Fase-fase Pertanian, Kehadiran Agriculture 4.0, dan Transformasi Pertanian Indonesia
AGTECH

Fase-fase Pertanian, Kehadiran Agriculture 4.0, dan Transformasi Pertanian Indonesia

Admin
3 weeks ago
1184 views

Secara sederhana Agriculture 1.0 sampai Agriculture 4.0 dapat dibahami sebagai industrialisasi pertanian, atau perkembangan peralihan pertanian rakyat ke pertanian industri. Itu jika mengacu pada konsensus dari berbagai forum pertemuan tingkat tinggi negara-negara Eropa yang berkenaan dengan pertanian. 

Kehadiran Agriculture 4.0

Pertanian Indonesia pun tidak terlepas dari itu. Walau tidak terlihat radikal mengubah struktur pelaku pertanian secara masif, salah satu fasenya tahun 1970-an dikenal sebagai era “the green revolution”. Jauh sebelum itu, manufacturing pada industri gula, dan korporatisasi perkebunan teh, cengkih dan lada di pertengahan tahun 1800-an dapat dikatakan sebagai milestone pertama industrialisasi di bidang pertanian.

Era industri muncul di Eropa ditandai dengan penemuan mesin uap. Setelahnya, pada awal abad 20-an, pertanian di Eropa berubah total menjadi pertanian industri, mengubah landskep pertanian secara keseluruhan dengan hilangnya pertanian rakyat.

Di Indonesia, walaupun berlangsung industrialisasi pertanian, pertanian rakyat masih tetap memegang peran penting, sebagai pensuplai utama bahan pangan. Saat ini, sejalan dengan era industri, pertanian Indonesia juga tidak dapat mengelak dari kehadiran agriculture 4.0. Era pertanian berteknologi tinggi yang dimotori oleh perkembangan teknologi digital.

Dari Agriculture 1.0 sampai Agriculture 4.0

Kehadiran era agriculture 4.0 tidak terlepas dari perkembangan pertanian sebelumnya. Mengacu pada perkembangan pertanian di Eropa, berikut adalah era agriculture 1.0 sampai agriculture 4.0.

Agriculture 1.0

Situasi di awal abad 20. Era sistem intensif tenaga kerja dengan produktivitas rendah. Kebutuhan pangan di era ini disuplai oleh pertanian rakyat, dimana sepertiga dari penduduk terlibat dalam proses pertanian.

Agriculture 2.0

Dikenal dengan era “the green revolution”. Di Eropa “the green revolution”, terjadi diujung tahun 1950an. Era ini ditandai dengan penggunaan suplemen nitrogen, pestisida sintetis, pupuk sintetis, dan penggunaan mesin-mesi pertanian untuk meningkatkan produksi di lahan-lahan pertanian. 

Karakteristik pada era agriculture 2.0 adalah peningkatan hasil panen, konsolidasi lahan dan spesialisasi pertanian untuk mencapai skala ekonomi yang layak.

Agriculture 3.0

Ditandai dengan kemunculan pertanian presisi, era agriculture 4.0 diawali dengan penggunaan GPS-signals yang berasal dari teknologi militer. Pertanian presisi dimaksudkan untuk meningkatkan akurasi cara dan tata kerja bercocok tanam. Intensi pertanian presisi adalah meningkatkan pertumbuhan tanaman untuk mengoptimalkan hasil panen melalui penggunaan input dan cara kerja yang tepat dan akurat.

Perjalanan perkembangan pertanian presisi fokus pada efisiensi sepenuhnya, minimalisasi biaya untuk meningkatan laba dengan pengembangan pada obyek kegiatan tertentu, dan melalui cara-cara yang kreatif dengan penerapan intelegensia pada peralatan dan prosesnya.

Agriculture 4.0

Merupakan perkembangan lanjutan dari agriculture 3.0 dengan penerapan teknologi yang lebih canggih, berbasis teknologi ICT dan digital, yang muncul sekitar awal tahun 2010-an. Definisi agriculture 4.0 mengacu pada visi industri 4.0, yaitu integrasi jaringan-jaringan pertanian baik internal maupun eksternal.

Era agriculture 4.0 merupakan era pertanian dimana sektor-sektor pertanian dan berbagai prosesnya terhubung langsung dengan pihak eksternal seperti supplier dan konsumen akhir melalui transmisi elektronik dan digital, dengan transmisi data, dimana setiap proses saling menyambung, berkaitan dan mendukung dan berlaku otomatis. 

Pada level dan spesifikasi tertentu digunakan istilah “Smart Agriculture” dan “Digital Farming”, teknik pertanian berbasis teknologi pintar, dengan pengembangan peralatan pintar yang terdiri dari teknologi sensor, aktuartor, kecerdasan buatan dan teknologi komunikasi, transmisi data dengan kecepatan tinggi.

Perbandingan Implementasi Agriculture 4.0 Di Indonesia dengan Di Eropa

Agriculture 4.0 di Eropa merupakan agenda peningkatan industri pertanian ke tingkat advance sebagai jaminan atas ketersediaan kualitas dan kuantitas pangan. Di Eropa ketersediaan kuantitas dan kualitas pangan menjadi isu besar seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, degradasi kualitas dan kuantitas lahan pertanian, perubahan iklim, dan penurunan SDM pertanian.

Di Eropa agenda implementasi agriculture 4.0 dalam pengembangan dan penerapan teknologi tidak mengalami kendala sosial yang berarti karena pertanian di Eropa sudah terindustrialisasi, berlaku menyeluruh pada setiap aspek dan stuktur di seluruh bidang pertanian.

Agriculture 4.0 dan Transformasi Pertanian Indonesia

Karakteristik pertanian di Indonesia berbeda dengan di Eropa. Implementasi agriculture 4.0 di Indonesia berlaku paralel per proses dan bidang-bidang pertanian tertentu. Walau tidak menyeluruh, kehadiran agriculture 4.0 nampaknya akan mempercepat industrialisasi pertanian, meningkatkan laju pergeseran dari pertanian rakyat ke pertanian industri, menjadi pertanian dengan tolak ukur skala ekonomi, efisiensi dan efektivitas proses produksi dan peningkatan hasil panen secara maksimum.

Selain kehadiran agriculture 4.0 faktor-faktor yang mendorong terjadinya itu diantaranya, alih fungsi lahan pertanian, untuk permukiman dan industri. Pada tahun 2018, luas lahan pertanian 7,1 juta Ha, menyusut dari 7,75 juta Ha pada tahun sebelumnya (BPS).

Penurunan luas lahan pertanian tersebut terjadi ditengah tren berkurangnya jumlah RTUP (Rumah Tangga Usaha Pertanian) dengan luas lahan dibawah 3Ha, dimana jumlah RTUP dengan luas lahan 4Ha ketas atas, dan diatas 10 Ha justru mengalami peningkatan. Ini artinya, pertanian Indonesia sedang bergerak ke arah skala ekonomi tertentu.

Faktor lainnya, diantaranya penggunaan internet dan gadget, penurunan jumlah penduduk dengan Lapangan Kerja Utama di bidang pertanian, dan peningkatan tingkat pendidikan SDM pertanian, menyatakan pertanian Indonesia sedang mengalami transformasi, dari pertanian rakyat ke pertanian industri.

Img feature: GenAgraris.ID
Digital Farming: What Does It Really Mean?. European Agricultural Machinery (CEMA). 
Agriculture 4.0: the future farming of technology. World Government Summit & Oliver Wyman.
66 Shares
 
Update Lainnya
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Solusi bisnis muncul berasal dari niat baik atau goodwill untuk memecahkan atau menyelesaikan suatu problematika, permasalahan yang dialami orang banyak.
12 hours ago
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Mengusung tema “Moving Forward to Serve The World”, Trade Expo Indonesia, TEI 2019 akan digelar pada 16—20 Oktober, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten.
1 day ago
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Indonesia merupakan produsen palm oil terbesar di dunia. Sebagai komoditas unggulan selain kotribusi ekonomi kegunaan minyak sawit diantaranya sebagai bahan baku minyak goreng, margarin, sabun dan lainnya...
2 days ago
Load more