Tantangan Apikultur, Usaha Lebah Madu Di Indonesia
KEWIRAUSAHAAN

Tantangan Apikultur, Usaha Lebah Madu Di Indonesia

2 weeks ago
338 views

Wilayah Indonesia memilki keragaman sumberdaya alam yang berpotensi dalam pengembangan budidaya lebah madu. Serangga lebah madu merupakan salah satu jenis serangga penyerbuk (pollinator) tanaman yang memiliki potensi untuk dibudidayakan.

Apikultur

Usaha budidaya lebah madu dikenal dengan istilah apikultur. Di Indonesia, apikultur telah dikembangkan dalam bentuk industri ternak lebah dan banyak dikembangkan untuk beberapa jenis lebah madu seperti Apis mellifera (lebah Eropa) dan Apis cerana (lebah lokal).

Daya dukung sumberdaya alam yang tinggi di Indonesia, memberikan peluang yang besar dalam usaha pengembangan apikultur. Berbagai manfaat dari hasil usaha apikultur tersebut diantaranya madu, royal jelly, tepung sari, lilin, propolis, dan venom lebah. Seain itu, industri ternak lebah ini juga berperan dalam kesehatan dan kesejateraan masyarakat, serta membuka peluang kerja.

Tantangan Apikutur Di Indonesia

Namun, budidaya lebah madu di Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan seperti pengembangan cara budidaya lebah madu, total produksi madu yang masih rendah, data dasar yang kurang tentang perlebahan di Indonesia. Lebih jauh, pengalihan areal hutan atau kebun sebagai sumber pakan dan habitat lebah juga dapat menurunkan populasi lebah. Dan, kepedulian dan koordinasi penelitian perlebahan yang melibatkan lembaga penelitian dan perguruan tinggi juga masih sangat lemah.

Tantangan dalam pengembangan apiklultur di Indonesia terjadi pada beberapa bidang seperti:

a. Produksi Madu

Data dasar mengenai potensi pakan lebah yang berupa luasan, jenis tanaman, musim pembungaan, dan distribusinya belum terdata lengkap di Indonesia. Potensi yang ada belum tergambar dengan jelas, sehingga pemanfaatannya terhambat.

Para peternak/pengusaha merasakan makin terbatasnya sumber pakan lebah sehingga terjadi persaingan antar peternak lebah Eropa, Apis mellifera dalam mendapatkan areal penggembalaan.

Beberapa pendapat dan data penyebab produksi madu yang menurun yaitu:

  1. faktor lingkungan, peternak lebah madu mengalami gulung tikar akibat cuaca yang fluktuatif. Misal, peternak lebah dengan perhitungan tahun sebelumnya biasanya panen madu kelengkeng sekitar bulan September. Berdasarkan hal tersebut, peternak lebah madu akan mengembalakan lebah madu ke daerah Ambarawa yang terdapat perkembunan lengkeng. Namun, akibat cuaca yang fluktuatif dapat menyebabkan pohon kelengkeng tidak berbunga. Akibatnya, koloni lebah madu mengalami kematian akibat tidak ada sumber pakan yang dapat dimanfaatkan oleh lebah;
  2. persepsi masyarakat yang mengagap lebah madu sebagai hewan pengganggu. Sehingga sebagian masyarakat akan mengusir peternak lebah madu yang masuk ke areal perkebunannya. Hal ini tentu sangat berbeda dengan peternak lebah madu di Eropa dan Amerika, ada jasa sewa koloni lebah madu untuk membantu penyerbukan perkebunan;
  3. faktor yang paling menonjol adalah gejala ketidakseimbangan antara  perkembangan popoluasi koloni dengan ketersediaan tanaman sumber pakan (over population). Masalah populasi lebah yang tidak seimbangan tidak lepas dari makin menurunnya jumlah dan luas areal tanaman sumber pakan. Pohon kapuk randu yang menjadi andalan utama penghasil madu makin menurun jumlah dan kualitas tegakannya.

b. Pemasaran

Persepsi masyarakat tentang madu hanya sebagai obat, sehingga tingkat konsumsi rendah. Selain itu, mutu madu yang dihasilkan bervariasi dengan kadar air masih dibawah standar Badan Standar Nasional.

Kadar air yang tinggi dan kemurnian yang tidak terjamin dipengaruhi oleh alat penurun kadar air (dehumidifier) yang tidak tersedia pada lembaga atau perusahaan madu. Selain itu, produksi madu yang tergantung dari musim pembungaan menyebabkan lontinuitas penjualan tidak stabil.

c. Permodalan

Usaha perlebahan yang masih banyak dilaksanakan oleh peternak kecil dengan kemampuan permodalan yang terbatas. Hal tersebut dipengaruhi oleh penilaian pihak perbankan atas kelayakan usaha apikultur oleh peternak kecil sehingga belum bersedia menyediakan kredit di bidang usaha perlebahan.

d. Penelitian dan Pengembangan

Program penelitian perlebahan belum terkoordinasikan secara baik dan terbatasnya jumlah peneliti, sarana dan prasarana dan dana penelitian. Perguruan Tinggi dan lembaga ilmiah lainnya pada umumnya belum menangani kegiatan perlebahan.

Sebagai contoh, salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas koloni lebah Apis cerana  dan kesukaannya hijrah adalah masalah genetik (faktor keturunan).  Karakter lebah Apis cerana yang relatif agresif dibandingkan Apis mellifera. Penelitian tentang karakter lebah sangat penting untuk pengembangan budidaya  yag efektif dan efisien.

e. Badan Pembinaan Perlebahan Nasional (Bapen Perlebahan)

Badan Pembinaan Perlebahan Nasional (Bapen Perlebahan) belum mampu mengkoordinasikan kegiatan pembinaan perlebahan yang dilaksanakan oleh masing-masing intansi dan pada saat ini belum tersedia peraturan perundangan yang mendukung pengembangan perlebahan. 

img feature: GenAgraris.ID
Murtdijo BA. 2000. Memelihara Lebah Madu. Yogyakarta: Kanisius
Smith FG. 1960. Beekeeping In The Tropics. New York: Longmans, Green and Co Inc. von
Frisch K. 1953. The Dancing Bees: An Account of the Life and Senses of the Honey Bee. New York and London: A Harvest/HBJ Book Harcourt Jovanovich.
Winnie RM. 2007. Pengelolaan Lebah Madu di PT Madu Pramuka, Cibubur, Jakarta Timur [laporan praktek lapang]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

 

 

66 Shares
 
Update Lainnya
Teknik Budidaya Kacang Panjang Secara Tepat dan Efektif Untuk Meningkatkan Produktivitas
Teknik Budidaya Kacang Panjang Secara Tepat dan Efektif Untuk Meningkatkan Produktivitas
Kacang panjang merupakan salah satu tanaman perdu semusim yang mengandung protein (17,30 %), lemak (1,50%), karbohidrat (70%), vitamin A, B, C, dan mineral.
1 day ago
Potensi dan Tantangan Pengembangan Budidaya Persuteraan di Indonesia
Potensi dan Tantangan Pengembangan Budidaya Persuteraan di Indonesia
Ekspor komoditas dari ulat sutra dapat berupa kokon, benang dan barang jadi.
1 day ago
7 Teknologi yang Berpengaruh Terhadap Perkembangan Agribisnis Di Indonesia
7 Teknologi yang Berpengaruh Terhadap Perkembangan Agribisnis Di Indonesia
Nanoteknologi, 3D Printed Food, Indraja, Bioteknologi dan lainnya merupakan teknologi yang berpengaruh terhadap arah pola-pola pengembangan usaha agribisnis dan kompetensi usaha agribisnis.
5 days ago
Load more