A-Z Penyakit Hewan Ternak

Antraks

Antraks memiliki sinonim Splenic fever, Charbon, Milztbrand, Radang Limpa, dan Wool Sorter’s disease. Antraks merupakan penyakit infeksi menular akut yang bersifat zoonosis (dapat menular ke manusia). Bakteri Bacillus anthracis mampu membentuk endospora yang menyebabkan bakteri ini sulit dimusnahkan.

Hewan dapat tertular Antraks melalui pakan (rumput) atau minum yang terkontaminasi spora. Spora yang masuk ke dalam tubuh melalui mulut akan mengalami germinasi, multiplikasi di sistem limfe dan limpa, serta menghasilkan toksin sehingga menyebabkan kematian (OIE, 2000).

Kerentanan hewan terhadap antraks dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut:

  • Hewan pemamah biak seperti sapi, domba, kuda, rusa, kerbau, marmut dan mencit termasuk sangat rentan.
  • Babi tidak begitu rentan.
  • Anjing, kucing, tikus (rat) dan sebagian besar bangsa burung, relatif tidak rentan tetapi dapat diinfeksi secara buatan.
  • Hewan berdarah dingin (jenis reptilia), sama sekali tidak rentan (not affected).

Gejala

Gejala klinis pada hewan ditandai dengan demam tinggi hingga suhu ±41 - 42 °C, kehilangan nafsu makan, terhentinya produksi susu pada sapi perah, edema (di sekitar leher, hidung, kepala dan scrotum), sempoyongan, gemetar dan berakhir dengan kematian.

Penderita yang lemah biasanya mati dalam waktu 1 - 3 hari dan biasanya terjadi secara mendadak dengan perdarahan tampak pada lubang tubuh (hidung, anus, dll). Pada babi dan kuda umumnya lebih tahan, gejala penyakit berjalan secara kronis dan menyebabkan pembengkakan pada daerah tenggorokan.

Penanganan dan Pencegahan

Pengobatan pada hewan sakit dilakukan dengan memberikan suntikan antiserum antraks dengan dosis 100-150 ml untuk hewan besar dan 50-100 ml untuk hewan kecil. Pemberian antiserum dapat dikombinasikan dengan pemberian antibiotik.

Jika antiserum tidak tersedia, untuk mengatasi anthraks stadium awal dapat dicoba dengan memberikan procain penicillin G yang dilarutkan dalam aquades steril (dosis hewan besar 6.000-20.000 IU/kg berat badan secara injeksi intramuskular setiap hari), Streptomycin (dosis hewan besar 10 gram/ 400-600 kg setiap hari), atau kombinasi keduanya. Selain Penicillin, antibiotic lain yang dapat digunakan adalah Oxytetrasiklin, Chloramphanicol, Erythromycin, atau sulfonamide (sulfamethazine, sulfanilamide, sulfapyridine, sulfathiazole).

Bagi daerah bebas anthraks, tindakan pencegahan didasarkan pada kontrol lalu lintas hewan yang ketat. Vaksinasi dapat dilakukan pada hewan ternak di daerah enzootik anthraks untuk menghindari infeksi.

Tindakan pengendalian khusus untuk mencegah perluasan penyakit adalah:

  1. Hewan penderita diisolasi dari hewan-hewan lain. Di dekat tempat isolasi disediakan lubang (2 -2,5 meter) untuk menampung sisa makanan dan feses dari hewan sakit. Setelah lubang itu terisi sampai 60 cm, lubang itu ditutup dengan tanah yang segar.
  2. Hewan yang dinyatakan berpenyakit anthraks dilarang untuk dipotong karena spora dapat mencemari tanah. Hewan yang mati sebaiknya dipendam dengan menaburkan kapur pada tanah untuk menghindari penyebaran atau dibakar. Hewan yang mati karena anthraks tidak boleh dimakan oleh hewan pemakan bangkai. 
  3. Hewan tersangka tidak boleh meninggalkan halaman dimana ia berdiam sedangkan hewan yang lain tidak boleh dibawa ketempat itu. Jika hewan tersangka menunjukan gejala penyakit, maka hewan harus segera diisolasi. Jika dalam waktu 14 hari tidak ada yang sakit, hewan tersebut dapat dibebaskan kembali.
  4. Di pintu-pintu yang menuju halaman, dimana hewan yang sakit atau tersangka sakit diasingkan dipasang papan bertuliskan ”Penyakit Hewan Menular Anthraks”.
  5. Kandang dan semua perlengkapan yang tercemar harus dilakukan didesinfeksi. Kandang dari bambu dan semua alat-alat yang tidak dapat didisinfeksi, harus dibakar.
  6. Dalam satu daerah, penyakit dianggap telah berlalu setelah lewat masa 14 hari sejak matinya atau sembuhnya penderita terakhir.
  7. Untuk mencegah perluasan penyakit melalui serangga, dipakai obat-obat pembunuh serangga.
  8. Tindakan sanitasi umum harus dilakukan terhadap manusia yang kontak dengan hewan penderita penyakit untuk mencegah perluasan penyakit.

 

--------------------------------------------

Disusun oleh: Syamsidar & Kusdianawati

Share

Referensi

Pudjiatmoko, Syibli M, Nurtanto S, Lubis N, Syafrison, Yulianti S, Kartika D, Yohana CK, Setianingsih E, Efendi ND, Saudah E.2014. Manual Penyakit Unggas . Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

 

Office International Des Epizooties (OIE) . 2000. Anthrax. In: Manual of Standards Diagnostic and Vaccines, World Health Organization. pp . 235 - 239.

 

Adji RS, Natalia L . 2006. Pengendalian Penyakit Antraks: Diagnosis, Vaksinasi dan Investigasi. Wartazoa Vol. 16 No . 4 Th. 2006