A-Z Penyakit Tanaman

Gloeosporium Fructigenum (Penyakit Busuk Pahit Buah)

Pada beberapa buah pada jenis tanaman tertentu seperti Apel dan Jambu Air, diketahui ditemukan penyakit busuk pahit akibat pathogen cendawan Gleosporum fructigenum. mPatogen tersebut memiliki miselium berwarna putih yang lama kelamaan akan berubah warna menjadi abu abu kehitaman. Cendawan penyakit ini empunyai aservulus (tubuh buah aseksual) dengan garis tengah 90-120µm, berwarna jingga gelap dan berdinding tebal. Apresorium (ujung hifa) berbentuk bulat dengan dinding tebal dan berwarna gelap, konidia (spora aseksual) tidah berwarna, satu sel, jorong atau silindris dengan kedua sisi ujung tumpul.

Gejala

Gejala serangan akibat ejala dari serangan cendawan Gleosporum fructigenum ini, diantaranya tunas tunas muda mengering dan mati, daun-daun tua terlihat bercak cokelat atau kehitaman, dan daun yang terserang parah akan berguguran. Buah yang terserang membusuk dan berguguran. Cendawan ini mudah berkembang apda kondisi lingkungan yang lembab, mudah tersebar oleh angin dan air hujan.

Penanganan dan Pengendalian

Penanganan dan pengendalian terhadap penyakit busuk buah ini dianataranya yaitu:

  1. Bagian yang terkena penyakit ini segera dimusnahkan dengan cara dibakar dan dibuang di tempat yang jauh dari lahan.
  2. Penggunaan bibit dan alat alat pertanian yang bebas dari infeksi patogen ini.
  3. Menanam dengan jarak tidak terlalu rapat, tujuannya supaya sirkulasi udara lancar.
  4. Perlu dipilih lokasi yang terhindar dai aliran limpasan air hujan.
  5. Penggunaan tembakau sebagai pestisida alami dapat megurangi perkembangan cendawan ini.

 

 ---------------------------------------------

Ditulis oleh : Pramaadya

Direview oleh: Ruth Martha Winnie

Share

Referensi

 Suharti w dkk. Keefektifan Puntung Rokok Sebagai Pengendali Gloeosporium fructigenum Pada Buah Apel. Jurnal pembangunan Pedesaan Volume 10 Nomor 2

 

Pangestika. Keefektifan pembungkusan buah untuk Pengendalian penyakit antraknosa dan lalat Buah pada jambu air (Syzygium samarangense). Institut pertanian bogor