Budidaya dan Potensi Ekonomi Jahe Sebagai Komoditas Ekspor
BUDIDAYA

Budidaya dan Potensi Ekonomi Jahe Sebagai Komoditas Ekspor

RuthMW
1 month ago
273 views

Jahe (Zingiber officinale Rosc) merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor. Komoditas rempah ini termasuk tanaman bernilai tinggi, dengan peluang bisnis yang potensial dan masih terbuka.

Volume permintaan global komoditas yang termasuk tanaman herba ini terus meningkat. Itu terjadi seiring dengan makin berkembangnya industri makanan dan minuman yang menggunakan bahan baku jahe. Selain itu, sebagai tanaman herba, jahe diketahui sangat bermanfaat menjadi bahan baku obat tradisional maupun fitofarmaka.

Penyebaran tanaman jahe di dunia yaitu di daerah tropis, di benua Asia dan Kepulauan Pasifik. Diketahui juga, budidaya jahe banyak dilakukan di Jamaica, Brazil, Hawai, Afrika, India, China dan Jepang, Filipina, Australia, Selandia Baru, Thailand dan Indonesia.

Di Indonesia, jahe tumbuh di semua wilayah yang ditanam secara monokultur dan polikultur. Dalam dunia perdagangan, penyebutan atau pemberian nama jahe didasarkan kepada daerah asalnya, misal jahe Afrika, jahe Chochin atau jahe Jamika.

Daerah Penghasil Jahe dan Produk Unggulan Jahe

Sejak 2,5 abad yang lalu, diketahui jahe asal Cina sudah digunakan sebagai bumbu dapur dan obat. Selain itu, pada abad pertengahan di Eropa, jahe digunakan sebagai aroma pada bir. Sedangkan, di Malaysia, Filipina, dan Indonesia, jahe banyak digunakan sebagai obat tradisional. 

Beberapa daerah utama yang diketahui sebagai produsen jahe di Indonesia yaitu Jawa Barat (Sukabumi, Sumedang, Majalengka, Cianjur, Garut, Ciamis dan Subang), Banten (Lebak dan Pandeglang), Jawa Tengah (Magelang, Boyolali, Salatiga), Jawa Timur (Malang Probolinggo, Pacitan), Sumatera Utara (Simalungun), dan Bengkulu.

Seiring dengan peningkatan permintaan, banyak muncul produk jahe dan areal penanamannya berkembang meluas. Sebagai komoditas ekspor, jahe hasil budidaya dikemas dalam bentuk berupa jahe segar, asinan (jahe putih besar), jahe kering (jahe putih besar, kecil dan jahe merah), maupun minyak atsiri dari jahe putih kecil (jahe emprit) dan jahe merah.

Jenis Jahe Di Indonesia

Di Indonesia, ada 3 tipe jahe yang didasarkan pada bentuk, warna dan aroma rimpang serta komposisi kimianya, diantaranya  yaitu:

1. Jahe putih besar (Z. officinale var. officinarum)

Jahe ini mempunyai rimpang besar berbuku, berwarna putih kekuningan dengan diameter 8,47 – 8,50 cm, aroma kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang 6,20–11,30 dan 15,83–32,75 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri didalam rimpang 0,82 – 2,8%. Varietas unggul jahe putih besar, yakni Cimanggu-1, memiliki potensi produksi sebesar 17 - 37 ton/ha.

2. Jahe putih kecil (Z. officinale var. amarum)

Jahe jenis ini mempunyai rimpang kecil berlapis-lapis, aroma tajam, berwarna putih kekuningan dengan diameter 3,27 – 4,05 cm, tinggi dan panjang rimpang 6,38–11,10 dan 6,13–31,70 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri 1,50 – 3,50%. Varietas unggul jahe putih kecil memiliki potensi produksi sebesar 16 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%.

3. Jahe merah (Z. officanale var. rubrum)

Jahe merah mempunyai rimpang kecil berlapis, aroma sangat tajam, berwarna jingga muda sampai merah dengan diameter 4,20 – 4,26 cm, tinggi dan panjang rimpang 5,26 – 10,40 dan 12,33 – 12,60 cm, warna daun hijau muda, batang hijau kemerahan dengan kadar minyak atsiri 2,58 – 3,90%. Potensi produksi jahe merah yaitu sebesar 22 ton/ha, kadar minyak atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%.

Syarat Tumbuh Tanaman Jahe

Dalam memulai usaha budidaya jahe, perlu diperhatikan syarat dari pertumbuhan tanaman jahe itu sendiri, diantaranya yaitu iklim, media tanam, dan ketinggian tempat.

1. Iklim

Hal-hal yang berkiatan dengan iklim yaitu:

  • Curah hujan yang optimum untuk pertumbuhan tanaman jahe yaitu: 2500 – 4000 mm/tahun.
  • Penanaman jahe dilakukan di tempat terbuka untuk mendapat sinar matahari langsung, khususnya pada umur tanaman 2,5-7 bulan atau lebih.
  • Untuk tumbuh optimal, tanaman jahe perlu suhu sekitar 20-35 oC.

2. Media Tanam

Sedangkan, hal-hal yang berkaitan dengan media tanam yaitu:

  • Penanaman jahe paling cocok pada tanah yang subur, gembur, dan banyak mengandung humus, dengan tekstur tanah lempung berpasir, liat berpasir, dan tanah laterik.
  • Keasaman tanah atau pH yang optimum untuk pertumbuhan jahe yaitu sekitar 4,3-7,4. Jika lahan memiliki pH rendah, dapat ditambahkan kapur pertanian (kaptan) 1 - 3 ton/ha atau dolomit 0,5 - 2 ton/ha untuk meningkatkan pH tanah.

3. Ketinggian Tempat

Selanjutnya, syarat yang berkaitan dengan ketinggian tempat yaitu:

  • Daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-2000 m dpl.
  • Penanaman jahe di wilayah-wilayah di Indonesia, membutuhkan ketinggian 200 – 600 m dpl.

Budidaya Jahe

Selain syarat-syarat pertumbuhan, dalam penanaman jage juga perlu diperhatikan cara budidayanya, diantaranya yaitu:

1. Persiapan lahan

  • Pengolahan tanah, menggarpu dan mencangkul tanah agar gembur dan untuk membebaskan dari gulma. 
  • Setelah tanah diolah dan digemburkan, dibuat bedengan searah lereng, khususnya untuk tanah yang miring, sistem guludan atau dengan sistim parit. Pada bedengan atau guludan itu kemudian dibuat lubang tanam.

2. Jarak tanam

  • Tanam benih jahe sedalam 5-7 cm dengan tunas menghadap ke atas agar pertumbuhan tidak terhambat.
  • Jarak tanam yang digunakan untuk jenis-jenis jahe berbeda-beda. Untuk penanaman jahe putih besar yang dipanen tua adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm, jahe putih kecil dan jahe merah 60 cm x 40 cm.

3. Pemupukan

  • Dosis untuk pupuk kandang domba atau sapi yang sudah masak yaitu sebanyak 20 ton/ha yang diberikan 2 - 4 minggu sebelum tanam. Sedangkan dosis untuk pupuk buatan seperti SP-36 yaotu sebanyak 300 - 400 kg/ha dan KCl 300 - 400 kg/ha. Pupuk kandanng atau pun pupuk buatan diberikan pada saat tanam.
  • Dosis untuk pupuk urea diberikan 3 kali pada umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanam sebanyak 400 - 600 kg/ha, masing-masing 1/3 dosis setiap pemberian. Pada umur 4 bulan setelah tanam dapat pula diberikan pupuk kandang ke dua sebanyak 20 ton/ha.

4. Pemeliharaan

Bertujuan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik. Ada beberapa tahap dalam proses pemeliharaan, diantaranya yaitu:

a. Penyiangan gulma

  • Tanaman jahe diatas, pada umur 4 bulan perlu dilakukan penyiangan gulma agar tidak merusak perakaran yang dapat menyebabkan masuknya benih penyakit. 
  • Untuk mengurangi intensitas penyiangan bisa digunakan mulsa tebal dari jerami atau sekam.
  • Ketika tanaman jahe berumur 6-7 bulan, biasanya banyak tumbuh gulma, sehingga penyiangan perlu dilakukan secara intensif supaya bersih.

b. Penyulaman

  • Menyulam dilakukan pada tanaman jahe umur 1–1,5 bulan yang tidak tumbuh setelah tanam
  • Menyulam dilakukan dengan memakai benih cadangan yang sudah diseleksi dan disemaikan.

c. Pembumbunan atau pendangiran

  • Tanaman jahe yang dilakukan pembumbunan biasanya pada saat telah terbentuk rumpun dengan 4 - 5 anakan dengan tujuan agar rimpang selalu tertutup tanah dan drainase akan selalu terpelihara.

d. Pengendalian hama dan penyakit tanaman

  • Serangan hama dan penyakit pada tanaman muda (< 6 bulan) akan menyebabkan penurunan produksi yang cukup signifikan.
  • Penyakit utama pada tanaman jahe adalah busuk rimpang yang disebabkan oleh serangan bakteri layu (Ralstonia solanacearum).
  • Sedangkan hama yang cukup signifikan adalah lalat rimpang Mimergralla coeruleifrons (Diptera: Micropezidae) dan Eumerus figurans (Diptera: Syrpidae), kutu perisai (Aspidiella hartii) yang menyerang rimpang mulai dari pertanaman dan menyebabkan penampilan rimpang kurang baik serta bercak daun yang disebabkan oleh cendawan (Phyllosticta sp.).
  • Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan penggunaan lahan sehat, penggunaan benih sehat, perlakuan benih sehat (antibiotik), menghindari perlukaan (penggunaan abu sekam), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman dan gulma, pembuatan saluran irigasi supaya tidak ada air menggenang dan aliran air tidak melalui petak sehat (sanitasi), inspeksi kebun secara rutin.
  • Pencegahan perluasan penyakit dapat dilakukan dengan menyemprotkan fungisida untuk serangan penyakit tanaman jahe dan pestisida untuk serangan hama tanaman jahe. Penyemprotan dilakukan segera setelah terlihat ada serangan (diulang setiap minggu sekali), sanitasi tanaman sakit.

Budidaya Standar GAP Untuk Meningkatkan Nilai Jual Jahe

Upaya pembudidayaan jahe secara optimal dan berkesinambungan dilakukan dengan mendukung pengembangan budidaya jahe dalam skala luas. Untuk mencapai tingkat keberhasilan budidaya yang optimal diperlukan bahan tanaman dengan jaminan produksi, mutu yang baik dan stabil, dengan cara menerapkan budidaya sesuai SOP.

Sebagai contoh, salah satu kendala dalam proses ekspor jahe hasil budidaya asal Indonesia, yaitu adanya penolakan ekspor jahe Indonesia di negara tujuan terutama Jepang, karena tingginya kontaminasi mikro organisme, seperti jamur dan bakteri.

Untuk itu dalam budidaya jahe perlu diterapkan standar yang memenuhi syarat ekspor, diantaranya dengan penggunaan bahan tanaman sehat yang berasal dari varietas unggul.

Selain itu, karena kualitas simplisia bahan baku industri hilir ditentukan oleh proses budidaya dan pasca panennya, maka pembakuan Standard Operational Procedur (SOP) budidaya jahe dibuat guna mendukung Good Agricultural Practices (GAP).

1. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2008. Teknologi Budidaya Jahe.

2. Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS, Jakarta, Februari 2000. Editor, Kemal Prihatman.

3. Ojon Solikin. Pengembangan Jahe dan Budidayanya. Penyuluh Kehutanan Kab. Ciamis.

66 Shares
 
Update Lainnya
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Mendalami Pemahaman dan Merumuskan Ide Menjadi Solusi Bisnis
Solusi bisnis muncul berasal dari niat baik atau goodwill untuk memecahkan atau menyelesaikan suatu problematika, permasalahan yang dialami orang banyak.
13 hours ago
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Akan Digelar Pada 16 -20 Oktober, Trade Expo Indonesia 2019 Menargetkan Kenaikan Nilai Transaksi 10-15%
Mengusung tema “Moving Forward to Serve The World”, Trade Expo Indonesia, TEI 2019 akan digelar pada 16—20 Oktober, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten.
1 day ago
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Sekilas Mengenal Sawit Indonesia dan Produk yang Berasal Dari Minyak Sawit
Indonesia merupakan produsen palm oil terbesar di dunia. Sebagai komoditas unggulan selain kotribusi ekonomi kegunaan minyak sawit diantaranya sebagai bahan baku minyak goreng, margarin, sabun dan lainnya...
2 days ago
Load more