Manajemen

Pengembangan Tiga Model Bisnis Dasar Pertanian

Pengembangan model bisnis Pertanian Keluarga, Pertanian Kolaboratif, dan Pertanian Korporat sebagai solusi inefisiensi pertanian rakyat. 

  1. 0 Komentar
  2. 3 Dibagikan
null

Jumlah rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan termasuk petani dengan kepemilikan lahan dibawah 0,5 Ha pada tahun 2018 berjumlah 27,2 juta, meningkat 1,47 juta dari tahun 2013 dengan jumlah 25,7 juta. Di Indonesia pelaku pertanian didominasi oleh rumah tangga usaha pertanian dengan penguasahaan lahan dibawah 5 Ha, yaitu mencapai 26,6 juta, dimana petani dengan penguasaan lahan dibawah 0,5 Ha mencapai 16,2 juta (Hasil Survai Pertanian Sutas 2018).

Pola Pertanian Rakyat 

Pertanian dengan penguasaan lahan terbatas, dibawah 5 hektar, identik dengan pertanian rakyat. Struktur pelaku pertanian Indonesia didominasi oleh pertanian rakyat, mencapai 26,6 juta. 

Pertanian rakyat umumnya tidak dikelola secara intensif. Sehingga, tidak efisien, dan koualitas komoditas yang dihasilkan tidak terstandar. Dari kacamata bisnis dan pembangunan itu menjadi kendala, atau permasalahan, karena pemanfaatan lahan tidak produktif dan usahatani tidak berkembang.

Tapi, dari sisi kacamata kultural pertanian rakyat merupakan penopang pangan nasional. Menurut FAO 80% pasokan pangan berasal dari petani. Dari sisi kultural pertanian rakyat memang tidak ditujukan untuk bisnis, melainkan lebih pada pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga, dimana hasil panen lebihnya menjadi pendapatan tambahan, yang fungsinya lebih ke tabungan atau investasi.

Petani yang tergolong pertanian rakyat biasanya mempunyai profesi lain, atau pekerjaan lain, baik tetap maupun serabutan, misal sebagai tukang kayu, memiliki toko kelontong, sebagai tukang bangunan atau bahkan sembari menunggu panen bekerja di kota.

Jadi, pertanian rakyat dapat dikatakan belum memenuhi kategori usahatani. Pertanian rakyat merupakan pertanian model 'farm for food', bertani untuk memenuhi kebutuhan pangan. Belum "farm for business' bertani untuk tujuan bisnis yang sifatnya profit oriented. Sehingga, tidak dibutuhkan hitung-hitungan sekala ekonomi, efisiensi, dan efektifitasnya.

Desakan Pada Petani Pertanian Rakyat

Seiring dengan peningkatan tuntutan pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan, transportasi, dan kebutuhan lainnya di luar pangan, dimana biaya untuk itu semakin besar, petani pertanian rakyat menghadapi tekanan, dan hanya punya dua pilihan, mengembangkan pertanian intensif, atau bekerja/berusaha di bidang diluar pertanian.

Itu pangkal terjadinya alih fungsi lahan di tingkat pertanian rakyat. Dan, jika ini terus terjadi maka masalah yang muncul adalah ketersediaan pangan, lebih jauh lagi memicu masalah sosial lainnya. Untuk itu, yang diupayakan haruslah, lahan pertanian tidak dialih fungsikan, dan petani tetap sebagai pemilik lahan, walau tidak menggarap lahan.

Inovasi 3 Model Bisnis Dasar Pertanian Sebagai Solusi  

Sebagai solusi atas itu, salah satu yang dapat dikembangkan adalah inovasi model bisnis pertanian. Model bisnis adalah konsep usaha bagaimana usahaitu dijalankan sehingga mampu tumbuh berkelanjutan. Seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan sosial - budaya, model bisnis berkembang pesat. Tidak ketrkeciali model bisnis untuk pertanian, seperti farm to consumer, farm to table, farm to community dan lainnya. 

Tapi, dari itu semua ada 3 model bisnis dasar pertanian yang sering terlupakan. Padahal, tiga model bisnis dasar itu merupakan pangkal pemahaman atas bisnis pertanian. Lebih jauh, tiga model bisnis itu dapat dikembangkan sebagai solusi atas inefisiensi pertanian rakyat, atau pertanian dengan penguasaan lahan terbatas, dibawah 5 hektar.

Pertanian Keluarga (The Family Farming Busines), Pertanian Kolaboratif (Collaborative Farming), dan Pertanian Korporat (The Corporate Farming Business), merupakan 3 model bisnis dasar pertanian yang sekarang sedang dikembangkan di berbagai negara maju, seperti Australia, Inggris, dan lainnya.

Memahami Model bisnis Pertanian Keluarga, Pertanian Kolaboratif, dan Pertanian Korporat

Di Indonesia sendiri sebenarnya tidak asing dengan ketiga model bisnis itu. Petani kita dari dulu sudah mengimplementasikan model bisnis pertanian keluarga, dan pertanian kolaboratif. Kelompok tani merupakan bentuk dari pertanian kolaboratif. Komunalitas pada masyarakat petani merupakan bentuk dari pertanian keluarga. Pertanian model korporat sudah diterapkan di perusahaan pertanian di Indonesia.

Namun, penerapan model pertania keluarga dan pertanian kolaboratif pada pertanian rakyat belum menyentuh oerientasi bisnis dan tata kelola usaha yang baik. Itu yang perlu ditingkatkan, dikembangkan sesuai dengan tuntutan yang dihadapi pertanian rakyat.

Untuk itu, berikut pemahaman pengembangan atas 3 model bisnis dasar pertanian diatas:

1. Model Bisnis Pertanian Keluarga (The Family Farming Busines)

Model bisnis pertanian keluarga adalah konsep bisnis pertanian keluarga, usaha pertanian yang pengelolaan dan pengolahannya ada dibawah satu keluarga, kepala keluarga, anak, paman dan satu kerabat dekat lainnya. Pada model bisnis pertanian keluarga setiap anggota keluarga yang terlibat memiliki hak manajemen sekaligus juga sebagai pelaksana, tidak digaji melainkan mendapatkan bagi hasil sesuai kontribusi kerjanya, dan tiap-tiap kendala dan pengambilan keputusan dimusyawarahkan.

Upgrading yang dapat dilakukan pada model bisnis pertanian keluarga, diantaranya membangun bisnis pertanian keluarga dengan ikatan keluarga yang lebih luas, diluar keluarga inti untuk mencapai skala ekonomi, memperjelas risiko dan penghargaan diantara sesama anggota keluarga yang bergabung dengan memperjelas masing-masing tugas dan kontribusinya, memperjelas visi dan mengikat dengan satu tradisi keluarga untuk mempererat persaudaraan.

2. Pertanian Kolaboratif (Collaborative Farming

Model bisnis pertanian kolaboratif adalah konsep bisnis pertanian berkolaborasi, usaha pertanian yang pengelolaan dan pengolahannya saling bantu dengan petani lain baik dalam ikatan formal maupun non formal. Kelompok tani merupakan contoh model bisnis pertanian kolaboratif.

Upgrading model bisnis pertanian kolaboratif, seperti kelompok tani yang dapat dilakukan diantaranya peningkatan model model manajemen dan kerjasama antar petani yang tergabung, transparansi dan profesionalitas kepengurusan, spesialisasi kerja dan peningkatan kapasitas petani. 

3. Pertanian Korporat (The Corporate Farming Business)

Model bisnis pertanian korporat adalah konsep bisnis pertanian korporasi, usaha pertanian yang dikelola dan dijalankan dengan prinsip-prinsip bisnis korporasi baik private companny maupun perusahaan publik (listing di bursa). Usaha pertanian dijalankan secara koroprat adalah usaha pertanian yang mempunyai bada usaha, struktur organisasi yang jelas, direksi dan manajemen sebagai pengambil keputusan dan pengelola.

Prinsip Dasar Model Bisnis Pertanian

Ketiga model bisnis diatas dalam pengembangannya dapat dikombinasikan. Misal, model bisnis pertanian korporat pada pertanian keluarga atau model bisnis pertanian korporat pada kelompok tani (pertanian kolaboratif). Atau, masing masing dikembangkan mandiri, dilakukan peningkatan kapasitas pada sistem dan mekanismenya sehingga bisnis model pertanian keluarga dan pertanian kolaboratif pun dapat memenuhi sekala ekonomi, dan dijalankan secara intensif.

Sebagai solusi atas pertanian rakyat yang tidak efisien, jangan lupa juga bahwa jika ditelisik ditemukan bahwa prinsip dasar bisnis pertanian atau usaha tani ternyata adalah gotong royong. Agar supaya setiap anggota bergotong royong syarat utamanya adalah kejujuran, keterbukaan dan keadilan.

Dalam pengembangan bisnis model diatas sebagai solusi pertanian rakyat, dibutuhkan pihak baik lembaga maupun perorangan yang mendampingi, membimbing, mengarahkan, dan melatih petani-petani yang tergabung. Tugasnya, seperti mengarahkan dan membantu membuat kesepakatan antar masing-masing petani, membuat rencana bisnis, membantu membentuk kepengurusan atau struktur borganisasi dan lainnya.

Perkembangan Terkini

Di Indonesia sendiri pengembangan model bisnis diatas sudah mulai diuji-coba dari tahun 2017. Salah satunya adalah program pertanian korporat di Bantul, Yogyakarta, dengan luas lahan 6 Ha yang merupakan lahan dari 77 petani.

Jadi, inefisiensi pada pertanian rakyat solusinya adalah pengembangan sistem gotong royong antar petani, baik itu melalui penerapan model bisnis petanian keluarga, pertanian kolaboratif, maupun pertanian korporat.     

  1. 0 Komentar
  2. 3 Dibagikan
Referensi

Hasil Survei Pertanian Antar Sensus (Sutas) 2018. Katalog 5101019. BPS, 2018.

 

Modul 3. 9 Posible Business Model. GRDC.

 

Training Manual. Farming As A Family Business. USAID. 

 

Bayu. Starjogja, 2019. Corporate Farming di Bantul Sukses Naikkan Produksi. Diakses 31 Maret 2020. Link disini.

0 Komentar