A-Z Penyakit Hewan Ternak

Clostridiosis

Clostridiosis merupakan kelompok penyakit yang disebabkan oleh bakteri genus Clostridia. Bakteri Clostridium sp. termasuk bakteri Gram positif, berbentuk batang, bersifat anaerob, dan membentuk spora. Habitat alaminya saprofit dalam tanah dan sebagai flora normal pada saluran pencernaan hewan. Bakteri Clostridium sp dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan karakteristik fisiologi, yaitu :

  1. Saccharolytic, yaitu spesies bakteri yang dapat menghasilkan asam dan gas tanpa memecah daging, contohnya C. butyricum.
  2. Proteolytic, yaitu spesies bakteri yang dapat menghancurkan protein menjadi asam amino, contohnya C. sporogenes.
  3. Saccharo-proteolytic, yaitu spesies bakteri yang dapat memecah daging sehingga menghasilkan asam amino dan dapat membentuk sulfur yang menyebabkan munculnya bau busuk dan timbul warna hitam, contohnya Clostridium perfringens.

Berikut daftar nama penyakit yang disebabkan oleh bakteri spesies dari Clostridium.

Tabel 1. Daftar Nama Kelompok Penyakit Clostridiosis

No

Spesies Bakteri

Penyakit

1.

 

 

2.

 

 

 

 

 

 

3.

Neurotoxic Clostridia

C. tetani

C. botulinum

Histotoxic Clostridia

C. chauvoei

C. septicum

C. novyi type A

C. novyi type B

C. haemolyticum (C. novyi type D)

C. sordellii

Enterotoxemia

C. perfringens type B (C. welchii)

C. perfringens type D (C. welchii)

C. perfringens type D (C. welchii)

 

Tetanus

Botulisme

 

Blackleg

Malignant edema

Big head

Black disease (necrotic hepatitis)

Bacillary haemoglobinuria

Gas gangrene, Abomastitis

 

Lamb dysentery

Struck

Pulpy kidney

Gejala

Ternak yang mengalami penyakit clostridiosis tergantung dari spesies bakteri yang menyebabkan penyakitnya atau jenis penyakitnya.

Blackleg: Beberapa ternak yang menderita penyakit blackleg ditemukan mati tanpa adanya gejala klinis. Pada awalnya, ternak mengalami demam dan terjadi pembengkakan pada bagian pinggul, bahu, dada, punggung, leher, atau di tempat lain. Pada awalnya, pembengkakan itu kecil, panas, dan menyakitkan.

Pada saat penyakit berkembang dengan cepat, pembengkakan juga membesar, ada krepitasi pada palpasi, dan kulit menjadi dingin dan tidak sensitif ketika suplai darah ke area bagian tertentu di tubuh ternak berkurang. Sebagian besar kulit pada ternak menjadi hitam dan terjadi dari 6 bulan sampai 2 tahun. Pada domba, penyakit ini lebih sering terjadi mengikuti terjadinya beberapa bentuk cedera atau luka.

Bacillary hemoglobinuria: Sapi dapat ditemukan mati tanpa adanya gejala klinis. Gejala yang dapat teramati biasanya berupa depresi berat, demam, sakit perut, dyspnea, disentri, hemoglobinuria, anemia dan ikterus.

Enterotoxemia: Kematian mendadak sering menjadi tanda pertama atau satu-satunya gejala yang terjadi pada anak domba. Beberapa ternak muda mungkin menunjukkan tanda-tanda tambahan sebelum kematian, seperti menggertakkan gigi, tremor otot, buih di mulut, diare kuning, atau berdarah, dan kejang. Tingkat starchfood yang tinggi dalam diet dan memperlambat gerakan usus merupakan faktor predisposisi.

Infectious necrotic hepatitis: Kematian mendadak pada domba tanpa adanya tanda yang jelas. Ternak yang menderita penyakit ini cenderung tertinggal di belakang kawanan dan mati dalam beberapa jam. Sebagian besar kasus terjadi pada musim panas dan awal musim gugur ketika infeksi cacing hati mencapai puncaknya. Penyakit ini paling sering terjadi pada domba berusia 1 sampai 4 tahun.

Malignant edema: Gejala klinis umum seperti anoreksia, intoksikasi, dan demam tinggi. Selain itu, terdapat lesi lokal yang berkembang dalam beberapa jam sampai beberapa hari setelah mengalami cedera. Lesi lokal adalah pembengkakan lunak yang berada pada tekanan dan meluas dengan cepat karena pembentukan besar jumlah eksudat yang menginfiltrasi jaringan subkutan dan intramuskular dari daerah yang terkena.

Otot di area tersebut berwarna coklat gelap sampai hitam. Akumulasi gas jarang terjadi. Edema yang parah pada kepala domba tumbuh setelah infeksi luka yang ditimbulkan oleh perkelahian. Edema ganas yang terkait dengan laserasi vulva pada saat kelahiran ditandai oleh edema vulva yang ditandai, toksemia berat, dan kematian.

Big head: Penyakit ini ditandai dengan pembengkakan kepala, wajah, dan leher domba. Infeksi ini dimulai pada domba jantan muda dengan terus-menerus menyeruduk satu sama lain. Jaringan subkutan memar dan babak belur memberikan kondisi yang cocok untuk pertumbuhan clostridia patogenik.

Tetanus: Masa inkubasi bervariasi dari satu hingga beberapa minggu. Kekakuan lokal sering terjadi pada bagian otot leher, anggota badan bagian belakang, dan daerah luka yang terinfeksi. Pada awalnya akan terjadi kekakuan selama 1 hari kemudian terjadi kejang dan hyperesthesi.

Pada kuda, akan menyebabkan bagian telinga menjadi tegak, ekor kaku dan memanjang. Berjalan dengan cara berputar, dan sulit untuk mundur. Spasme otot leher dan punggung menyebabkan ekstensi kepala dan leher, sementara kekakuan otot kaki menyebabkan ternak menjinjit. Ternak akan sering berkeringat, terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan cepat, dan selaput lendir menjadi tersumbat.

Penanganan dan Pencegahan

Penanganan ternak yang mengalami penyakit Clostridiosis tergantung dari spesies bakteri yang menyebabkan penyakitnya atau jenis penyakitnya. Pada umumnya, penyakit ini sulit untuk diobati karena bakteri penyebab penyakit dapat berkembang sangat cepat.

Pencegahan dengan melalui manajemen dan vaksinasi yang tepat merupakan tindakan yang jauh lebih efektif untuk menghindari agar ternak tidak terserang penyakit ini. Pemberian antitoksin dan terapi antibiotik (penisilin) juga bisa dilakukan.

 

--------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

Duncanson, G. 2008. Clostridial Disease in Sheep and Cattle. Vet Times, The Website for The Veterinary Profession. https://www.vettimes.co.uk

 

Clostridial Diseases. Infectious Diseases of Livestock in Afghanistan. Multi Species.

 

Murwani, S., Qosimah, D., dan Amri, I.A. 2017. Penyakit Bakterial pada Ternak Hewan Besar dan Unggas. UB Press, Malang.