Kelahiran Baru, Reorientasi dan Rekonstruksi Setelah Disrupsi
INSAN

Kelahiran Baru, Reorientasi dan Rekonstruksi Setelah Disrupsi

Admin
1 month ago
364 views

Peradaban dunia sedang mengalami perubahan mendasar. Disatu sisi globalisasi sudah menampakan wujud nyatanya, disisi lain hegemoni kekuatan global sedang mengalami pergeseran. Integrasi ekonomi global meruntuhkan sekat negara, konvergensi masyarakat global mengikis kearifan lokal. Kemunculan negara-negara Asia sebagai tumpuan kekuatan dunia merubah peta geopolitik global.

Pola-pola Masyarakat dalam Denyut Perubahan Teknologi 

Merujuk pada buku “The End of Nation State: The Rise of Regional Economic”, perkembangan hari ini telah diramalkan sejak tahun 1996, oleh Kenichi Ohmae, author buku tersebut. Tidak hanya kedaulatan negara yang terkikis, ekonomi regional pada wilayah terpencil disuatu negara sudah menjadi bagian langsung dari ekonomi global. Begitu juga masyarakatnya, tren dan isu pada suatu masyarakat lokal sudah bersifat global.

Melihat kenyataan hari-hari ini, tidak perlu data untuk menunjukan fakta tersebut. Dunia ada digenggaman kita, dengan satu telunjuk jari jendela dunia terbuka, kita bisa melakukan apapun, berkomunikasi dengan siapapun, dimanapun. Kemajuan teknologi komunikasi dan digital menjadikan peradaban masyarakat bergerak simultan, berpengaruh “dalam” pada kehidupan manusia. 

Teknologi komunikasi dan digital sebagai driver, memacu inovasi-inovasi teknologi lainnya yang penggunaannya melekat pada kehidupan manusia, membentuk prilaku dan cara-cara baru kegiatan manusia, sosial, ekonomi, politik bahkan keagamaan. Kemajuan teknologi di berbagai bidang yang sangat cepat dalam penggunaanya disatu sisi memudahkan, disisi lain memunculkan disrupsi sebagai proses penyesuaian tatanan masyarakat baru.

Deskripsi perubahan teknologi di atas, selanjutnya dikenal dengan istilah industri 4.0. Istilah yang merujuk pada sebuah era, sebuah perubahan jaman sebagai akibat dari kemajuan teknologi. Terhitung sejak revolusi industri pertama yang ditandai dengan penemuan mesin uap sebagai gerbang era mekanisasi, revolusi industri 4.0 yang sedang berlangsung merupakan istilah jaman cyber, atau secara awam disebut “jaman internet”.

Indonesia dalam Denyut Industri 4.0

Belum selesai “tercengang” dengan perubahan masyarakat yang terbentuk dari revolusi industri 4.0, yang dikenal dengan sebutan society 4.0, secara definitif dapat diartikan sebagai era masyarakat informasi, Januari lalu, Jepang sudah meluncurkan roadmap pengembangan masyarakat baru, yaitu society 5.0, masyarakat digital dengan cara kerja automasi.

Sebagai bagian dari masyarakat dunia, Indonesia tidak bisa lepas dan menghindar dari denyut perubahan sosial dan teknologi diatas. Apalagi secara geografis, Indonesia merupakan simpul peradaban dunia. Atas perkembangan itu, muncul tesis “bagaimana menyikapi itu?”. 

Indonesia merupakan negara ke 4 dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, dengan jumlah sekitar 260 juta penduduk. Tidak hanya itu, Indonesia juga merupakan pengguna internet terbesar ke 3 di dunia. Berdasarkan rilis data We Are Social per Januari lalu, jumlah pengguna internet Indonesia pada tahun 2019 ini diproyeksikan mencapai 175 jut.  Sedangkan mengacu pada data internet world stats, jumlah pengguna internet di Indonesia per juni 2018 mencapai 143 juta. 

Dengan jumlah pengguna internet lebih dari setengah dari jumlah penduduk, dan penggunaannya mencapai 79% dari keseluruhan aktivitas sehari-hari, artinya Indonesia telah menjadi masyarakat informasi atau society 4.0.

Konsumsi media masyarakat Indonesia via internet per hari mencapai 8 jam 36 menit. Kemunculan Go-Jek, Grab pada top 10 aplikasi dengan pengguna teraktif, dan peningkatan mobile payment menjadi 35% pada belanja online menandakan perubahan teknologi base bergerak ke arah big data, IoT dan AI semakin nyata.

Namun, adopsi teknologi pada masyarakat Indonesia yang sangat cepat ini apakah menguntungkan secara sosial dan ekonomi? Faktanya, belanja teknologi yang dilakukan oleh industri dengan tujuan produktivitas dan efisiensi menghilangkan peluang kerja untuk bidang-bidang pekerjaan tertentu.

Disisi lain, kemudahan untuk mengakses segala hal, menumbuhkan masyarakat yang konsumtif. Dengan sistem digital dan automasi yang menembus batasan sekat negara, menjadikan barang dan jasa dari luar negeri masuk sulit terkontrol.

Disrupsi, Reorientasi dan Rekonsutruksi

Itu dampak negatif diantara banyak lagi lainnya. Intinya, disrupsi yang terjadi sudah mencabut tatanan sosial kemasyarakatan dari akarnya, terjadi secara masif pergeseran prilaku individu, sehingga lanskap bisnis pun berubah. Tatanan dan ruang bisnis berubah total, memasuki ruang baru yaitu ruang digital, dengan rule baru yaitu otentisitas, komunitas, dan feksibilitas sebagai tuntutan bisnis.

Setiap bisnis baik organisasi maupun produknya sekarang ini dituntut mempunyai nilai yang otentik, mampu mengembangkan komunitas sebagai basis dan hub pelanggan, dan mempunyai kemampuan gerak fleksibel dalam merespon pelanggan dan isu-isu bisnis yang kejadiannya tidak terduga dan tidak terpetakan.

Berada di ruang gelembung informasi, ditengah pergerakan yang serba otomatis, baik bisnis maupun individu, mempunyai kemungkinan hanyut ditelan lubang hitam disorientasi. Menghadapi itu, setiap bisnis atau individu, sekarang dituntut untuk melakukan reorientasi dan rekonstruksi, menengok kedalam dan melihat jernih keluar untuk menemukan dirinya kembali yang fit dengan era sekarang, yaitu era industri 4.0.

Hasrat Be Yourself

Bagi bisnis, sangat penting untuk meninjau kembali hal-hal mikro dan yang tak tampak, yaitu landasan dasar, visi dan misi untuk membentuk budaya yang sesuai dengan era baru sekarang ini. Begitu juga bagi individu, kehausan akan pengalaman atau taste yang berujung pada pengembaraan, gemar berwisata, mencoba masakan baru, dan menekuni hobi unik, merupakan hasrat yang timbul atas dorongan, “be yourself”.

Lalu, apa yang dapat menjadi acuan dalam reorientasi dan rekonstruksi bagi bisnis maupun individu? Setidaknya, dalam tataran nilai dan praktis, warisan leluhur berupa wejangan, baik yang tersirat dalam tradisi upacara, cerita rakyat, dan pemikiran-pemikiran lainnya dapat ditinjau kembali untuk menjadi salah satu rujukan.

Mengapa? Karena secara genetika, kita tidak bisa terlepas begitu saja dari pendahulu kita. Ilmuan mengungkap bahwa didalam gen manusia juga tersimpan sejarah.

img: edit. google
https://rmol.co/read/2019/02/20/379413/revolusi-industri-4-0-atau-society-5-0
https://tekno.tempo.co/read/1170120/mengenal-visi-jepang-society-5-0-integrasi-ruang-maya-dan-fisik/full&view=ok
https://www8.cao.go.jp/cstp/english/society5_0/index.html
66 Shares
 
Update Lainnya
Apakah Tumbuhan Mempunyai Kecerdasan?
Apakah Tumbuhan Mempunyai Kecerdasan?
Berbagai kajian dan penelitian terbaru menunjukan tumbuhan mempunyai kesadaran, bahkan kecerdasan, walau berbeda dengan organisme lainnya, seperti kelompok binatang.
3 days ago
5 Teknologi Untuk Mengatasi Ketersediaan & Pemanfaatan Air yang Efektif & Efisien
5 Teknologi Untuk Mengatasi Ketersediaan & Pemanfaatan Air yang Efektif & Efisien
Sebagai sumber daya vital, keberadaan dan ketersediaan air, dalam pengelolaannya dikembangkan berbagai teknologi, seperti teknologi hujan buatan, fog harvesting, irigasi pintar, dan ASRG.
5 days ago
Masa Depan Pertanian Indonesia Dalam Acara Smart & Digital Farming Conference 2019
Masa Depan Pertanian Indonesia Dalam Acara Smart & Digital Farming Conference 2019
"Smart & Digitalization Farming Conference Indonesia 2019" erhasil menyajikan gambaran dan pemahaman yang jelas menyangkut penerapan teknologi pertanian berbasis digital.
2 weeks ago
Load more