A-Z Penyakit Hewan Ternak

Avian Influenza (Flu Burung)

Avian Influenza merupakan penyakit yang berpotensi zoonosis (menular dari hewan ke manusia) yang disebabkan oleh virus Influenza tipe A (Orthomyxovirus). Virus ini memiliki materi genetik berupa RNA beruntai tunggal dan mempunyai envelope. Sifat materi genetik virus RNA adalah sering mengalami mutasi sehingga penyakit AI sangat rentan mengalami perubahan.

Berdasarkan protein yang melapisi permukaan virus (protein Haemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA)) virus ini dibedakan menjadi beberapa subtipe, yaitu 15 hemaglutinin (H1-H15) dan 9 Neuramidase (N1-N9).

Di Indonesia sendiri umumnya teridentifikasi 2 jenis subtype virus AI yaitu AI H5N1 dan AI H9N2. Menurut patogenitasnya virus penyebab AI dapat dibedakan menjadi 2 bentuk yaitu Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI). Penyakit HPAI pada unggas dapat menyebabkan kematian tinggi hingga mencapai 100% sedangkan LPAI tidak menyebabkan kematian tinggi namun mampu menurunkan produksi telur hingga 60%.

Penularan atau transmisi dari virus influenza pada unggas secara umum dapat terjadi melalui pernafasan, kontak langsung, dan kontak tidak langsung dengan unggas tertular atau secara tidak langsung melalui paparan dengan benda-benda yang tercemar virus. Paparan dengan feses, cairan dari saluran pernapasan, konjungtiva, dan lendir merupakan sumber utama penularan AI.

Penularan secara tidak langsung dapat melalui debu, pakan, air minum, petugas, peralatan kandang, sepatu, baju dan kendaraan yang terkontaminasi virus AI. Unggas air seperti itik dan entog dapat bertindak sebagai carrier (pembawa virus) tanpa menujukkan gejala klinis. Masa inkubasi virus ini bervariasi dari beberapa jam sampai 3 (tiga) hari pada individual unggas terinfeksi atau sampai 14 hari di dalam satu kandang.

Gejala Klinis

Gejala Klinis pada unggas yang disebabkan oleh galur virus HPAI antara lain adalah, jengger, pial, kelopak mata, telapak kaki dan perut yang tidak ditumbuhi bulu terlihat berwarna biru keunguan. Adanya perdarahan pada kaki berupa bintik-bintik merah (ptekhie) atau biasa disebut kerokan kaki.

Gejala yang lain adalah keluarnya cairan dari mata dan hidung, pembengkakan pada muka dan kepala, diare, batuk, bersin, ngorok, serta nafsu makan menurun. Kematian dapat terjadi dengan cepat dan pada pemeriksaan bedah bangkai ditemukan perdarahan umum, edema, kemerahan pada hampir seluruh bagian tubuh, dan seringkali ditemukan edema subkutan.

Ovarium pada ayam petelur menunjukkan perdarahan, kematian jaringan, hingga kantung telur terisi dengan kuning telur yang telah ruptur sehingga menyebabkan radang peritoneum. Pada ayam muda sering teramati adanya dehidrasi dan kemerahan otot yang parah akibat radang.

Gejala klinis AI pada unggas yang disebabkan oleh galur virus LPAI adalah gangguan pernafasan, tanda-tanda demam dan gangguan reproduktif. Tanda-tanda klinis lainnya adalah turunnya nafsu makan, turunnya produksi telur, batuk dan bersin-bersin, bulu kusam, diare dan gemetaran. Pada LPAI kadang gejala klinis ini tidak terlihat dengan jelas.

Penanganan dan Pencegahan

Penyakit Avian Influenza tidak memiliki obat yang efektif untuk unggas yang telah terinfeksi. Penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kondisi imunitas unggas dengan memberikan tambahan vitamin dan mineral, serta mencegah infeksi sekunder dengan pemberian antibiotik.

Pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit AI yang dapat dilakukan tercantum dalam Kepdirjennak No: 17/Kpts/PD.640/F/02.04 tanggal 4 Februari 2004 tentang Pedoman Pencegahan, Pengendalian serta Kepdirjennak No: 46/Kpts/PD.640/F/04.04 Kepdirjennak No: 46/PD.640/F/08.05 mengenai Pemberantasan Penyakit Hewan Menular Influenza pada Unggas (Avian Influenza).

Dalam peraturan tersebut terdapat 9 Strategi pengendalian Avian Influenza, yaitu:

  1. Biosekuriti. Biosekuriti merupakan suatu tindakan untuk mencegah semua kemungkinan penularan (kontak) dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit melalui: pengawasan lalu lintas dan tindak karantina (isolasi) lokasi peternakan tertular dan lokasi tempat-tempat penampungan unggas yang tertular, dekontaminasi (desinfeksi).
  2. Pemusnahan unggas selektif (depopulasi) di daerah tertular. Pemusnahan selektif (depopulasi) merupakan suatu tindakan untuk mengurangi populasi unggas yang menjadi sumber penularan penyakit dengan jalan eutanasia dengan menggunakan gas CO2 atau menyembelih semua unggas hidup yang sakit dan unggas sehat yang sekandang.
  3. Vaksinasi. Vaksinasi dilakukan karena kebanyakan masyarakat Indonesia memelihara ayam tanpa dikandangkan, sehingga kemungkinan terinfeksi virus dari alam akan lebih besar.
  4. Pengendalian lalu lintas yang meliputi pengaturan secara ketat terhadap pengeluaran dan pemasukan unggas hidup, telur (tetas dan konsumsi) dan produk unggas lainnya (karkas/daging unggas dan hasil olahannya), pakan serta limbah peternakan; pengawasan lalu lintas antar area; pengawasan terhadap pelarangan maupun pembatasan lalu lintas.
  5. Surveilans dan Penelusuran. Surveilans merupakan kegiatan yang dilakukan secara teratur untuk mengetahui status kesehatan hewan pada suatu populasi. Sasarannya adalah semua spesies unggas yang rentan tehadap penyakit dan sumber penyebaran penyakit.
  6. Peningkatan kesadaran masyarakat (Public Awareness). Merupakan sosialisasi (kampanye) penyakit AI kepada masyarakat dan peternak. Sosialisasi dilakukan melalui media elektronik, media massa maupun penyebaran brosur (leaflet) dan pemasangan spanduk, agar masyarakat tidak panik.
  7. Pengisian kembali (Restocking) unggas. Pengisian kembali (restocking) unggas ke dalam kandang dapat dilakukan sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan setelah dilakukan pengosongan kandang dan semua tindakan dekontaminasi (desinfeksi) dan disposal selesai dilaksanakan sesuai prosedur.
  8. Pemusnahan unggas secara menyeluruh (stamping out) di daerah tertular baru.Apabila timbul kasus AI di daerah bebas atau terancam dan telah didiagnosa secara klinis, patologi anatomis dan epidemiologis serta dikonfirmasi secara laboratoris maka dilakukan pemusnahan (stamping out), yaitu memusnahkan seluruh ternak unggas yang sakit maupun yang sehat dalam radius 1 km dari peternakan tertular tersebut.
  9. Monitoring, Pelaporan dan Evaluasi.Monitoring adalah usaha yang terus menerus yang ditujukan untuk mendapatkan taksiran kesehatan dan penyakit pada populasi yang dilakukan oleh pusat dan daerah serta laboratorium (BPPV/BBV).

 

--------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

OFFICE INTERNATIONAL DES EPIZOOTIES (OIE). 2004. Manual of Diagnostic Test and Vaccines for Terrestrial Animal. World Organisation for Animal Health

 

Hewajuli DA, Dharmayanti NLPI Karakterisasi dan Identifikasi Virus Avian Influenza (AI). Wartazoa Vol . 18 No 2 Tahun 2008

 

Food and Agriculture Organization (FAO). 2008. Burung liar & flu burung.

 

Wiki Sumber Informasi ISIKHNAS. http://wiki.isikhnas.com/w/Penyakit_Avian_Influenza_HPAI