Mekanisme Sebab Kenaikan dan Penurunan Harga Kebutuhan Pokok Komoditas Pertanian
MANAJEMEN

Mekanisme Sebab Kenaikan dan Penurunan Harga Kebutuhan Pokok Komoditas Pertanian

1 week ago
713 views

Sudah menjadi rutinitas ketika menjelang bulan Ramadhan, harga kebutuhan pokok naik drastis. Begitu juga memasuki bulan Ramadhan kali ini, (awal April 2019). Harga jengkol per kilo bisa mencapai Rp.50.000, harga daging sapi biasanya dikisaran Rp.100.000, bahkan lebih, sayuran, buah, rempah dan lainnya pun naik.

Kesemuanya dari kebutuhan pokok itu merupakan produk dari komoditas pertanian. Namun, petani sebagai penanamnya malah sering kali tidak mendapatkan keuntungan lebih darinya. Kenaikan harga menjelang Ramadhan atau moment lainnya ditingkat konsumen, tidak serta-merta mengangkat harga di tingkat petani.

Prilaku Harga Bahan Pokok Komoditas Pertanian

Malah petani cenderung dirugikan. Kenaikan harga di tingkat konsumen memicu kenaikan harga barang lainnya. Ketika harga komoditas pertanian, sayuran, buah, daging dan lainnya ditingkat petani ikut terangkat, kenaikannya tidak sebanding dengan harga barang diluar itu yang harus dibeli sebagai kebutuhan rutin.

Komoditas pertanian yang termasuk dalam kebutuhan pokok harganya cenderung volatile, selalu bergerak dan sering kali mengalami kenaikan dan penurunan drastis. Beras, bawang, sayuran, stroberi, rempah-rempah, gula merah, daging, telor dan lainnya, setiap tahunnnya pasti mengalami kenaikan atau penurunan drastis.

Beberapa bulan lalu (awal tahun 2019) heboh berita petani buah naga membuang hasil panennya karena harganya jatuh. Petani cabai juga sempat mengalami demikian, dan baru-baru ini harga gabah yang turun drastis pada saat panen raya yang sangat menekan petani mewarnai berita nasional.

Mekanisme dan Faktor Penyebab Kenaikan-Penurunan Harga Bahan Pokok

Ada berbagai faktor yang menyebabkan kenaikan atau penurunan harga. Namun, mekanisme harga kebutuhan pokok komoditas pertanian, tetap berjalan berdasarkan hukum permintaan dan penawaran. Ketika permintaan lebih besar dari penawaran maka harga akan naik, begitu juga sebaliknya.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran yang menyebabkan kenaikan atau penurunan harga diantaranya:

1. Faktor Alam

Ketika keadaan alam “mendukung”, panen berlimpah, penawaran naik, harga bahan pokok komoditas pertanian di tingkat petani menjadi murah. Ketika alam sedang dalam penyesuaian, kekeringan, banjir, adanya suatu organisme tumbuhan maupun hewan yang menjadi hama, dan lainnya yang menyebabkan gagal panen, penawaran turun, harga berpotensi naik.

2. Hambatan pada Rantai Nilai

Pada umumnya, rantai nilai bahan pokok komoditas pertanian tidak efisien. Jika tidak melalui jalur distribusi/perdagangan dengan rantai nilai yang panjang, adanya pelaku yang dominan pada rantai nilai yang pendek juga dapat menyebabkan ketidak-efisienan. 

Pada rantai nilai yang panjang, bahan pokok dapat tertahan di beberapa level rantai nilai, baik karena hambatan distribusi, atau prilaku perdagangan yang biasanya pelaku perdagangan tiap rantai nilai menerapkan stok barang.

Indikator adanya hambatan pada rantai nilai yang berpengaruh terhadap harga, ketika harga ditingkat petani tetap, tetapi harga ditingkat konsumen sudah melambung tinggi.

3. Faktor Ekspor-Impor

Ekspor bahan pokok komoditas pertanian menyebabkan kelangkaan barang ditingkat konsumen, sehingga harga naik. Sebaliknya, impor menyebabkan penawaran bertambah sehingga harga turun. 

Salah satu contohnya kopi, ketika harga kopi di luar bagus, permintaan ekspor meningkat, otomatis harga kopi domistik naik.

4. Peristiwa Sosial-Budaya

Hari raya, tahun baru dan lainnya merupakan peristiwa sosial-budaya yang menyebabkan peningkatan permintaan, sehingga harga kebutuhan pokok komoditas pertanian naik. Kenaikan harga pada peristiwa itu utamanya disebabkan oleh prilaku masyarakat.

Selain itu, peristiwa sosial yang menyebabkan harga bahan pokok komditas pertanian naik diantaranya adanya perang atau kerusuhan. Peristiwa itu menyebabkan ekonomi lupuh, distribusi tersendat, sehingga terjadi kelangkaan pangan.

5. SUbtitusi, Komplementer dan Faktor Input

Kenaikan harga barang lainnya yang berpengaruh terhadap bahan pokok komoditas pertanian diantaranya, barang subtitusi, barang komplementer, dan input faktor produksi bahan pokok komoditas pertanian.

Pupuk, obat, tenaga kerja, mesin sebagai input pertanian berpengaruh langsung terhadap harga di tingkat petani, yang pada akhirnya menyebabkan kenaikan atau penurunan harga ditingkat konsumen. Harga gula merah naik ketika harga gula pasir naik, atau makanan pengganti beras naik ketika beras langka, sulit dijangkau atau didapat.

Ketersediaan Input dan Stabilitas Harga

Dalam rantai nilai perdagangan bahan pokok komoditas pertanian, petani selalu menjadi pelaku yang mempunyai bargaining position yang paling lemah, sehingga ketika terjadi kenaikan harga, jarang sekali merasakannya. Ketersediaan input dan stabilitas harga lebih menguntungkan petani dari pada kenaikan harga sesaat. 

Bagi pedagang bahan pokok komoditas pertanian pun sama, dilevel manapun pada sebuah rantai nilai perdagangan, kenaikan harga akan menggerus modal, penurunan harga berpotensi menyebabkan kerugian.

Solusi Tidak Mudah

Solusi yang sering terbesit adalah dengan memotong rantai nilai perdagangan yang panjang. Namun, tentunya itu tidak mudah walaupun perkembangan teknologi digital saat ini sangat memungkinkan merealisasikan itu.

Penyesuaian-penyesuaian untuk memotong rantai nilai perdagangan bahan pokok komoditas pertanian sering kali terkendala oleh faktor non bisnis, seperti prilaku dan mekanisme pola tanam ditingkat petani, dan lainnya, selain fragmentasi dan variasi bentuk perdagangan yang sangat beragam dan saling terkait. 

Dalam hal pasar, pemenuhan, dan perdagangan komoditas pokok, Indonesia berbeda dengan negara lain, utamanya Eropa dan Amerika. Mengapa? Karena Indonesia adalah negeri agraris.

img feature: Pasar Muara Karang. GenAgraris.ID
66 Shares
 
Update Lainnya
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Solusi bisnis muncul berasal dari niat baik atau goodwill untuk memecahkan atau menyelesaikan suatu problematika, permasalahan yang dialami orang banyak.
12 hours ago
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Mengusung tema “Moving Forward to Serve The World”, Trade Expo Indonesia, TEI 2019 akan digelar pada 16—20 Oktober, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten.
1 day ago
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Indonesia merupakan produsen palm oil terbesar di dunia. Sebagai komoditas unggulan selain kotribusi ekonomi kegunaan minyak sawit diantaranya sebagai bahan baku minyak goreng, margarin, sabun dan lainnya...
2 days ago
Load more