Mengenal Pekarangan & Menelisik Potensi Agribisnis Di Lahan Pekarangan
KEWIRAUSAHAAN

Mengenal Pekarangan & Menelisik Potensi Agribisnis Di Lahan Pekarangan

1 month ago
183 views

Dengan luas lahan mencapai 10,3 juta Ha, dapat dipastikan setiap rumah di Indonesia memiliki lahan pekarangan. Termasuk juga rumah di perkotaan. Hanya saja, dikota rumah yang memiliki lahan pekarangan jumlahnya sedikit, dan luas lahan sangat terbatas. 

Lahan pekarangan di kota biasanya difungsikan sebagai taman, karena memang lebih bermanfaat atau berguna, mengurangi polusi, menambah keteduhan dan kesejukkan.

Mengenal Lahan Pekarangan

Lain halnya di daerah rural. Kebanyakan rumah di desa memiliki lahan pekarangan cukup luas. Pada masyarakat perdesaan, biasanya selain mengelola lahan utama, sawah dan perkebunan, lahan pekarangan menjadi lahan garapan sekunder.

Di desa lahan pekarangan tidak harus melekat pada rumah. Lahan pekarangan bisa jauh dari rumah tapi masih tetap di di area atau kawasan dekat dengan permukiman penduduk. Di desa lahan pekarangan merupakan lahan yang diproyeksikan untuk tempat tinggal. Biasanya lahan pekarangan ditanami pohon-pohon keras, bahan kayu untuk membuat rumah, umbi-umbian dan tanaman buah musiman.

Itu tak terlepas dari sejarahnya. Di Wikipedia dijelaskan pekarangan adalah sebuah sistem taman hutan tropis di tempat-tempat tinggal yang berkembang di Indonesia, terutama Jawa. Banyak yang menyakini sistem pekarangan sudah ada sejak jama sebelum masehi. Dokumentasi atas penjelasan pekarangan ditemukan pada Babad Tanah Jawa.

Perkembangan Lahan Pekarangan

Pada tahun 1980-1990-an, banyak setiap lahan pekarangan merupakan lahan produktif. Selain ditanami kayu sebagai bahan bangunan, pada era itu, lahan pekarangan banyak ditanami umbi-umbian, gembili, ganyong, gadung, nanas, duku, salak, sawo, dan sejenisnya. Tanaman itu sangat bermanfaat sebagai bahan pangan sekunder pengganti nasi, terutama ketika musim kemarau.

Dalam perkembangannya, sekarang ini banyak lahan pekarangan di desa banyak yang kurang produktif, hanya tersisa pohon, bahan kayu bangunan dan tanaman pisang yang tumbuh liar. Itu terjadi, karena kebanyakan tidak ada replanting, atau penaman kembali, tanaman produktif sebelumnya seperti umbi-umbian dan buah-buahan.

Potensi Bisnis Di Lahan Pekarangan

Seiring dengan peningkatan kebutuhan pangan, buah dan umbi-umbian sebagai bahan pangan olahan restoran bernilai tinggi, bahan baku industri, dan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, aktivasi lahan pekarangan sebagai lahan produktif, berkebun di lahan pekarangan menjadi potensi bisnis yang menjanjikan.

Terutama di daerah perdesaan, dengan lahan yang relatif luas, pekarangan dapat difungsikan sebagai usaha agribisnis, penanaman buah dan umbi-umbian. Berikut potensi agribisnis di lahan pekarangan:

1. Menanam Umbi-umbian Sebagai Bahan Baku Produk Olahan

Hasil panen tanaman umbi-umbian dapat bertahan lama. Umbi-umbian, seperti umbi jalar, gadung, dan lainnya selain dapat dijual langsung juga dapat diolah menjadi keripik, sehingga nilai ekonominya naik.

2. Menanam Tanaman Buah yang Bernilai Tinggi

Lahan pekarangan dapat ditanami tanaman yang hasil panennya bernilai tinggi, speerti tanaman durian, alpukat, dan lainnya. Kelebihannya daripada ditanami pohon sengon, tanaman itu dapat dipanen setiap tahun.

3. Menanam Tanaman Kacang-kacangan 

Tanaman kacang-kacangan yang potensial sebagai agribisnis dilahan pekarangan diantaranya, kacang tanah, kacang polong,  kacang merah dan lainnya. Selain bernilai tinggi, hasil panen tanaman itu juga tidak mudah busuk.

Pemanfaatan Lahan Pekarangan Disesuaikan dengan Usaha Agribisnis 

Dalam praktiknya, mengubah lahan pekarangan sebagai usaha agribisnis seperti diatas dapat bertahap, dimulai dari penanaman beberapa tanaman potensial. Pola bertahap dilakukan untuk menghemat biaya round up tanah, dan menjaga keberlangsungan habitat yang ada di pekarangan, seperti pohon yang belum perlu untuk ditebang dan lainnya.

Selain itu, agribisnis pekarangan juga akan lebih potensial ketika diitegrasikan dengan peternakan dan perikanan. Selain kotorannya dapat dijadikan sebagai pupuk, khusus peternakan, permintaan sessional, seperti permintaan untuk qurban juga sangat menjanjikan.

Namun, itu semua tidak harus. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk usaha agribisnis prinsipnya disesuaikan dengan usaha yang akan dijalankan, baik sekalanya, kebutuhan dan penggunaan lahannya, dan kematangan usahanya.

img: ilustrasi. Tanaman buah salak, di taman buah Mekarsari.
https://id.wikipedia.org/wiki/Pekarangan
http://sulsel.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/publikasi/panduan-petunjuk-teknis-brosur/132-budidaya-sayuran-di-lahan-pekarangan
 
66 Shares
 
Update Lainnya
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Solusi bisnis muncul berasal dari niat baik atau goodwill untuk memecahkan atau menyelesaikan suatu problematika, permasalahan yang dialami orang banyak.
12 hours ago
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Mengusung tema “Moving Forward to Serve The World”, Trade Expo Indonesia, TEI 2019 akan digelar pada 16—20 Oktober, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten.
1 day ago
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Indonesia merupakan produsen palm oil terbesar di dunia. Sebagai komoditas unggulan selain kotribusi ekonomi kegunaan minyak sawit diantaranya sebagai bahan baku minyak goreng, margarin, sabun dan lainnya...
2 days ago
Load more