A-Z Penyakit Hewan Ternak

Babesiosis

Babesiosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh protozoa darah Babesia sp. Morfologi Babesia sp berbentuk seperti buah pear (the pear shaped form) yang berada didalam butir darah merah (intraerythrocytic) inang yang terinfeski.

Disamping itu, kasus babesiosis juga dilaporkan menyerang pada manusia sehingga dimasukkan ke dalam penyakit zoonosis. Penyakit babesiosis disebarkan oleh caplak Boophilus sp. Penyakit ini bisa menyebabkan kematian 80 – 90% pada ternak dewasa apabila tidak dilakukan pengobatan.

Siklus Hidup Parasit Babesiosis 

Siklus reproduksi Babesia sp. terdiri atas siklus seksual dan aseksual. Siklus seksual terjadi di dalam tubuh caplak. Caplak menghisap darah ternak yang terinfeksi, secara tidak sengaja akan menghisap eritrosit yang mengandung fase gametosit Babesia sp. Fase ini akan menghasilkan mikrogamet dan makrogamet yang berfusi menjadi zigot kemudian berkembang menjadi ookinetOokinet bermigrasi ke epitel saluran pencernaan, hemolimfe dan ovarium yang akan menyebabkan larva positif terinfeksi Babesia (transmisi transovarial).

Caplak juga mengalami transmisi transtadial, larva yang berkembang menjadi nimfa atau dewasa, secara otomatis pada setiap stadium caplak akan terinfeksi dan berpotensi sebagai inang antara.

Fase sporogoni terjadi ketika ookinet masuk ke kelenjar ludah caplak, larva atau nimfa yang menyebabkan terjadinya hipertrofi sel kelenjar ludah dan perkembangan multinukleat sporoblast menjadi sporozoit kemudian akan masuk ke dalam tubuh sapi bersamaan dengan gigitan caplak.

Siklus aseksual terjadi di dalam tubuh sapi, tepatnya di dalam eritrosit. Sporozoit (fase infektif) masuk ke dalam eritrosit melalui saliva caplak terinfeksi yang menggigit sapi. Kemudian sporozoit berubah menjadi trophozoit yang mengalami pembelahan biner dan bertunas menjadi dua atau empat membentuk merozoit.

Pembelahan menyebabkan desakan mekanis sehingga terjadi ruptur eritrosit yang mengeluarkan merozoit dan mencari eritrosit baru kemudian memenetrasinya. Siklus ini akan terus berlanjut sampai infeksi yang terjadi tidak terkontrol sehingga sapi mati. Ketika caplak menghisap darah inang yang mengandung parasit, sebagian merozoit akan rusak di dalam saluran pencernaan dan sebagian merozoit lain mengalami perubahan menjadi fase gametosit. Fase inilah yang akan berperan dalam reproduksi seksual.

Babesia sp. yang Menyerang Sapi 

Babesia sp. yang menyerang sapi adalah B. bovis, B.bigemina, B. divergens, dan B. jakimovi. Beberapa spesies Babesia yang hanya ditemukan pada hewan-hewan yang lain, seperti B.mayor menginfeksi sapi dan B.equi pada kuda.

Di Indonesia, umumnya kasus babesiosis disebabkan oleh B.bovis dan B.bigemina. Babesia bovis berbentuk cincin-signet yang memiliki vakuola dan mempunyai merozoit berukuran 1,5-2,4 μm yang terletak di tengah-tengah eritrosit, sedangkan B.bigemina berbentuk periform, bulat, oval atau tidak teratur, berpasang-pasangan dengan ukuran diameter 2-3 μm dan panjang 4-5 μm. 

Gejala 

Penyakit ini sangat patogen pada sapi dewasa, tetapi pasa anak sapi kurang dari satu tahun relatif lebih tahan. Ternak yang mengalami babesiosis mengalami gejala klinis seperti temperatur tubuh ternak sangat tinggi (> 41 ͦC) dalam waktu 8 – 17 hari setelah gigitan caplak, selaput lendir menjadi kuning dan kadang-kadang terjadi haemoglobinuria (kencing berwarna merah darah).

Gejala lain yang nampak pada sapi adalah bulu kusam, lesu, nafsu makan menurun, pernafasan cepat dan sesak, kulit tipis, kadang-kadang teramati gejala syaraf, seperti berputar-putar dan konvulsi. Selain itu, penyakit ini menyebabkan rusak atau hancurnya sel-sel darah yang akan mengakibatkan sapi mengalami kekurangan sel darah merah (anemia). Akibat anemia ini selanjutnya akan berdampak gangguan fungsional pada semua sistem tubuh baik sistem pernafasan, sistem pencernaan, sitem sirkulasi, sistem reproduksi dan pada akhirnya akan mengakibatkan kematian.

Gejala klinis pada ternak (sapi Bos Taurus) yang mengalami babesiosis dapat digolongkan menjadi tiga katagori, yaitu :

  1. Susceptible, yaitu hewan dengan gejala klinis dan membutuhkan pengobatan untuk mencegah kematian (hewan rentan).
  2. Intermediate, yaitu hewan dengan gejala klinis parasitemia, penurunan packed cell volume (PCV) ≥ 21,5 % yang ditandai dengan meningkatnya suhu tubuh. Pada kelompok hewan ini, tidak memerlukan pengobatan dengan segera karena dapat sembuh dengan sendirinya.
  3. Resistant, yaitu hewan yang tidak menunjukkan gejala klinis tetapi ditemukan B.bovis dalam preparat darah. Terjadi penurunan PCV < 21,5% dan hewan tidak demam.

Penanganan dan Pencegahan 

Penanganan untuk ternak yang menderita babesiosis adalah dengan diminazene aceturate, imidocarb, amicarbalide. Efektiftas pengobatan sangat tergantung pada deteksi dini penyakit ini. Selain itu, beberapa negara seperti Argentina, Brazil, Uruguay dan Afrika melakukan vaksinasi menggunakan B.bovis dan B.bigemina yang telah dilemahkan untuk mengurangi virulensinya.

Dosis tunggal vaksinasi pada sapi yang berumur 6 – 9 bulan mampu melindungi ternak dalam jangka waktu yang panjang. Pada saat ini, sudah tersedia vaksin trivalent (mengandung B.bovis, B.bigemina dan A.Marginale) atau vaksin bivalent (mengandung B.bovis dan A.Marginale). Vaksin trivalent lebih direkomendasikan untuk sapi Bos taurus, anak sapi dan sapi yang berasal dari daerah bebas caplak. Adapun vaksin bivalent direkomendasikan untuk Bos indicus dan sapi persilangan yang berada di daerah terinfestasi caplak.

Pencegahan yang dapat dilakukan agar ternak tidak terserang penyakit babesiosis yaitu dengan cara menghindari kontak dengan ternak yang diinfestasi oleh tungau karena berpotensi untuk menularkan babesiosis, melakukan penyemprotan insektisida, dan pemberian vaksin. Selain itu, pemerintah juga berperan dalam mengawasi perdagangan ternak yang diimpor dari negara lain dengan memastikan bahwa ternak tersebut sudah divaksinasi dari negara asal beberapa bulan sebelum dikapalkan.

Apabila hal itu tidak mungkin dilakukan, maka sapi-sapi tersebut harus dikarantina dan terlindung dari infestasi caplak saat vaksinasi dilaksanakan di negara penerima. Jika ternak yang divaksinasi dalam jumlah besar, maka transpor vaksin harus diatur sedemikian rupa sehingga sampai di tempat tujuan dalam waktu 2-3 hari pasca pembuatan di laboratorium.

Vaksin tidak disarankan untuk diberikan pada hewan yang bunting dan sedang berproduksi, sedangkan vaksinasi pada anak sapi tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya. Vaksinasi dari agen yang dimatikan (killed vaksin) dibuat dari darah anak sapi yang diinfestasi dengan B. divergens

 

--------------------------------------------

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Anggraini, N.F. 2013. Kajian Penyakit Parasit Darah pada Sapi Potong Peternakan Rakyat di Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Skripsi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Bogor

 

Nugroho, T.A.E., Usman, R., Kasim, R.A., Sayuti, M. Kajian Penyakit Protozoa Darah pada Sapi di Kabupaten Gorontalo. Lembaga Penelitian Universitas Negeri Gorontalo

 

Pudjiatmoko, Syibli, M., Nurtanto, S., Lubis, N., Syafrison, Yulianti, S., Kartika, D.N., Yohana, C.K., Setianingsih, E., Nurhidayah, Efendi, D., dan Saudah, E. 2014. Manual Penyakit Hewan Mamalia. Subdit Pengamatan Penyakit Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Jakarta.