Tradisi

Tradisi Besiru, Wujud Gotong-royong dalam Aktivitas Pertanian Suku Sasak

Tradisi Besiru, kebiasaan saling membantu pada musim tanam masih berlangsung dan dipertahankan pada masyarakat suku Sasak di Lombok.

  1. 0 Komentar
null

Tradisi Besiru pada Masyarakat Sasak

Suku Sasak merupakan suku yang telah menghuni Pulau Lombok sejak 4000 tahun yang lalu. Konon mereka adalah percampuran antara penduduk asli Lombok dan pendatang dari Jawa. Seperti pada mayoritas suku lainnya di Nusantara, suku Sasak juga menjadikan aktivitas agraris sebagai kegiatan pokoknya dalam mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

Pada aktivitas Sasak dikenal tradisi Besiru. Yaitu bergotong-royong dalam bentuk solidaritas antar warga di setiap tahapan proses pertanian, mulai dari mengelola tanah pertanian, menanam, hingga melaksanakan panen secara bergilir tanpa upah.Di daerah Lombok lain, tradisi ini disebut juga dengan istilah Betulung, Betenak atau Betejak (Asri, 1995).

Tradisi Besiru atau dapat disebut dengan kebiasaan saling membantu pada musim tanam masih berlangsung dan dipertahankan pada masyarakat suku Sasak di Lombok meskipun hanya di sebagian kecil wilayahnya, terutama yang masih tinggal di wilayah pedesaan dan pegunungan. Besiru biasanya dilaksanakan saat musim hujan tiba, musim tanam padi dan musim tanam tembakau, para petani akan saling membantu dari ladang satu ke ladang lain.

Pada saat musim padi, masyarakat akan saling membantu dalam memperbaiki pematang sawah (memundukin) dan memencar bibit padi yang akan ditanam (mencar ampar). Ketika mulai musim panen, masyarakat setempat juga bergotong royong memanen padi (begabah). Sedangkan pada musim tembakau, masyarakat saling membantu menyelesaikan pekerjaan membuat bedengan (miak kuburan), memasang mulsa dari jerami (ngengerap), dan menanam tembakau (nalet mako).

Nilai-nilai dan Kearifan

Seperti halnya kearifan agraris lainnya, selain aktivitas pertanian yang dapat kita lihat dengan kasat mata, Besiru juga memiliki cerminan nilai-nilai luhur bangsa, yaitu :

1. Tolong Menolong dan Gotong-Royong

Adalah bentuk nilai yang kini semakin sulit ditemukan dalam kehidupan bermasyarakat, terutama di kota besar. Tradisi Besiru pada masyarakat Sasak manusia sebagai mashluk sosial, yaitu tidak terlepas dari tolong-menolong, dengan bentuk kerja yang ideal gotong royong, tanpa menanggalkan manusia sebagai manhluk individu. Dengan adanya tradisi Besiru sejak kecl  masyarakat Sasak terdidik konsep tolong menolong dan gotong royong, yang kemudian menjadi dasar dari sikap empati sosial.

2. Persatuan dan Kesatuan

Tolong-menolong dengan sistem kerja gotong-royong pada tradisi Besiru mempererat hubungan antar induvidu, dan mempersatukan masyarakat sebagai satu kesatuan masyarakat yang utuh.

3. Kesetaraan Sosial & Keadilan Sosial

Besiru tidak mengenal status ekonomi dan sosial ketika diaplikasikan, karena tradisi Besiru tidak mengenal upah sebagai pengganti jasa yang dilakukan oleh masyarakat. Hal ini membuat semua petani dapat merasakan manfaat Besiru degan adil. 

Sumber:
Zulkarnaen. Aktualisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Besiru Pada Masyarakat Sasak Sebagai Upaya Menguatkan Identitas Bangsa. UNY. 2017
img feature: pertanian dokoan lemu. sebumi.id 
  1. 0 Komentar
Referensi

0 Komentar