Sunan Kalijaga dan Luku Sebagai Peninggalan Inovasi Pertanian
INSAN

Sunan Kalijaga dan Luku Sebagai Peninggalan Inovasi Pertanian

Admin
3 weeks ago
688 views

Menengok jauh kebelakang, sejarah Indonesia tidak terlepas dari pertanian. Diluar benar atau salah, bahkan ada yang menyatakan Indonesia merupakan bangsa yang pertama kali bercocok tanam. Pernyataan itu, berdasarkan logika bahwa selepas jaman es, secara geografis, daratan yang muncul dan menjadi wilayah yang sangat subur merupakan wilayah Indonesia.

Lompatan Jaman

Loncat ke jaman kerajaan, era keemasan Sriwijaya, Majapahit, Mataram Kuno, kerajaan-kerajaan yang ada di Timur Nusantara, ditopang oleh kemajuan pertanian. Peradaban pertanian yang maju di jaman itu dinyatakan oleh kemajuan maritim dengan perdagangan komoditasnya, dan jangkauan terirorinya.

Kemajuan sebuah peradaban tidak terlepas dari inovasi. Begitu juga Nusantara, kemajuan bidang pertanian dan kemaritiman pada jaman itu tidak bisa dipisahkan dengan inovasinya. Namun, kemajuan inovasi era-era keemasan Nusantara itu susah dilacak. Banyak peninggalan Nusantara telah menjadi “fosil”, yang berbobot sebagai bukti sejarah.

Ada satu bukti sejarah yang menggambarkan peradaban pertanian jaman Nusantara, yang juga merupakan peninggalan inovasi yang masih dipakai sampai sekarang, yaitu “Luku” dan “Pacul”. Luku dan Pacul atau bajak dan cangkul merupakan alat pertanian jaman Nusantara yang masih digunakan sampai sekarang, terutama di perdesaan.

Inovasi Luku Sunan Kalijaga

Menurut berbagai jurnal penelitian, luku dan pacul merupakan ciptaan oleh Sunan Kalijaga. Pernyataan itu menarik untuk didalami, karena khusus untuk luku yang pasti siapa dan bangsa mana yang pertama kali mengembangkannya kemungkinan besar sulit terlacak. Namun, percikan sejarah menyatakan luku atau bajak sejak jaman dulu sudah digunakan di berbagai tempat.

Khusus untuk luku, tidak mustahil dan sangat mungkin jika Sunan Kalijaga merupakan salah satu sosok yang mengembangkan luku. Bahkan, selanjutnya menjadi landasan pengembangan luku atau bajak modern. Ini merujuk kepada sosok Sunan Kalijaga selain juga pemikir, ia juga bergumul langsung dengan masyarakat, dan menempati posisi khusus dalam kemasyarakatan serta kosntelasi pemerintahan.

Interpretasi kata “ciptaan” diatas, dapat diartikan inovasi atau invensi. Mengingat Luku sebelumnya sudah ada, penciptaan Luku oleh Sunan Kalijaga lebih tepat dikatakan sebagai inovasi. Adapun untuk memperdalam luku yang dikembangkan oleh Sunan Kalijaga, pengkajian dapat dimulai dari tujuh komponen dasar yang mewakili fungsi-fungsi yang membentuk sistem kerja luku.

Inovasi luku hasil karya Sunan Kalijaga dikembangkan atas dasar-dasar sistem kerja mekanika. Ciri khas luku yang dikembangkan Sunan Kalijaga terdiri dari tujuh komponen dasar, yang terkenal dengan penamaannya yang mengandung makna filosofis. 

Sistem kerja antara Luku (bajak tradisional), dengan bajak sawah modern (traktor) hampir sama, perbedaanya terletak pada material dan tenaga penggeraknya, antara hewan (kerbau/sapi) dengan mesin, antara kayu dengan besi/baja.

7 Komponen Dalam Sistem Kerja Luku

Luku terdiri dari tiga unsur utama, manusia sebagai pengendali, alat atau perangkat Luku yang terbuat dari kayu, dan hewan (kerbau/sampi) sebagai tenaga penggerak. Tujuh komponen dasar, sesuai dengan fungsi, penamaan dan makna filosofisnya, diantaranya:

  1. Pegangan, berfungsi sebagai komponen pengendali arah. Bermakna tuntutan atau keyakinan, artinya setiap arah yang dituju dalam hidup harus berpegang pada tuntunan atau keyakinan.
  2. Pancadan, berfungsi sebagai komponen pijakan, pengendali tekanan. Bermakna kuda-kuda, dimana setiap arah-tujuan dalam hidup harus ditopang dengan kesiagaan yang mantap atas dasar keyakinan.
  3. Tanding atau pasak, berfungsi sebagai komponen handling yang menghubungkan dan mengantur dinamkia kerja antara pegangan, panjadan dan singkal. Bermakna internalisasi diri, pergumulan kontemplasi, untuk menentukan ketepatan dan keseimbangan dalam laku sehari-hari.
  4. Singkal, berfungsi sebagai komponen penggali atau penggemuran tanah. Bermakna ikhtiar, usaha, bekerja, dan berkarya menggemburkan “tanah”.
  5. Kejen, mata bajak berfungsi menembus dan menggali tanah. Bermakna yang utama dalam ikhiar, usaha, bekerja dan berkarya adalah penyerahan diri secara total.
  6. Olang-aling, bermakna ketika sudah berusaha dengan keutamaan penyerahan diri secara total, segala rintangan dan yang menutupi akan tersingkap.
  7. Racuk, bermakna ketika rintangan dan yang menutupi akan tersingkap maka sampailah pada cita-cita manusia sempurna, dalam sekala social masyarakat madani.

Catatan sejarah menempatkan luku sebagai teknologi yang dikembangkan di era seubelum mahsei. Selain catatan tentang luku yang ada di Mesir, di Indonesia luku juga tercatat pada relief candi Borobudur.

Kreasi Nusantara

sejarah bajak, luku
https://id.wikipedia.org/wiki/Bajak

Perlu menjadi perhatian juga bahwa jenis luku sesuai prinsip dasar kerjanya ada tiga, sesuai sepesifikasi kegunaanya minimal ada lima, salah satunya bajak singkal. Adaptasi pengembangan luku meliputi, adaptasi lingkungan, tanah, hewan penggerak, air, kontur tanah dan adaptasi yang berlandasrakn pada kesesuaian pengguna yaitu manusia yang mengendalikan luku.

Jika mempertimbangkan aspek-aspek tersebut, sesuai dengan sosok, peranan dan kemampuannya, inovasi luku khas nusantara dengan ciri tujuh komponen diatas, merupakan kreasi pengadaptasian, dan pengapdosian dari berbagai pengetahuan untuk membuat luku yang lebih sesuai dengan keadaan lingkungan dan masyarakat Nusantara. 

 img feature: edit. Google.
http://www.smallcrab.com/lain-lain/692-falsafah-bajak-dan-cangkul.html
http://lutfiblurry.blogspot.com/2012/01/alat-mesin-pengolahan-tanah-dan-padi.html
Rangga Asmara. Ekspolrasi Leksikon Perkakas Pertanian Tradisional Jawa Sebagai Penguatan Konservasi Bahsa Jawa. Universitas Tidar.
66 Shares
 
Update Lainnya
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Solusi bisnis muncul berasal dari niat baik atau goodwill untuk memecahkan atau menyelesaikan suatu problematika, permasalahan yang dialami orang banyak.
12 hours ago
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Mengusung tema “Moving Forward to Serve The World”, Trade Expo Indonesia, TEI 2019 akan digelar pada 16—20 Oktober, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten.
1 day ago
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Indonesia merupakan produsen palm oil terbesar di dunia. Sebagai komoditas unggulan selain kotribusi ekonomi kegunaan minyak sawit diantaranya sebagai bahan baku minyak goreng, margarin, sabun dan lainnya...
2 days ago
Load more