A-Z Penyakit Hewan Ternak

Ascariasis

Ascariasis disebut juga kecacingan merupakan penyakit parasit disebabkan oleh cacing dari genus nematoda dari famili Ascaridae genus Toxocara. Spesies ascariasis yang penting ada 3 yaitu Toxocara canis yang menyerang anjing (anak dan dewasa); T.cati yang menyerang kucing (anak dan dewasa); serta T.vitulorum yang menyerang sapi dan kerbau (umur dibawah 6 bulan dan induk).

Cacing dari genus nematoda yang paling sering menginfeksi ruminansia terutama sapi, domba dan kambing adalah Haemonchus sp. Beberapa cacing Kelas Nematoda yang menginfeksi ruminansia adalah Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Oesophagustomum sp (cacing bungkul), Bunostomum sp (cacing kait), Haemonchus sp (cacing lambung), Ostertagia sp. dan Trichostrongylus sp (cacing rambut).

Penularan ascariasis dapat melalui tertelannya telur cacing secara insidental, melalui plasenta pada tahap fetus dalam kandungan dan melalui kolostrum pada saat menyusu ke induknya. Cacing yang menginfeksi ke dalam tubuh (larva) tidak berkembang menjadi cacing dewasa, tetapi bersembunyi (dormant) dalam berbagai otot/organ tubuh melalui penetrasi dinding usus dan selanjutnya didistribusikan lewat sirkulasi darah.

Ketika hewan menjelang masa kelahiran dan masa laktasi terjadi penurunan kekebalan tubuh (periparturien relaxation of resistance), sehingga pada saat inilah larva dormant menjadi aktif, dan bermigrasi ke kelenjar susu atau uterus (placenta) dan akhirnya menulari anak yang dikandung.

Gejala

Gejala klinis akibat infeksi cacing acariasis berupa diare, prolapsus rektum, sakit pada abdomen, gangguan pertumbuhan, anoreksia dan penuruna berat badan yang akhirnya bisa menyebabkan kematian. Pada anak sapi/kerbau menyebabkan diare, dehidrasi, bulu berdiri dan nampak kusam, nafas berbau asam butirat, nafsu makan menurun, lesu, pertumbuhan pedet terhambat, dan infestasi dalam jangka lama dapat menyebabkan anemia.

Penanganan dan Pecegahan

Pengobatan dilakukan dengan pemberian anthelmintika berupa a. pyrantel dengan dosis 250 mg per pedet tanpa memperhatikan berat badan, b. febantel dengan dosis 6 mg/kg berat badan, c. levamisole dengan dosis 7,5 mg/kg berat badan, d. piperazine citrate dengan dosis 200 mg/kg berat badan, secara oral, e. Eprinomectin (Eprinex) dengan dosis 0.5 mg/kg terbukti efektif terhadap T. vitulorum. Pemberian anthelmintika yang bersifat sistemik, seperti ivermectin direkomendasikan untuk membunuh larva yang tersembunyi tersebut.

Pencegahan dapat dilakukan dengan memutus siklus hidup telur cacing yang berkembang biak di dalam tubuh hewan ternak sebelum berkembang menjadi cacing secara berkala. Kegiatan yang dapat dilakukan dengan memisahkan ternak yang muda dengan yang dewasa. Manajemen kandang perlu diperhatikan seperti kebersihan kandang agar terhindar dari tempat yang basah atau becek. Pemberian makanan yang bernilai gizi tinggi serta pemeriksaan kesehatan ternak perlu diperhatikan dan dilakukan secara rutin.

 

 

--------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

Pudjiatmoko, Syibli M, Nurtanto S, Lubis N, Syafrison, Yulianti S, Kartika D, Yohana CK, Setianingsih E, Efendi ND, Saudah E.2014. Manual Penyakit Unggas . Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

 

Levine ND. 1994. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press (diterjemahkan oleh Ashadi
G).

 

Nezar MR. 2014. Jenis Cacing pada Feses Sapi Di TPA Jatibarang dan KTT Sidomulyo Desa Nongkosawit Semarang. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang