A-Z Penyakit Hewan Ternak

Atropic Rhinitis

Atropic rhinitis merupakan penyakit menular pada babi, penyebab penyakit ini adalah Pasteurella multocida (bentuk parah dan progresif) yang toksigenetik disertai atau tidak disertai oleh Bordetella bronchoseptica.

Atropic rhinitis merupakan penyakit khas pada babi dari berbagai umur, namun demikian gejala klinis lebih banyak ditemukan pada babi muda. Penularan terjadi secara aerosol, dari babi tertular ke babi sehat, melalui droplet yang dikeluarkan babi tertular saat bersin. Induk babi yang tertular secara kronis akan menularkan penyakit pada anak-anak babi secara kontak langsung lewat hidung mereka.

Penularannya juga kebanyakan terjadi akibat pemasukan hewan baru ke dalam suatu kandang yang bersih atau oleh babi yang dinyatakan carrier (pembawa penyakit). Kontak langsung dengan kucing atau tikus juga menjadi salah satu faktor penularan. Untuk anak-anak babi (genjik) sendiri, infeksi biasanya dari induknya tidak lama setelah proses kelahiran. Udara dari daerah yang tertular juga dapat menjadi faktor penularan lainnya.

Gejala

Gejala klinis awalnya ditandai dengan bersin-bersin kemudian diikuti oleh eksudat bersifat mukus keluar dari lubang hidung, keluarnya air mata dengan noda berwarna gelap disertai cairan nasal, dalam beberapa kasus babi dapat menunjukkan epistaksis. Atrofi nasal turbinate dan deviasi septum dapat menyebabkan pemendekan atau pemuntiran moncong dan, pada kasus yang berat, kesulitan dalam makan.

Tingkat keparahan yang meningkat terkait dengan manajemen yang buruk, kondisi perumahan dan lingkungan. Produktivitas yang berkurang umumnya dikaitkan dengan rinitis atrofi sedang sampai parah, meskipun hubungan yang tepat antara infeksi dengan bakteri penyebab dan penurunan berat badan belum sepenuhnya dijelaskan. Kadang-kadang sekresi hidung disertai bercak-bercak darah, sebagai akibat kerusakan pada tulang turbinatum.

Apabila kerusakan tulang turbinatum berlanjut, maka panjang dan diameter lubang hidung menjadi berkurang dan terlihat dari luar sebagai tulang hidung memendek dan melengkung. Kelainan ini menyebabkan pertumbuhan anak babi terhambat karena kesulitan makan.

Penanganan dan Pencegahan

Bakteri B.bronchoseptica sensitif terhadap sulfonamida. Preparat sulfa yang dipergunakan ialah sulfamethazine dalam makanan atau sodium sulfathiazole dalam air minum. Sulfamethazine dengan dosis 100-125 g per ton pakan cukup efektif untuk mengobati atropic rhinitis. Sodium sulfathiazole dengan dosis 0,33-0,5 g/3,8 liter air minum disarankan untuk pengobatan penyakit ini. Untuk menuntaskan infeksi B.bronchoseptica pada anak babi memerlukan sekurangnya 5 minggu, sedangkan pada hewan yang lebih tua memerlukan waktu sekitar 4 minggu.

Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi dan perbaikan manjamen kandang. Hal yang perlu diperhatikan adalah pengelolaan peternakan perlu memperhatikan standar higieni yang tinggi pada perkandangan. Pengeluaran segera babi atau genjik yang menunjukkan gejala-gejala klinis penyakit penting dilakukan. Prinsip all in all out pada kandang harus diperhatikan.

Penyuntikan obat Terramycin/ LA Injectible Solution (yakni 0,5 ml/ekor babi umur 3 hari dan 1ml/ekor babi umur 12 ataupun 21 hari) juga membantu pencegahan penyakit RA pada anak babi yang masih menyusu. Vaksinasi atrophic rhinitis juga dapat diberikan sebagai pencegahan dengan vaksinasi pertama (umur 6 minggu) dan vaksinasi kedua (umur 12 mingu).

 

-------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

Pudjiatmoko, Syibli M, Nurtanto S, Lubis N, Syafrison, Yulianti S, Kartika D, Yohana CK, Setianingsih E, Efendi ND, Saudah E.2014. Manual Penyakit Unggas . Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

 

OIE Terrestrial Manual 2018. Chapter 2.8.2- Atropic Rhinitis os Swine

 

Yudhie. 2009. Atropic Rhinitis pada Babi http://yudhiestar.blogspot.com/2009/10/atropic-rhinitis.html