A-Z Penyakit Hewan Ternak

Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) (Sapi Gila)

Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) atau Mad Cow (penyakit sapi gila) adalah penyakit pada sapi dewasa yang menyerang susunan syaraf pusat dengan ditandai adanya degenerasi spongiosa pada sel syaraf yang berdampak fatal (fatal Neurological disease). Penyakit BSE disebabkan oleh sejenis protein yang disebut Prion “PrP” (Proteinaceous Infectious). Prion sangat tahan terhadap bahan kimia seperti formalin, etanol, deterjen, H2O2, kondisi ektrim seperti suhu (sampai 132 ͦC), tekanan tinggi, pH rendah dan pH tinggi.

Penyakit ini pertama kali didiagnosis di Inggris (1986) dan diwaspadai penyebarannya karena bersifat zoonosis pada manusia. Penyakit BSE ini termasuk dalam kelompok penyakit Transmissible Spongiform Encephalopathies (TSE).

Penularan BSE terutama melalui pakan yang mengandung tepung daging dan tulang (Meat Bone Meal/MBM) yang berasal dari hewan penderita. Penularan secara kontak langsung belum pernah dilaporkan, sedangkan penularan dari induk ke anak sangat kecil kemungkinannya. Manusia tertular BSE melalui daging dan produk lain dari hewan yang menderita BSE. Tingginya resiko dikarenakan saat ini sapi sudah mulai diberikan pakan konsentrat yang berasal dari bahan asal hewan seperti tepung darah, tepung hati, dan tepung tulang yang dapat mengandung prion.

Agen BSE yang menyerang pusat syaraf akan menyebabkan degenerasi sel syaraf, dan terbentuk vakuola-vakuola hingga terkesan seperti spons (spongiform). Manusia yang mengkonsumsi daging atau jeroan yang mengandung prion dapat mengalami penyakit Creutzfeld Jacob Disease (CJD) dengan perubahan saraf pusat yang mirip dengan infeksi pada sapi.

Gejala

Masa inkubasi penyait BSE berkisar antara 2 – 8 tahun dengan rata-rata 5 tahun. Sapi yang tertular BSE setelah masa inkubasi cenderung menunjukkan gangguan gejala saraf, seperti ataksia, respon stimuli sensoris yang berlebihan, dan perilaku agresif.

Gejala umum yang nampak terjadi perubahan tingkah laku ternak, abnormalitas bentuk tubuh dan pergerakan serta gangguan sensorik seperti hilangnya nafsu makan, penurunan produksi susu, telinga tegak dan kaku, serta kadang-kadang hewan terjatuh. Selain itu, ternak sangat sensitif terhadap suara, sinar dan sentuhan. Tahap akhir infeksi ditandai dengan sifat pasif, koma, dan kematian. Gejala histopatologis yaitu terjadi perubahan utama vakuolisasi dan degenerasi spongiosus pada neuron sehingga berkurangnya jumlah sel-sel syaraf.

Diagnosis BSE dilakukan dengan pewarnaan imunohistokimia terhadap jaringan otak, khususnya pada bagian obex. Hasil pewarnaan imunohistokimia menunjukkan adanya plak yang menyerupai amiloid. Akumulasi prion yang terjadi pada jaringan akan tervisualisasi sebagai plak pada jaringan tersebut. Sedangkan hasil pewarnaan hematoksilin-eosin menunjukkan degenerasi syaraf yang membentuk lubang atau vakuola yang disertai astrositosis. 

Penanganan dan Pencegahan

Indonesia sampai saat ini masih dinyatakan bebas dari penyakit BSE. Wabah penyakit BSE pernah terjadi di Eropa (Inggris, Belanda dan Perancis). Inggris perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah Indonesia karena negara tersebut pernah menjadi salah satu pemasok utama produk dan pakan ternak ke Indonesia.

Oleh karena itu, pengawasan terhadap impor ternak beserta produknya harus diawasi dengan baik dan ketat. Penyakit BSE belum bisa disembuhkan karena belum ada obat maupun vaksin yang dapat digunakan untuk ternak maupun manusia. Semua ternak yang menderita penyakit BSE akan berakhir dengan kematian apabila gejala klinis telah muncul.

World Organization for Animal Health telah mengeluarkan rekomendasi untuk pencegahan dan pengendalian BSE, yaitu :

  1. Negara memiliki penilaian atau analisis risiko untuk penyakit BSE;
  2. Menghilangkan SRMs dari seluruh karkas sapi berumur 12 bulan atau lebih;
  3. Memperbaiki standar pengolahan produk buangan menggunakan temperatur, tekanan, dan waktu yang sesuai saat diproses (133 0C, 3 bar, dan 20 menit);
  4. Menghindari kontaminasi silang dari produk buangan;
  5. Melakukan survey secara aktif dan pasif;
  6. Memusnahkan sapi yang menderita BSE

 

--------------------------------------------

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Balai Veteriner Bukit Tinggi. 2014. Laporan Pelaksanaan Kegiatan, Penyakit Eksotik dalam Rangka Kegiatan Perlindungan Hewan terhadap Penyakit Eksotik (PML Dan BSE). Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
http://bvetbukittinggi.ditjennak.deptan.go.id

 

Bahar, B. 2003. Panduan Praktis Memilih Produk Daging Sapi Potong. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

 

Sani, Y. dan Indraningsih. Jurnal Kajian Encephalopathy pada Ruminansia untuk Mengantisipasi Penyakit Bovine Spongioform Encephalopathy. Balai Penelitian Veteriner. https://id.scribd.com/document/347023562/324410759-Jurnal-Bovine-Spongiform-encephalopathy-BSE-pdf.