Liputan

Taufik Madjid, Butuh Kolaborasi Dalam Pembangunan Desa Pertanian

82% desa kita adalah desa pertanian, ada kategorisasi, tapi yang kita mau adalah satu konsep dan kebijakan yang terintegrasi, ada skalanya.

  1. 0 Komentar
null

Daerah perdesaan dan sektor pertanian dapat memberikan kontribusi pada sektor industri yang diposisikan sebagai sektor unggulan dalam pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Tanpa pembangunan yang integratif, pertumbuhan industri tidak akan berjalan lancar, namun justru akan menciptakan ketimpangan internal dalam perekonomian, memperparah masalah kemiskinan, pendapatan dan pengangguran.

Tetapi sayangnya, sebagian besar masyarakat Indonesia bahkan pemerintah tampak seolah belum menyadari akan pentingnya pembangunan daerah pedesaan dan sektor pertanian sehingga masih menempatkannya sebagai unsur penunjang pembangunan.

Tanya Pembangunan Desa Ke Dirjen PPMD, Kemendes PDTT

Namun, ketika ditemui dalam kegiatan Sarasehan Nasional Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) PBNU dengan tema “Optimalisasi Sumber Daya Alam dalam Rangka Mewujudkan Desa Mandiri” yang dilaksanakan pada hari Rabu (04/12), di hotel Acacia Jakarta Pusat, Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dirjen PPMD), Kemendes PDTT, Taufik Madjid menyampaikan beberapa hal penting mengenai pembangunan desa.

T : Bicara tentang desa dan potensinya, adakah program dari kemendes untuk memaksimalkan potensi-potensi desa sebagai desa pertanian atau desa nelayan, dan sebagainya?

82% desa kita adalah desa pertanian, ada kategorisasi, tapi yang kita mau adalah satu konsep dan kebijakan yang terintegrasi, ada skalanya. Tetapi selama ini kita selalu bermasalah dengan pasca panen.

T : Lalu itu bagaimana pak solusinya kira-kira?

Kolaborasi. Tidak mungkin hanya Kementrian Desa, ada Kementerian Pertanian, Kementerian PU, Kementerian Perdagangan untuk urusan suply-demand, Kementrian Kominfo untuk masuk kedalam digitalisasi, bicara akses internet dan sebagainya. Orang mau jual kan butuh kesempatan untuk mem-promote hasil produk pertaniannya lewat teknologi digital. 

Jadi kita bicara semua, semuanya harus kita lakukan. Bahkan kolaborasi juga harus dilakukan dengan lembaga-lembaga yang langsung bersinggungan dengan masyarakat desa.

T: Mengingat kondisi pedesaan yang masih tradisional, apakah kiranya SDM yang ada di sana sudah mampu untuk menerima dan melaksanakan program dari hasil kolaborasi itu?

Ketika kita bicara soal SDM unggul di Indonesia, maka kita bicara tentang 3 hal. Yaitu bicara pendidikan, bagaimana masyarakat desa memiliki pengetahuan dan skill yang memadai untuk siap menerima tantangan di masa depan, atau lebih jauh lagi, bagaimana menyiapkan SDM yang unggul dan cerdas sejak dalam kandungan.

Hal itu kemudian berhubungan dengan hal kedua, yaitu kesehatan, bagaimana menjaga ibu hamil agar bayinya sehat dan cerdas, mindset-nya juga harus diubah supaya menjalani hidup sehat, lalu bagaimana sistem sanitasi desa yang layak dan sebagainya.

Kemudian bicara ekonomi, bagaimana masyarakat dapat berdaya secara ekonomi dengan memaksimalkan potensi yang ada di desanya.  

Dan ketiga hal tersebut semuanya prioritas, tidak ada nomor 1, 2, dan 3. Ketiga hal prioritas tersebut harus secara stimultan dilakukan, harus secara bersama-sama dilakukan. Karenanya kolaborasi dari pemerintah di berbagai sektor prioritas harus solid, bukan hanya pemerintah pusat saja tetapi juga pemerintah lokal, pemerintah provinsi, kabupaten kota sampai desa. In-line, postur APBN juga harus fokus pada SDM unggul Indonesia.

  1. 0 Komentar
Referensi

0 Komentar