Dasar-dasar Ilmu Bisnis, Belajar yang Tersembunyi dari Petani
MANAJEMEN

Dasar-dasar Ilmu Bisnis, Belajar yang Tersembunyi dari Petani

1 week ago
480 views

Ketika bercocok tanam, menggarap lahan, sawah atau ladang, setelah menanam benih atau bibit petani biasanya inten menengok dan merawat tanaman yang masih baru tersebut. 

Belajar Dari Petani 

Tanaman yang baru tumbuh masih rentan terhadap berbagai kondisi tidak ideal dan ekstrim. Akar masih dalam tahap pertumbuhan, belum dapat menjangkau dan menyerap nutrisi secara maksimal.  Kadar air dan kondisi tanah lainnya masih harus dijaga dan dipastikan tingkat ideal kesuburannya supaya tanaman tumbuh maksimal.

Pada fase itu, petani hampir setiap hari, pagi atau sore setidaknya akan menengok tanaman, untuk mengamati dan meneliti setiap perubahan yang terjadi pada tanaman. Ketika tanaman terserang hama, jika masih memungkinkan petani biasanya langsung menambal atau menyulam, mengganti tanaman yang terserang hama, menanam tanaman baru yang sejenis ditempat yang sama.

Setelah tanaman tumbuh, berbunga atau berbuah, petani hanya melihat sekilas bunga atau buahnya itu. Pada fase itu justru yang intens dilihat dan dirawat diantaranya, daun, akar dan batangnya.  Petani akan meneliti per lembar daunnya, terutama ketika terlihat ada yang janggal.

Lalu ia akan mencabut atau menggali tanaman itu untuk melihat akarnya. Jika sudah dipastikan terserang hama dan diketahui penyembab dan penyakitnya tanaman akan disemprot dengan obat. Dan, jika dimungkinkan akan menular, tanaman segera dicabut dan dimusnakan yang biasanya dengan cara dibakar atau dipendam.

Rangkaian kegiatan bercocok tanam diatas umum dilakukan oleh petani dimanapun, baik itu petani terdidik atau tidak terdidik. Bahkan, justru petani yang tidak terdidik, yang sering dianggap tidak kompeten lebih mampu melihat gejala-gejala pertumbuhan tanaman dan lingkungan tanpa bantuan alat.

Walau tidak bisa menjabarkannya, petani tulen atau petani kluthuk mengetahui dan memahami kondisi alam melalui berbagai fenomena alam yang terjadi, tanda-tanda akan adanya hama, tanda-tanda akan terjadi kekeringan, tanda-tanda tempat atau lokasi sumber air dan lain sebagainya.

Charles Darwin & Product Life Cycle

Dasar-dasar pemikiran bercocok tanam diatas sangat relevan untuk diaplikasikan dalam pengembangan usaha atau binis, baik itu perusahaan besar atau kecil, atau startup. Ingkat siklus hidup usaha (business life cycle), atau siklus hidup produk (product life cycle)? Itu dasarnya. Dalam sejarahnya, PLC (product life cycle) tidak terlepas dari tanaman, adopsi ilmu hayati, pemikiran evolusionis dengan tokohnya yang terkenal, Charles Dawrin. Malthus (1798), atau lengapnya Robert Malthus, menerapkan prisnip-prinsip perkembangbiakan mahluk hidup dalam penelitian laju pertumbuhan penduduk.

Singkat cerita, siklus hidup produk atau product life cycle (PLC) dari Levitt (1965) yang populer sekarang ini, merupakan pengembangan dari pada kurva lonceng (bell-shaped curve), yang pertumbuhan dan penurunan geomteris pada kurva tersebut asalnya dari pengaruh unsur-unsur biologi pada penelitian populasi mahluk hidup yang dilakukan oleh Pearl pada tahun 1925.

Artinya, jika siklus hidup usaha atau bisnis sebagai ilmu manajemen berasal dari dasar-dasar pemikiran yang merupakan kesimpulan dari penelitian atas populasi tanaman, antara dasar-dasar pemikiran bercocok tanam dengan pola pikir pengembangan usaha atau bisnis juga sebenarnya memiliki relevansi yang erat.

Siklus Bercocok Tabam & Siklus Usaha

Walau seiring dengan perubahan iklim dan cuaca yang lebih sulit diprediksi, namun yang paling penting pada rangkaian proses bercocok tanam diatas adalah representasi pola pikir yang holistik atau menyeluruh dan mendasar. Bahkan, proses bercocok tanam yang dilakukan petani merepresentasikan pembelajaran studi kasus dengan kerangka umum kejadian dalam lingkup ruang dan waktu tertentu, dimana data pengalaman empiris dan kesimpulan-kesimpulannya dirangkum dalam kerangka berfikir pembelajaran pola untuk memprediksi setiap gejala atau kejadian.

Singkat saja, aplikasi dasar-dasar atau falsafah pemikiran bercocok tanam ala petani tulen atau kluthuk, dalam dunia bisnis secara parsial, perkasus diantaranya:

  • Tentunya fase pertumbuhan tanaman yang dapat juga dapat dugunakan sebagai pemetaan fase pengembangan usaha. Bahwa ketika tanaman masih bayi atau masih baru ditanam, seperti halnya usaha bisnis yang masih baru, perawatan atau pengelolaan usaha harus intens, dan yang menanam langsung yang harus mengawal dan merawatnya.
  • Bahwa perkembangan tanaman tidak terlepas dari faktor tingkat kesuburan tanah dan kondisi iklim dan cuaca, begitu juga sebuah usaha atau bisnis, tidak terepas dari faktor internal, manajemen, organisasi dan terutama orang-orang didalamnya, dan juga kondisi eksternal, lingkungan bisnis, pasar, kebijakan dan lainnya.
  • Bahwa petani dalam meneliti tanaman tidak hanya satu bagian tanaman, begitu juga bisnis. Apa yang terdampak dan berpengaruh dalam perkembangan bisnis bisa saja berbeda. Penurunan penjualan bisa saja merupakan faktor terdampak sebagai akibat atau pengaruh dari faktor lain misalnya, inovasi yang tidak jalan. Seperti halnya, bunga yang tidak sempurna pada tanaman akibat dari kurangnya asupan nutrisi tertentu, atau adanya hama tertentu.

Holistik dan Mendasar

Dalam dasar-dasar pemikiran bercocok tanam pola pokir kasus tersebut terangkai dalam satu framework pemikiran atau cara berfikir yang holistik dan mendasar, bukan hanya tentang alam tetapi juga menyangkut sosial. Dasar atau falsafah berfikir tersebut, terepresentasikan dari tradisi-tradisi agraris, seperti sedekah bumi, “mimiti”, perayaan tumbuk padi dan lainnya.

Sumber/referensi:
Origins and Development of the Product Life Cycle Concept
Product Life Cycle: the evolution of a paradigm and literature review from 1950-2009
img feature: genagraris.id
66 Shares
 
Update Lainnya
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Solusi bisnis muncul berasal dari niat baik atau goodwill untuk memecahkan atau menyelesaikan suatu problematika, permasalahan yang dialami orang banyak.
12 hours ago
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Mengusung tema “Moving Forward to Serve The World”, Trade Expo Indonesia, TEI 2019 akan digelar pada 16—20 Oktober, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten.
1 day ago
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Indonesia merupakan produsen palm oil terbesar di dunia. Sebagai komoditas unggulan selain kotribusi ekonomi kegunaan minyak sawit diantaranya sebagai bahan baku minyak goreng, margarin, sabun dan lainnya...
2 days ago
Load more