Potensi dan Tantangan Pengembangan Budidaya Persuteraan di Indonesia
BUDIDAYA

Potensi dan Tantangan Pengembangan Budidaya Persuteraan di Indonesia

RuthMW
1 month ago
129 views

Salah satu jenis komoditas yang memilki prospek yang sangat baik di Indoensia yaitu budidaya ulat sutra (Bombyx mori L). Ulat sutra sendiri merupakan sejenis serangga yang dapat menghasilkan benang dengan kualitas premium.

Benang dari ulat sutra dapat diolah menjadi kain dengan kualitas unggulan yang berkelas yang dikenal dengan sebutan kain sutra. Prospek dari komoditas dari ulat sutra sangat menanjikan karena kebutuhan dalam dan luar negeri cukup tinggi dan belum terpenuhi. Ekspor komoditas dari ulat sutra dapat berupa kokon, benang dan barang jadi.

Tahapan & Aspek yang Berpengaruh dalam Buidaya Persutraan

Budidaya persutraan sangatlah menarik karena melalui rangkaian yang cukup panjang diantaraya, kegiatan morikultur dan serikultur serta kegiatan pemintalan dan penenunan. Kegiatan morikultur adalah usaha budidaya tanaman murbei, sedangkan kegiatan serikultur adalah proses produksi dari telur ulat sutra sampai proses panen kokon.

Selanjutnya, setelah kedua kegiatan tersebut, dilakukan kegiatan pemintalan dan penenunan. Kegiatan pemintalan merupakan proses kokon diolah untuk dilakukan pemintalan menjadi benang lalu dilakukan kegiatan penenunan mengunakan bahan benang sutra.

Pengembangan budidaya persutraan ditentukan oleh aspek hulu sampai aspek hilir. Aspek hulu meliputi kualitas dan kuantitas pakan daun murbei, serta teknik budidaya ulat sutra. Sedangkan aspek hilir (aspek produksi) yang meliputi aspek pemintalan dan penenunan, serta aspek pemasaran produk.

Selain itu, hal yang menentukan lainnya adalah kemampuan dan ketrampilan petani serta kondisi biofisik lokasi budidaya. Dalam budidaya ulat sutra, meningkatan produktivitas harus terus-menerus diupayakan dan dijaga supaya menghasilkan kualitas ulat sutra terbaik.

Teknik Budidaya Ulat Sutra

Dalam budidaya persutraan, syarat kondisi biofisik lokasi yang mempengaruhi dalam teknik budidaya ulat sutra yaitu suhu optimal antara 20-23o C, kelembaban optimum antara 70-85 %, dan ketinggian lokasi yang optimal antara 300- 800 mdpl. Selanjutnya, teknik budidaya ulat sutra, yang meliputi:

A. Penanganan telur ulat sutra

  1. Letakkan telur ulat pada wadah yang datar dan disebar secara merata di kotak penetasan.
  2. Jika pada telur sudah terlihat titik biru maka telur diberikan perlakuan penggelapan dan penerangan, yang bertujuan untuk mendapatkan penetasan telur yang merata.

B. Pemeliharaan ulat sutra

  1. Pemeliharaan ulat kecil
  2. Pemeliharaan ulat besar

Umumnya, penentuan umur ulat didasarkan pada istilah tingkat atau instar yang dikaitkan dengan kondisi perbedaan iklim dan umur ulat. Selain itu, faktor kualitas dan kuantitas daun murbei, jenis bibit dan teknik pemeliharaan menjadi hal-hal yang akan mempengaruhi keberhasilan pemeliharaan ulat sutra.

Terpenuhi faktor-faktor tersebut juga bertujuan agar pemeliharaan ulat sutra mampu menghasilkan kokon yang banyak dan mutu yang baik.

C. Proses pengokonan

Ulat yang akan menjadi kokon akan ditandai dengan:

  1. nafsu makan dari ulat yang akan berkurang,
  2. kepala ulat akan bergerak mencari pegangan untuk mulai membuat kokon,
  3. tubuh ulat akan menjadi transparan dan mengkerut dan ulat akan mengeluarkan kotoran yang berwarna coklat kuning, dan
  4. ketika ulat yang sudah matang akan membuat kokon, maka harus segera dipindahkan ke tempat pengokonan.

D. Panen dan Seleksi Kokon

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat panen dan seleksi kokon diantaranya yaitu:

  1. Panen dilakukan tepat waktu yakni saat pupa dalam kokon berwarna coklat gelap.
  2. Yang harus dihindari yaitu: a) Jika panen kokon dilakukan terlalu awal maka akan dapat merusak pupa yang masih muda. b) Sebaliknya, jika kokon terlambat dipanen, pupa yang sudah berubah mejadi kupu yang akan menerobos kulit kokon, sehingga tidak dapat dipintal.
  3. Pemilahan kokon harus dilakukan dengan cermat karena akan menentukan harga kokon. Untuk mendapatkan kokon yang berkualitas hindari kokon yang dikelilingi flos yang dapat menyebabkan terjadi penyerapan kelembaban.
  4. Pengeringan kokon dilakukan hingga kokon benar-benar kering, dimana beratnya tinggal 40% dari berat kokon basah.

E. Penanganan Hama dan Penyakit Ulat Sutra

  1. Salah satu faktor kualitas dan produksi kokon menurun yaitu akibat serangan hama dan penyakit.
  2. Jenis hama yang menyerang dan merusak dalam proses budidaya ulat sutra yaitu semut dan tikus.
  3. Jenis penyakit perusak dalam proses pemeliharaan ualt sutra yatiru virus, cendawan Muscardine dan Aspergillus, bakteri, jamur, dan protozoa (Pebrine).

Potensi Budidaya Ulat Sutra Di Indonesia

Dalam pengusahaan budidaya sutra alam secara khusus Indonesia memiliki potensi, diantaranya:

  1. Lahan yang mendukung penyediaan tanaman murbai sebagai pakan utama ulat sutra dengan potensi ketersediaan lahan ratusan ribu hektar .
  2. Usaha persutraan yang sifatnya labour intensive dapat dipenuhi dengan ketersediaan tenaga kerja yang cukup banyak.
  3. Pemeliharaan ulat sutra dan produksi kokon di Indonesia dapat dilaksanakan 8-10 periode per tahun. Itu artinya Indonesia berpotensi menjadi penyedia dan memenuhi kebutuhan dunia terhadap kokon dan benang sutra.
  4. Keanekaragaman budaya, memungkinkan Indonesia bersaing dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai artistik dan eksklusif dalam desain dan mutu.

Kendala Budidaya Ulat Sutra Di Indonesia

Saat ini, tantangan dalam budidaya persutraan yaitu belum tercapainya fase optimal sehingga belum  menghasilkan output yang maksimal. Kendalanya karena belum dilakukan proses produksi dalam kapasitas yang memenuhi Break Event Point (BEP).

Tidak kalah penting dalam budidaya persutraan perlu dilakukan penambahan input produksi dan upaya teknis untuk meningkatkan efisiensi proses produksi dan produktivitas usaha.

 

1. Pramesthi Indo Juniarti, S.Hut. Budidaya Ulat Sutera
2. Andadari, Lincah, dkk. Budidaya Murbei dan Ulat Sutera. 2013. Forda Press. Bogor.
3. Andadari, Lincah, dkk. 2015. Buku seri iptek V kehutanan. Pusat penelitian dan pengembangan peningkatan produktivitas Hutan. Bogor.
4. NUrjayanti ED. 2011. Budidaya Ulat Sutera dan Produksi Benang Sutera Melalui Sistem Kemitraan Pada Pengusahaan Sutera Alam (PSA) Regaloh Kabupaten Pati. Mediagro 7 (2): 1-10.
66 Shares
 
Update Lainnya
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Solusi bisnis muncul berasal dari niat baik atau goodwill untuk memecahkan atau menyelesaikan suatu problematika, permasalahan yang dialami orang banyak.
12 hours ago
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Mengusung tema “Moving Forward to Serve The World”, Trade Expo Indonesia, TEI 2019 akan digelar pada 16—20 Oktober, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten.
1 day ago
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Indonesia merupakan produsen palm oil terbesar di dunia. Sebagai komoditas unggulan selain kotribusi ekonomi kegunaan minyak sawit diantaranya sebagai bahan baku minyak goreng, margarin, sabun dan lainnya...
2 days ago
Load more