A-Z Penyakit Hewan Ternak

Bluetongue

Bluetongue (BT) merupakan salah satu penyakit arbovirus yang infeksius, nonkontagius, dan menular disebabkan oleh infeksi virus Orbivirus dari Family Reoviridae. Virus ini tahan terhadap media dengan pH 6,50–8, kloroform, eter, dan sodium deoksikolat, juga tahan pada penyimpanan suhu 4o C, -70o C atau pada cairan nitrogen. Namun, virus ini sensitif terhadap tripsin, aktinomisin B, hidroksil amin, B propilakton dan etilenimin, dan tidak stabil pada suhu -20o C.

Spesies rentan terhadap penyakit bluetongue adalah ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, domba, dan kambing, serta ternak liar seperti rusa. Namun, penyakit BT lebih sering ditemukan pada ternak domba.

Penularan melalui vektor nyamuk antara lain adalah jenis Culicoides sp baik secara mekanis maupun biologis, atau melalui inseminasi buatan (IB). Penularan secara mekanis terjadi jika virus ditularkan tanpa melalui proses replikasi pada tubuh serangga. Penularan secara biologis terjadi apabila virus bereplikasi pada tubuh vektor sebelum ditularkan ke ternak lainnya.

Penularan melalui IB terjadi jika semen terkontaminasi virus BT kemudian digunakan dalam IB. Vektor berupa serangga juga dapat menularkan penyakit BT dari hewan yang satu ke hewan yang lain seperti C. brevitarsis, C. fulvus, C. imicola, dan C. Variipennis.

Gejala

Gejala klinis akibat infeksi BT berupa demam yang tinggi, mukosa mulut mengalami oedema yang disertai dengan ulkus dan peradangan, koronitis dan kelemahan pada domba. Pada uji ini, gejala yang sering muncul diantaranya oedema pada bibir dan mata, hiperemia dan oedema pada selaput lendir bibir, hidung dan mulut yang kadang-kadang disertai ulkus, sehingga domba agak malas untuk makan.

Selain itu, konjungtivitis dan koronitis yang ringan juga terlihat terutama pada domba. Pada domba bunting, infeksi BT dapat menyebabkan keguguran dan kemandulan temporer. Selain keguguran, kelainan seperti stillbirth dan deformities pada bayi domba yang dilahirkan sering terjadi. Kerugian terjadi antara lain abortus, kemandulan sementara, serta penurunan bobot badan dan produksi susu.

Penanganan dan Pencegahan

Hewan yang menunjukkan tanda-tanda klinis akut harus dimusnahkan. Tindakan pengendalian dan pencegahan dapat dilakukan dengan memutus rantai vektor yang menjadi penularan penyakit ini. Ternak ruminansia yang menunjukkan gejala BT agar segera dipisahkan dengan ternak yang sehat dan segera lakukan vaksinasi untuk meningkatkan antibodinya.

Lakukan biosecurity yang ketat khususnya pada peternakan domba dengan cara selalu membersihkan kandang dan semprot dengan insektisida untuk mengurangi populasi vektor lain seperti nyamuk. Tindakan lain yang dilakukan untuk mencegah atau mengendalikan penyakit BT dengan melarang impor hewan dari negara yang endemis BT, Impor ternak domba dari daerah bebas BT perlu diikuti dengan vaksinasi terhadap BT karena sebagian besar daerah di Indonesia positif terdapat virus BT.

 

 

----------------------------------------------

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Sendow I. 2002. Isolasi Virus Bluetongue Serotipe 1, 6 dan 21 dari Serangga Nyamuk di Jawa Barat. JITV Vol. 10 No. 1 Th. 2005

 

Sendow I. 2005. Studi Patogenitas Isolat Lokal Virus Bluetongue pada Domba Lokal dan Impor

 

https://www.situs-peternakan.com/penyakit-bluetongue-btv-sering-menyerang-domba/