A-Z Penyakit Hewan Ternak

Botulisme (BTL)

Botulisme adalah penyakit intoksikasi yang disebabkan oleh bakteri Clostridium botulinum (C. botulinum) dan bersifat neuroparalitik (melumpuhkan syaraf). Botulisme merupakan salah satu penyakit yang bersifat zoonosis. C. botulinum termasuk bakteri Gram positif, berbentuk batang, bersifat anaerobik dan membentuk spora.

Spesies bakteri C. botulinum dapat menghasilkan 7 neurotoksin yang berbeda yaitu tipe A, B, C1, D, E, F dan G. Tipe A, B dan F menyebabkan permasalahan kesehatan pada manusia. Tipe C1 paling sering menyebabkan penyakit pada hewan ternak seperti itik, burung, ayam, sapi dan kuda. Tipe D menyerang ternak sapi. Tipe G belum pernah dilaporkan menyebabkan botulisme. Setiap spesies bakteri C. botulinum hanya mampu menghasilkan satu tipe neurotoksin. Penyakit ini dapat menyerang unggas dan ternak mamalia.

Bakteri C. botulinum dalam bentuk dormant akan membentuk spora yang resisten dari degradasi di lingkungan dan dapat hidup bertahun-tahun dalam tanah. Spora resisten terhadap suhu panas sampai 100 ͦC selama beberapa jam. Bakteri ini terdapat pada lapisan atas tanah, kemudian akan menyebar menuju hewan yang sudah mati dan juga dapat ditemukan dalam pakan ternak berupa silase.

Gejala

Botulisme dapat terjadi melalui beberapa cara, yaitu food-borne botulism, infant botulism, wound botulism, dan inhalant botulism. Pada ternak biasanya terjadi dengan cara food-borne botulism, yaitu melalui pakan ternak. Pakan ternak seperti silase dapat membuat bakteri C. botulinum memproduksi toksin karena kandungan oksigen yang rendah pada pakan dan masa penyimpanan untuk proses pembuatan pakan silase yang cukup lama.

Ternak yang mengalami botulisme akan ditemukan gejala klinis seperti hipersalivasi, mata terbelalak, depresi, malas bergerak, mengalami kelumpuhan pada lidah sehingga tidak ada nafsu makan, kelemahan otot skeletal, paralisis dan ternak akan mati dalam 1-4 hari. Selain itu, ternak juga bisa mengalami wound botulism yang cara infeksinya melalui luka terbuka, kecil dan dalam pada ternak menyebabkan lingkungan anaerobik yang menyebabkan pertumbuhan bakteri C. botulinum.

Gejalanya hampir sama dengan food-borne botulism, dan muncul setelah 2 minggu infeksi. Namun wound botulism jarang terjadi.

Penanganan dan Pencegahan

Penanganan ternak yang mengalami botulisme dengan cara memberikan antitoksin. Pemberian antitoksin akan efektif menurunkan mortalitas. Ternak yang mengalami botulisme parah memerlukan terapi suportif, terutama ventilasi mekanik yang berlangsung beberapa minggu atau bulan. Selain itu, pada ternak yang menderita wound botulism perlu diberikan antibiotik. Apabila diperlukan, akan dilakukan operasi pada luka yang bertujuan untuk mengeluarkan bakteri yang merupakan sumber toksin.

Pencegahan agar ternak terhindar dari penyakit botulisme yaitu menghindari pemberian pakan yang sudah basi, pemberian vaksin dengan menggunakan toksoid C dan vaksinasi pasif menggunakan antitoksin botulinum. Antitoksin dapat menghambat kerja toksin yang berada dalam sirkulasi darah. Trivalent antitoxin mengandung antibodi terhadap tipe toksin A, B dan E. Heptavalent botulism antitoxin mengandung antibodi terhadap tipe toksin A, B, C, D, E, F, dan G.

 

 

-------------------------------------------

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Triakoso, N. 2011. Penyakit Zoonosis Pada Ternak. Research Gate, DOI: 10.13140/RG.2.1.5180.7123.
https://www.researchgate.net/publication/301226210

 

Murwani, S., Qosimah, D., dan Amri, I.A. 2017. Penyakit Bakterial pada Ternak Hewan Besar dan Unggas. UB Press, Malang