A-Z Penyakit Hewan Ternak

Bovine Genital Campylobacteriosis (BGC) atau Vibriosis

Bovine Genital Campylobacteriosis (BGC) atau Vibriosis adalah penyakit genital yang disebabkan bakteri Campylobacter fetus veneralis. Bakteri ini dapat dibedakan menjadi 3 subspecies yaitu C. fetus, C. fetus intestinalis, dan C fetus jejuni.

Penyakit ini dapat mengakibatkan gangguan proses reproduksi seperti infertilitas, kematian embrio, aborsi pada sapi bunting, siklus estrus yang tidak beraturan, tingkat kehamilan rendah, dan interval calving yang panjang. Penyakit ini umumnya terjadi pada sapi. Penularan BGC terjadi melalui perkawinan secara alami antara hewan sehat dengan hewan terinfeksi, dan melalui inseminasi buatan (IB) dengan semen pejantan yang terkontaminasi BGC

Gejala

Gejala klinis pada hewan jantan biasanya tidak terlihat, tetapi menjadi carrier dan menginfeksi hewan betina. Gejala yang timbul pada sapi betina diantaranya: endometritis dan kadang-kadang salpingitis dengan leleran mukopurulen, kematian embrio, abortus pada trisemester 2 kebuntingan dan terjadinya infertilitas karena kematian embrio dini.

Rata-rata kawin berulang sebanyak 5 kali kawin alam (antara 5-25 kali), siklus birahi menjadi lama dan tidak teratur (25-55 hari), serta lendir pada saat birahi terlihat keruh karena pernanahan.

Penanganan dan Pencegahan

Pengobatan pada sapi yang terinfeksi dengan antibiotik spektrum luas seperti streptomisin dan penstrep pada sistem reproduksi baik jantan dan betina. Injeksi pejantan dengan dihydrostreptomisin dosis 22 mg/kg BB secara subcutan dapat dilakukan sebanyak satu kali setelah didiagnosis. Pengobatan dilakukan kembali sebelum masuk musim kawin.

Pencegahan penyakit BGC adalah dengan vaksinasi menggunakan vaksin inaktif (killed) yang diberikan melalui injeksi subkutan. Kontrol perkawinan terhadap sapi yang terinfeksi penyakit BGC harus dilakukan. Perkawinan melalui IB harus dipastikan dengan menggunakan semen yang bersih dan terbebas dari penyakit BGC (bersertifikat negatif).

Pengendalian lainnya adalah dengan cara IB dengan semen sehat, istirahat kelamin selama 3 bulan pada hewan yang terinfeksi, vaksinasi dengan bakterin 30-90 hari sebelum dikawinkan atau setiap tahu.

 

 

--------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

Beniawan A. 2017. Media Modifikasi Sebagai Alternatif Media Transpor untuk Campylobacter Fetus Subspecies Venerealis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

 

Ratnawati D, Pratiwi WC, Affandhy L, Grati. 2007. Petunjuk Teknis Penanganan Gangguan Reproduksi pada Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. ISBN 978-979-8308-69-7

 

Penanggulangan Penyakit Gangguan Reproduksi pada Sapi Potong. Balai Veteriner Bukit Tinggi 2014. http://www.bvetbukittinggi.info/files/gangguan-reproduksi-sumbar-riau-jambi-kepri.pdf