A-Z Penyakit Hewan Ternak

Actinobacillosis (ACB)

Actinobacillosis merupakan sekelompok penyakit yang disebabkan oleh bakteri coccobacilli gram negatif, genus Actinobacillus. Meskipun ada lebih dari 22 spesies bakteri yang berbeda dalam genus ini, hanya empat spesies bakteri (A. pleuropneumoniae, A. suis, A. equuli, dan A. lignieresii) yang sering menyebabkan penyakit pada ternak. Penyakit actinobacillosis merupakan penyakit zoonosis yang infeksinya bisa ditularkan ke manusia.

Gejala

Gejala yang ditimbulkan pada ternak tergantung dengan penyebab dari spesies bakteri Actinobacillus :

  1. Spesies bakteri A. pleuropneumoniae akan menyerang babi, sapi, dan domba. Tingkatan untuk gejalanya berkisar dari pleuropneumonia akut, subakut, dan kronis. Kompleks imun dari ternak akan terbentuk sebagai hasil dari respon inang dapat merusak sel endotel, mengakibatkan vaskulitis dan trombosis, dengan edema, nekrosis, infark, dan hemoragik. Infeksi biasanya terbatas pada babi yang berumur di bawah 5 tahun.
  2. Spesies bakteri A. suis merupakan flora normal yang habitatnya berada pada rongga mulut babi. Pada anak babi bisa menyebabkan septikemia, sedangkan pada babi dewasa akan menyebabkan arthritis, pneumonia, dan pericarditis. Bakteri A. suis akan menyerang integritas mukosa mulut sehingga menyebabkan penyakit.
  3. Spesies bakteri A. equuii akan menyerang kuda baik anak kuda maupun kuda dewasa. Pada anak kuda akan menunjukkan diare, diikuti oleh meningitis, pneumonia, purulent nephritis, atau septic polyarthritis. Pada kuda dewasa kemungkinan akan terjadi abortus, septicemia, nephritis, peritonitis, dan endocarditis.
  4. Spesies bakteri A. lignieresii akan menyerang sapi, domba, kuda, dan babi. Penyakit yang disebabkab oleh bakteri A. lignieresii sering disebut sebagai penyakit lidah papan atau wooden tongue. Ternak yang mengalami actinobacillosis (bakteri A. lignieresii) akan ditemukan benjolan membesar di bagian rahang bawah. Selain itu, terkadang benjolan terjadi pada bagian lidah sehingga membuat lidah menjadi keras dan kaku. Penyakit ini juga menyebabkan terjadinya proses perubahan anatomi jaringan sehingga menyebabkan tulang rahang menjadi mengeras.
  5. A. lignieresii merupakan flora normal mukosa yang terdapat pada saluran pencernaan bagian atas. Bakteri ini akan menyebabkan penyakit ketika terjadi luka yang mengakibatkan bakteri tersebut berpindah ke jaringan lunak. Menyebabkan infeksi lokal dan dapat menyebar melalui sistem limfatik ke jaringan lainnya. Pada sapi infeksi bakteri A. lignieresii akan menyebabkan lidah menjadi sangat keras dan bengkak. Hal ini menyebabkan air liur berlebihan, ketidakmampuan untuk makan secara normal, dan lidah yang terlihat membesar akan menonjol dari mulut (Gambar 1.a). Secara patologi lidah ternak menjadi pucat dan kencang yang mengandung nodul yang berisi nanah kuning-putih tebal (Gambar 1.b) . Selain itu, bakteri A. lignieresii bisa menyebabkan terjadinya pyogranulomatous pada jaringan lunak yang berhubungan dengan kepala, leher, anggota badan, paru-paru, ambing dan jaringan subkutan.

Penanganan dan Pencegahan

Pada umumnya ternak ruminansia yang terserang penyakit ini biasanya akan diberikan natrium iodida (70 mg/kg dalam 10%-20% larutan) sekali dan kemudian diulang sekali atau dua kali pada interval 7 hingga 10 hari. Perbaikan klinis akan terlihat dalam 48 jam terapi, dan pengobatan biasanya berhasil ketika bagian yang terserang hanya lidah. Pada kasus actinobacillosis berat direkomendasikan pemberian antibiotik seperti ceftiofur, penicillin, ampicillin, florfenicol, dan tetrasiklin.

Babi yang terinfeksi bakteri A. pleuropneumoniae diberikan antibiotik berupa penicillin, tetracycline, spectinomycin, cephalosporins, atau fluoroquinolones. Babi yang terinfeksi bakteri A. suis biasanya diberikan antibiotik sulfonamide dan sefalosporin. Kuda yang terinfeksi bakteri A. equuii dapat diobati dengan memberikan antibiotik seperti kloramfenikol, gentamisin, atau sefalosporin generasi ketiga, tergantung pada sifat infeksi dan kemampuan konsentrasi toksik-terapetik menjangkau lokasi infeksi. Namun antibiotik β-Laktam dan sulfonamida lebih potensial untuk direkomendasikan.

Actinobacillosis banyak ditemukan dalam bentuk spora sehingga penyebarannya di lingkungan yang bisa menyerang ternak agak sulit untuk dicegah. Namun pencegahan actinobacillosis pada ruminansia bisa dilakukan dengan cara menghindari pemberian bahan pakan kasar dan padang rumput yang penuh dengan tanaman yang berduri. Selain itu, perlu manajemen yang baik dikombinasikan dengan penggunaan vaksin atau pemberantasan ternak yang sudah terserang penyakit tersebut.

----------------------------------------------

Disusun oleh: Kusdianawati & Syamsidar

Share

Referensi

Triakoso, N. 2011. Penyakit Zoonosis pada Ternak. Pendidikan dan Latihan Pengamat Peternakan dan Kesehatan Hewan. https://www.researchgate.net/publication/301226210. DOI: 10.13140/rg.2.1.5180.7123.

 

Smith, G.W. Overview of Actinobacillosis. Associate Professor of Ruminant Medicine, Department of Population Health and Pathobiology, College of Veterinary Medicine, North Carolina State University. https://www.msdvetmanual.com/generalized-conditions/actinobacillosis/overview-of-actinobacillosis. Artikel Veterinary Manual Diakses pada Tanggal 29/11/2018.