Tradisi

Pertanian Agrosilvopastural Masyarakat Merabu

Pertanian agrosilvopastural, merupakan konsep atau metode pertanian yang memadukan kekayaan hutan dengan peternakan dan pertanian (bercocok tanam).

  1. 0 Komentar
null

Merabu, selain terkenal karena keindahan alam dan wisatanya, pada masyarakatnya juga tertanam khasanah sosial-ekonomi dan pertanian yang berlandaskan pada kearifan, nilai-nilai kebijaksanaan yang mencerminkan nilai budaya yang tinggi.

Selain mengembangkan model pemberdayaan ekonomi mandiri melalui kegiatan desa, kampung Merabu juga memiliki hak atas pengelolaan hutan desa selua 8.245 hektar. Masyarakat kampung Merabu mengembangkan konsep pertanian agrosilvopastural, model atau metode pertanian yang memadukan kekayaan hutan dengan peternakan dan pertanian (bercocok tanam)yang pada masyarakat merabu di sebut Doko’an Lemu.

Doko’an Lemu artinya tempat banteng, karena masyarakat Dayak tidak mempunyai nama khusus untuk sapi. Dokoan lemu diimplementasikan pada lahan seluas 25 hektar, dan sudah berkembang peternakan 30 ekor sapi. Pdda lahan tersebut, selain beternak sapi, didalamnya masyarakat Merabu juga beternak ayam, bebek serta budidaya ikan nila dan lele.

pertanian agrosilvopastural masyarakat merabu
Sebumi.id

Untuk implementasi agrosulvopastural lainnya, kampung Merabu juga memiliki kebun sayur dan singkong yang ibu-ibu juga ikut mengelolannya. Hasilnya untuk menjaga ketersediaan bahan pangan warga, sebagian lainnya diolah menjadi produk bernilai tambah seperti kripik singkokng. Hasil sayuran selain untuk pemenuhan kebutuhan sendiri juga untuk dijual ke kota lainnya.

Setiap 2-3 tahun sekali, masyarakat Merabu Panen madu hutan. Hasil panen madu hutan asli tersebut dikelola oleh Kerima Puri.

Sumber: Sebumi.id
  1. 0 Komentar
Referensi

0 Komentar