A-Z Penyakit Hewan Ternak

Brucellosis

Brucellosis sp disebut juga Bang’s disease, contagious abortion, brucellosis, bruselosis, penyakit keluron menular, keluron, dan demam malta. Brucellosis merupakan penyakit reproduksi menular pada ternak. Penyakit ini dapat menular dari hewan ke manusia dan sulit diobati.

Pada saat ini genus Brucella diketahui mempunyai 6 species yaitu Brucella melitensis, B.abortus, B.suis, B.neotomae, B.ovis, dan B.cans. Brucellosis yang menimbulkan masalah pada ternak terutama disebabkan oleh 3 species yaitu B.melitensis yang menyerang kambing, B.abortus yang menyerang sapi dan B.suis yang menyerang babi dan sapi.

Sumber penularan penyakit ini di antaranya adalah cairan genital, susu dan semen sapi yang sakit. Padang rumput, pakan dan air yang tercemar oleh bakteri Brucella merupakan sarana yang utama dalam penularan penyakit. Selain itu, penularan penyakit juga dapat melalui kontak langsung dengan kulit yang luka, ambing yang terinfeksi selama pemerahan dan inseminasi buatan dengan semen yang tercemar. Bakteri juga ditularkan kepada janin melalui plasenta.

Gejala

Pada sapi gejala yang terlihat dari penyakit ini adalah keguguran pada umur kebuntingan 5-8 bulan. Cairan janin berwarna keruh pada waktu terjadi keguguran dan retensi plasenta dapat terjadi pada induk disertai dengan metritis. Induk betina memperlihatkan gejala lesu, nafsu makan turun, kurus, dan keluar cairan bernanah dari vagina.

Seekor sapi betina setelah keguguran tersebut masih mungkin bunting kembali, tetapi tingkat kelahirannya akan rendah dan tidak teratur Pada sapi perah, brucellosis dapat menyebabkan penurunan produksi susu. Susu yang tercemar bakteri ini dapat menjadi media penularan pada manusia.

Pada ternak jantan penyakit ini menyebabkan kebengkakan pada testes dan persendian lutut. Pada kambing brucellosis hanya memperlihatkan gejala yang samar-samar. Kambing kadang-kadang mengalami keguguran dalam 4-6 minggu terakhir dari kebuntingan. Kambing jantan dapat memperlihatkan kebengkakan pada persendian atau testes.

Penanganan dan Pencegahan

Belum ada pengobatan yang efektif untuk mengatasi penyakit brucellosis. Usaha-usaha pencegahan dan penanganan kasus yang dapat dilakukan, diantaranya:

  1. sisa-sisa abortus yang bersifat infeksius harus didesinfeksi. Fetus dan plasenta harus dibakar dan vagina induk apabila mengeluarkan cairan harus diirigasi selama 1 minggu;
  2. bahan-bahan yang biasa digunakan dan bersentuhan dengan hewan penderita harus didesinfeksi dengan desinfektan seperti phenol, kresol, amonium kwarterner, biocid dan lisol;
  3. hindarkan perkawinan antara pejantan dengan betina yang mengalami kluron. Apabila seekor ternak pejantan mengawini ternak betina tersebut, maka penis dan preputium dicuci dengan cairan pencuci hama;
  4. anakan ternak yang lahir dari induk yang menderita brucellosis sebaiknya diberi susu dari ternak lain yang bebas brucellosis.

 

 

-------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

Pudjiatmoko, Syibli M, Nurtanto S, Lubis N, Syafrison, Yulianti S, Kartika D, Yohana CK, Setianingsih E, Efendi ND, Saudah E.2014. Manual Penyakit Unggas . Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

 

Penyakit Bakterial pada Ruminansia. http://directory.umm.ac.id/Data%20Elmu/pdf/mininggu_14_penyakit_bakterial_pada_ruminansia_baru.pdf

 

Setiawan ED. 1991. Brucellosis pada Sapi. WARTAZOA Vol. 2 No. 1 -2, September 1991