Tuntutan Bagi Petani Di Era Smart Farming
DIGITAL

Tuntutan Bagi Petani Di Era Smart Farming

1 month ago
303 views

Era smart farming, atau pertanian pintar semakin nyata. Automasi dan digitaisasi pertanian tidak lagi hanya pada lingkup korporasi atau perusahaan, kini petani juga sudah menjadi pengguna smart farming atau pertanian digital.

Penyaluran pupuk dengan menggunakan kartu, pendanaan atau pembiayaan petani dengan platform crowdfunding, tagging lahan pada petani perkebunan, penerapan pertanian presisi pada greenhouse hidroponik, itu semua menunjukan petani sebagai pengguna perangkat digital dan sistem automasi dalam kegiatan seputar pengolahan lahan, walau kebanyakan masih sebagai pengguna pasif.

Kehadiran Smart Farming

Era smart farming merupakan era digitalisasi dan automasi pertanian, meliputi input atau faktor produksi, kegiatan dilahan, sampai penyajian produk akhir kepada konsumen. Untuk perternakan meliputi kegiatan, pembiakan, sampai produk akhir, lambat laun operasionalnya juga serba digital dan otomatis.

Kehadiran smart farming didorong oleh teknologi informasi dan digital dengan hasrat membangun kehidupan yang lebih baik, bersama munculnya masalah pemanasan global, pencemaran lingkungan, pemenuhan kebutuhan pangan, dan penghematan sumber daya alam.

Atas dasar itu, diberlakukan prosedur dan aturan, yang menjadi standar operasional berupa sertifikasi ramah lingkungan, produk sehat, dan sertifikasi dampak sosial, yang penerapan dan kontrolnya berbasis teknologi digital.

Tuntutan Utama Petani Di Era Smart Farming

Petani tidak ada pilihan lain selain menyesuaikan dengan aturan main yang berlaku itu, yang melahirkan tuntutan-tuntutan bagi petani. Tuntutan utama petani di era smart farming atau pertanian pintar tentunya adalah penguasaan penggunaan perangkat digital.

Di era smart farming petani dituntut untuk dapat menggunakan perangkat digital. Karena, semua peralatan pertanian, sumber daya sampai produk akhirnya, berbasis dan dikontrol oleh teknologi digital. 

Seperti, bank DNA untuk profil asal-usul tanaman yang terdokumentasi secara online, pengukuran pupuk dan pestisida nabati, tidak berbahan kimia, drone untuk pemupukan dan penyiraman, teraktor kendali jarak jauh, penandaan lokasi lahan, pengukuran kadungan tanah digital, sampai lelang atau jual-beli komoditas pertanian dan peternakan secara online.

Kesemua itu merupakan sistem smart farming yang berlaku pada rangkaian kegiatan pertanian dari hulu sampai hilir yang penerapannya bertujuan untuk peningkatan produktivitas, menghasilkan produk sehat, dan memastikan pemanfaatan sumber daya berkelanjutan dan berdampak sosial. 

Atas dasar itu, secara teknis petani dituntut untuk mempunyai dan dapat menggunakan layanan dasar sebagai syarat awal untuk menggunakan perangkat digital, seperti:

  • Mempunyai email untuk registrasi layanan dan produk pertanian digital.
  • Mempunyai rekening bank untuk transaksi online.
  • Mampu memahami dasar-dasar penggunaan perangkat digital untuk mengoperasikan peralatan pertanian.
  • Menguasai dasar-dasar penggunaan & kegunaan internet untuk berhubungan dengan pihak ketiga dan pihak terkait.

Kendala dan Kenyataan

Tentunya, bagi petani ini sangat berat. Berbagai keterbatasan, seperti keberadaan petani yang jauh dari jangkauan infrastruktur, dan penghalang prilaku dan sistem sosial merupakan kendala adaptasi petani di era smart farming atau pertanian pintar.

Namun, itu dapat ditanggulangi jika pada setiap rumah tangga petani ada pembagian kerja untuk tiap-tipa anggotanya. Itupun tidak menjadi jaminan. Dalam praktiknya pembentukan pembagian kerja itu tidak mudah, dibutuhkan pendampingan dan peatihan.

Tuntutan bagi petani atas penguasaan penggunaan teknlogi digital di era smart farming ini, untuk petani yang prduk atau komoditasnya merupakan komoditas pangan untuk pasokan dalam negeri urgensinya masih ada ruang dan toleransi. 

Tetapi, untuk petani yang produknya merupakan produk ekspor, seperti petani perkebunan untuk komoditas, kakao, kopi, sawit, dan lainnya penguasaan teknologi digital sudah menjadi kebutuhan atau keharusan, walau petani tidak mengekspor langsung.

img: traktor GenAgraris.ID
66 Shares
 
Update Lainnya
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Solusi bisnis muncul berasal dari niat baik atau goodwill untuk memecahkan atau menyelesaikan suatu problematika, permasalahan yang dialami orang banyak.
12 hours ago
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Mengusung tema “Moving Forward to Serve The World”, Trade Expo Indonesia, TEI 2019 akan digelar pada 16—20 Oktober, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten.
1 day ago
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Indonesia merupakan produsen palm oil terbesar di dunia. Sebagai komoditas unggulan selain kotribusi ekonomi kegunaan minyak sawit diantaranya sebagai bahan baku minyak goreng, margarin, sabun dan lainnya...
2 days ago
Load more