervicitis dan metritis pada sapi serta pada babi dikenal penyakit “gut oedema”.

Colibacillosis rentan pada ternak yang berumur muda seperti pada anak sapi, babi, domba, kambing dan kuda. Penularan penyakit dapat melalui feses hewan penderita, lingkungan sekitar yang tercemar seperti tempat makan dan minum dan saluran kelamin induk. Pada hewan, penularan dapat berlangsung dalam berbagai cara, antara lain melalui:

  • saluran pencernaan, misalnya akibat terminum susu mengandung E.coli patogen (pada anak babi dan sapi),
  • melalui pusar yang masih basah dan tercemar oleh material mengandung E.coli, patogen (pada anak babi), dan intra uterina (kebanyakan penularan pada anak kuda).

Gejala

Gejala klinis yang ditimbulkan oleh penyakit Colibacillosis, yaitu:

  • Tanda-tanda Respiratory distress
  • Berkurangnya nafsu makan
  • Kurus, perut membesar
  • Bulu kusam, tubuh terasa empuk (tanpa tonus)
  • Produksi menurun, umbilikus tampak terbuka, basah dan berwarna merah tua
  • Diare berwarna hijau

Anak sapi yang terinfeksi ETEC menderita diare terus menerus, tinja encer seperti air yang berwarna putih kekuning-kuningan. Ternak neonatal yang menderita diare terus menerus mengalami dehidrasi, kehilangan cairan elektrolit dan kemudian mati. Pada infeksi E. coli enterotoksik, anak sapi mati mendadak tanpa disertai tanda-tanda klinis diare.

Dampak kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh penyakit kolibasilosis bukan hanya akibat kematian anak sapi, tetapi juga penurunan bobot badan, peningkatan biaya pakan, dan biaya perawatan. Angka morbiditas pada anak sapi Frisian Holstein bisa mencapai 70%, sedangkan angka mortalitas akibat infeksi E. coli K-99 cukup tinggi mencapai 50%.

Perkembangan kuman di dalam tubuh anak babi yang melebihi batas normal akan menimbulkan gejala klinis seperti mencret berwarna putih, penurunan nafsu makan, dehidrasi, dan badan lemas. Jika kejadian penyakitnya melanjut tanpa mendapat penanganan yang memadai akan berakibat kematian.

Penanganan dan Pencegahan

Pengobatan menggunakan antibiotik seperti tetracycline, neomycin dan streptomycin. Pemberian antibiotik pada ternak potong dihentikan sekurang-kurangnya 7 hari sebelum dipotong. Pemberian infus dengan NaCl fisiologis juga bisa dilakukan untuk membantu pengobatan.

Pencegahan, pengendalian dan pemberantasan dapat dilakukan dengan menghindari keadaan penuh sesak di kandang (over crowded), usahakan ternak terbagi dalam kelompok kecil dan terdiri dari umur yang sama.

Pengendalian colibacillosis pada anakan ternak adalah dengan manajemen kandang dan hygiene yang baik sebagai berikut :

  • Manajemen kandang seperti a) lantai kandang terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, b) disinfektan kandang dilakukan setiap ada pergantian kelompok ternak, c) tempat pakan dan air minum diletakkan sedemikian rupa sehingga terhindar dari pencemaran feses, d) tempat pakan atau minum segera disucihamakan setiap habis dipakai e) pemberian pakan atau minum pada anak-anak sapi oleh pekerja hendaknya dilakukan dari luar kandang untuk mencegah kemungkinan infeksi melalui sepatu, pakaian ataupun peralatan kandang lainnya.
  • Anak sapi yang baru Iahir harus segera mendapatkan kolostrum
  • Ternak baru harus dilakukan tindakan karantina dan lebih baik lagi disertai pengobatan profilaktik pada saat kedatangan.
  • Sebaiknya dihindari pembelian ternak baru umur muda.
  • Bagi peternakan yang sering mengalami kejadian colibacillosis, vaksinasi dilakukan pada induk 2-4 minggu menjelang partus (dengan vaksin autagenous) yang bertujuan untuk mengurangi jumlah kematian yang biasanya tinggi dan mendadak.

 

--------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

Pudjiatmoko, Syibli M, Nurtanto S, Lubis N, Syafrison, Yulianti S, Kartika D, Yohana CK, Setianingsih E, Efendi ND, Saudah E.2014. Manual Penyakit Unggas . Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

 

Besung INK. 2012. Kejadian Kolibasilosis Pada Anak Babi. Majalah Ilmiah Peternakan, [S.l.], v. 13, n. 1, sep. 2012. ISSN 0853-8999.

 

Sambera M. 2015. Profil Fraksi Total Protein pada Sapi Friesian Holstein Bunting Trimester Akhir yang Divaksin dengan Vaksin Escherichia Coli Polivalen. Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

 

Supar. 1996. Kolibasilosis pada Anak Sapi Perah di Indonesia. Wartazoa Vol. 5 No. 1 Th. 1996