Agrikultur 4.0, Posisi Startup Pertanian Diantara Pelaku Utama Usaha Pertanian
RINTISAN

Agrikultur 4.0, Posisi Startup Pertanian Diantara Pelaku Utama Usaha Pertanian

Admin
3 months ago
855 views

Geliat era baru pertanian di Indonesia sudah sangat kentara terutama sejak kehadiran startup pertanian. Umumnya, perusahaan pertanian konvensional cenderung eksklusif dalam integrasi diluar sistem bisnis dan industri, dengan hanya melalui saluran bisnis atau distribusi “formal” dan sudah terbentuk sebelumnya (baku).

Startup Pertanian

Berbeda dengan perusahaan pertanian konvensional, startup pertanian dengan inovasi dan model bisnisnya, memungkinkan untuk menembus sekat rantai nilai dan sekat sektoral, mengintegrasikan simpul-simpul bisnis pertanian, baik vertikal maupun horizontal kedalam suatu platform.

Contohnya, sekarang ini petani dapat langsung terhubung dengan konsumen akhir, atau yang paling mencolok perubahan pola konsumsi pangan dimana konsumen dapat berpartisipasi langsung terhadap proses produksi diladang, melalui berbagai sistem seperti crowdfunding dan pemantau proses ladang secara real time dimanapun dan kapanpun.

Kenyataan tersebut merupakan wujud nyata era baru agrikultur 4.0 yang eskalasinya akan terus meningkat seiring dengan transformasi pertanian yang sedang terjadi. Atas itu salah satu pesan pentingnya yaitu adanya tuntutan perubahan tata cara kerja, model, dan metode pada pelaku utama pertanian.

Pelaku Utama Pertanian

Pelaku utama pertanian adalah petani dan perusahaan pertanian. Keduanya dapat dipilah lagi secara spesifik berdasarkan skala kegiatan usaha atau orientasinya. Berdasarkan orientasi atau tujuan bertani, pelaku utama pertanian dapat dibedakan kedalam tiga kelompok sebagai berikut:

1. Petani Tradisional

Petani tradisional atau petani, bertani untuk tujuan pemenuhan kebutuhan pangan rumah tanga pribadi. Karakteristik petani tradisional ini, diantaranya pengolahan lahan, penanaman dan pemanfaatan hasil panennya tidak memperhatikan untung-rugi, luas lahan pertanian terbatas, bertani dilakukan dengan cara manual, sistem kerja komunal yang terdiri dari anggota keluarga. 

2. Pengusaha Tani

Pengusaha tani, bertani untuk tujuan komersial. Karakteristik pengusaha tani ini, diantaranya mengelola lahan dan mengolah lahan pertanian sebagai sebuah usaha agribisnis, pengelolaan usaha bisa perorangan atau bisnis keluarga dengan bentuk usaha bisa tidak berbadan hukum, atau berbadan hukum UD (Usaha Dagang), adanya sistem kerja usaha, seperti pencatatan dan sebagainya walapun masih sangat sederhana, luas lahan yang dikelola lebih luas dibanding petani tradisional, dan umumnya merupakan usaha perdagangan.

3. Perusahaan Pertanian

Perusahaan/korporasi pertanian, bertani untuk tujuan bisnis. Karakteristik dari pelaku utama pertanian ini diantaranya, dikelola dengan sistem manajemen modern, kegiatan usaha mencakup hulu-hilir, dan lahan yang dikelola terhitung masif.

Keberadaan dan Posisi Startup Pertanian

Diluar kelompok itu, kehadiran agrikultur 4.0 melahirkan pelaku utama baru dibidang pertanian, yaitu startup pertanian. Startup atau perusahaan rintisan pertanian merupakan usaha pertanian yang mengandalkan teknologi sebagai core competency-nya yang dikembangkan sebagai layanan atau produk, dengan adpatasi bisnis model yang sebelumnya belum pernah terjadi.

Orientasi startup pertanian sama dengan perusahaan/korporasi pertanian. Diantara keduanya, yang membedakan adalah bisnis model, dan core competency-nya. Dengan bisnis model dan core competency teknologinya, startup pertanian mempunyai kemampuan akselerasi, mengakuisisi pelanggan menjadi user, dan dapat tidak tergantung dengan land input.

Namun, land input bagi startup masih merupakan faktor utama dalam usaha pertanian, walau startup pertanian dapat mengembangkan model akuisisi tanah yang lebih fleksibel. Keunggulan fleksibilitas, kelincahan dan daya akselerasi startup ini yang membuat berbeda dan mampu me-disrupsi sektor pertanian.

img feature: edit. GenAgraris.ID
Ir. Edi Kusmiadi. Modul I: Pengertian dan Sejarah Perkembangan Pertanian
66 Shares
 
Update Lainnya
Mengenal Jamur dan Jamur Shitake Sebagai Bahan Pangan Fungsional
Mengenal Jamur dan Jamur Shitake Sebagai Bahan Pangan Fungsional
Sebagai bahan pangan fungsional jamur memiliki fungsi obat. Pada jamur shitake, kahsiatnya diantaranya menghambat pertumbuhan kanker, obat penyakit jantung dan kencung manis, antivitus dan lainnya.
3 days ago
Mengenal Konsep Farm To Table Sebagai Solusi Pangan Terintegrasi
Mengenal Konsep Farm To Table Sebagai Solusi Pangan Terintegrasi
Teknologi digital turut menjadi trigger atas perkembangan berbagai pengaplikasian farm to table dengan berbagai model, dan di berbagai ranah usaha penyediaan makanan.
1 week ago
Cangkul, Bajak & Perkembangannya Sampai Pada Era Pertanian 4.0
Cangkul, Bajak & Perkembangannya Sampai Pada Era Pertanian 4.0
Pengembangan bajak sebagai perangkat pengolahan tanah kedepan mungkin akan ada bajak listrik.
1 week ago
Load more