A-Z Penyakit Hewan Ternak

Clostridium novyi

Clostridium novyi disebut juga Bacillus edematis maligni II atau Clostridium edematicus. Clostridium novyi (Cl. novyi) merupakan bakteri anaerob dan mampu menghasilkan toksin, yang dikenal menimbulkan penyakit pada hewan. Cl. novy terdiri dari tipe A,B,C dan D. Cl. novyi tipe A menghasilkan toksin alpha, gamma hemolisin, delta hemolisin dan toksin epsilon yang bersifat lipolytic. Toksin alpha yang lethal dan beta lecithinase dihasilkan Cl. novyi tipe B. Sedangkan Cl. novyi tipe D (Cl hemolyticum) menghasilkan toksin beta lecithinase.

Penyakit yang dapat ditimbulkan oleh Cl.novyi, antara lain:

  • Swelled head atau Big head disease disebabkan oleh CI.novyi tipe A pada domba jantan.
  • Black disease disebabkan Cl.novyi tipe B pada sapi dan domba.
  • Osteomyelitis disebabkan Cl.novyi tipe C pada kerbau.
  • Sudden death syndrome pada babi.
  • Bacillary haemoglobineuria disebabkan CI.novyi tipe D pada sapi dan kuda.

Semua penyakit tersebut di atas biasanya akan berakhir dengan kematian. Ternak yang rentan terhadap penyakit clostridium novyi adalah domba, sapi, kerbau, babi, dan kuda. Spora Clostridium merupakan sumber penularan dari penyakit. Spora dari Cl. novyi toksigenik dapat ditemukan dalam hati hewan yang sehat. Spora tersebut bersifat laten, tidak berkembang biak atau tumbuh dalam hati yang sehat. Penularan juga terjadi melalui fekal-oral.

Gejala

Gejala spesifik penyakit ini adalah demam tinggi dengan rasa sakit pada abdomen, selaput lendir mengalami kepucatan atau kekuningan/ikterik, feses berwarna merah darah sampai warna empedu dan terjadi hemoglubinuria. Kasus-kasus demikian diikuti dengan kematian. Pada hewan mati akibat Black disease ditemukan adanya nekrosis pada hati, adanya cairan oedem (subkutaneus atau intramuskular), adanya perdarahan subkutan dan menimbulkan kematian mendadak pada hewan.

Black disease pada domba terjadi perakut, sering ditemukan domba dalam keadaan sudah mati tanpa gejala klinis. Hewan yang sakit terlihat dungu dan mati dalam 1-2 jam setelah tanda pertama tampak. Sapi mungkin dapat bertahan 1-2 hari sebelum akhirnya mati. Haemoglubinuria gejalanya bervariasi dan mati mendadak dengan proses perakut sampai kasus yang subklinis pada pembawa penyakit ”carrier”.

Penanganan dan Pencegahan

Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik. Bila gejala awal terdeteksi maka dapat dicoba pengobatan dengan menggunakan antibiotik seperti eritromisin, rifampisin, klindamisin, dan tetrasiklin. Sefoksitin kurang aktif terhadap Clostridium bila dibandingkan kebanyakan sefalosporin lainnya dan harus dihindari. Meskipun anjuran penggunaan penisilin G hampir universal terdapat data peningkatan resistensi yang mencemaskan.

Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksin kombinasi dari beberapa Clostridium. Vaksin yang tersedia yaitu vaksin Clostridium kombinasi yang terdiri dari 7 atau 8 Clostridium. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan pemberian obat cacing hati secara berkala.

 

-------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

Pudjiatmoko, Syibli M, Nurtanto S, Lubis N, Syafrison, Yulianti S, Kartika D, Yohana CK, Setianingsih E, Efendi ND, Saudah E.2014. Manual Penyakit Unggas . Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

 

Muharsini s, Natalia L, Suhardono dan Darminto. Inovasi Teknologi dalam Pengendalian Penyakit Ternak Kerbau. Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi

 

Natalia L, Suhardono dan Priadi A. 2006. Kerbau Rawa di Kalimantan Selatan : Permasalahan, Penyakit dan Usaha Pengendalian . wartazoa Vol. 16 No . 4 Th. 2006