Budidaya

Penanggulangan dan Pengendalian Ulat Grayak, Hama Baru Pada Pertanaman Jagung

Ulat Grayak, berasal dari luar, awal 2019 ini menyebar dan menyerang tanaman jagung petani di Indoonesia. Hama Ulat Grayak menyebabkan kerusakan pada pertanaman jagung secara cepat dan masif.

  1. 0 Komentar
  2. 12 Dibagikan
null

Baru-baru ini, petani jagung di Indonesia diresahkan dengan ditemukannya serangan hama baru pada pertanaman jagung di beberapa daerah. 

Ulat Grayak

Hama baru tersebut, dikenal dengan sebutan ulat grayak (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) atau Fall Armyworm. Ulat grayak merupakan serangga ngengat asli daerah tropis yang sebelumnya hanya ditemukan pada pertanaman jagung di Amerika Serikat, Argentina, dan Afrika.

Penyebaran Ulat Grayak Di Indonesia

Pada awal tahun 2019, hama jagung ini ditemukan pertama kali menyerang pertanaman padi di Indonesia, yaitu di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat dan Lampung. 

Menyebarnya hama jagung ini sampai ke Indonesia dan mampu cepat beradaptasi dengan baik. Bahkan langsung merusak pertanaman jagung. Ini karena diduga hama ulat grayak memiliki karakter biologi yang unik. 

Selain itu, mudahnya penyebaran hama ini karena didukung oleh tingginya volume pertukaran barang dagang antar negara. Tingkat kerusakan akibat serangan hama jagung ini tergolong berat karena menyebabkan kerugian ekonomi pada komoditas jagung. 

Untuk itu, guna membantu petani di lapangan, diperlukan informasi dasar mengenai serangan hama ini serta langkah-langkah yang dilakukan secara efektif dan efisien, serta aman terhadap lingkungan.

Gejala Kerusakan Dari Hama Ulat Grayak

Berdasarkan nama hama ini, yakni ulat grayak, diketahui bahwa fase yang paling merusak dari hama jagung ini yaitu fase larva atau ulat. Hama ulat grayak merusak pertanaman jagung dengan cara menggerek daun tanaman jagung. 

Bahkan, pada kerusakan berat, kumpulan larva hama ini seringkali menyebabkan daun tanaman hanya tersisa tulang daun dan batang tanaman jagung saja. Apabila kumpulan larva hama jagung ini mencapai kepadatan rata-rata populasi 0.2 – 0.8 larva per tanaman. Akibatnya, itu menjadikan pengurangan hasil produksi sebanyak 5 – 20%. 

Tanaman jagung yang diserang oleh hama jagung ulat grayak kerusakannya ditandai dengan:

  • Adanya bekas gesekan dari larva atau ulat. 
  • Pada permukaan atas daun atau disekitar pucuk tanaman jagung, ditemukan serbuk kasar seperti serbuk gergaji. 
  • Ulat grayak ini merusak bagian pucuk, daun muda, maka tanaman jagung dipastikan akan mati. 
  • Ketika populasi ulat grayak ini sangat tinggi, maka bagian tongkol jagung juga akan diserang oleh hama ini. 
Hama Ulat Grayak  (Pic.: oleh G. Goergen, IITA; Marlin E. Ri)
Hama Ulat Grayak Spodoptera frugiperda (Pic.: oleh G. Goergen, IITA; Marlin E. Ri)

Sistem Scouting Untuk Mengelola Tanaman Jagung

Salah satu hal penting yang perlu diktehaui oleh petani di lapangan dan dapat langsung dilakukan untuk mengelola dan mengendalikan hama ulat grayak ini adalah dengan melakukan pengamatan langsung di pertanaman jagung atau sistem scouting

Pengamatan bisa dilakukan satu kali dalam seminggu dilakukan secara intensif. Dari pengamatan berdasarkan sistem scouting tersebut, diharapkan petani mendapatkan pengetahuan langsung sehingga dapat mengambil keputusan untuk pengendalian yang tepat dan efisien ketika serangan hama ulat grayak ini sangat tinggi. Sehingga produksi jagung tetap dapat dipertahankan dan lebih sedikit sumber daya yang terbuang, serta bersifat berkelanjutan.

Selain itu, terkait luasan lahan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan khusus untuk para petani jagung dengan luas lahan kurang dari 2 ha, diantaranya yaitu:

  • Sistem scouting akan memudahkan petani dalam mempelajari variabilitas lahan jagungnya. Sistem ini merupakan sebagai cara yang cepat dan sistematis untuk mempertahan pertumbuhan tanaman yang sehat dan menduga keberadaan organisme-organisme tertentu yang berpotensi menyebabkan kerusakan dan kehilangan hasil.
  • Aplikasi sistem ini pada keberadaan hama ulat grayak jenis S. frugiperda, prosedurnya cukup sederhana, yaitu tentukan bidang yang akan diambil sampelnya.
  • Pola scouting yang digunakan untuk jenis ulat grayak ini adalah pola huruf “W” yang mencakup seluruh bidang lahan. Pola huruf “W” tersebut bisa dilihat pada gambar dibawah ini:

  • Lakukan pengamatan pada 10 tanaman (stasisun) secara berturut-turut di awal dan di setiap plot.
  • Amati dengan seksama masing-masing 10 tanaman sampel seperti gejala serangan yang menunjukkan adanya beberapa stadia ulat grayak yang hidup pada tanaman tersebut
  • Hitung dan catat hanya tanaman yang terinfestasi oleh hama ulat grayak ini.

Pencegahan dan Pengendalian Ulat Grayak

a. Tindakan Pencegahan

  1. Pengunaan benih dan varietas yang memiliki daya kecambah yang baik dan bebas dari penyakit.
  2. Lakukan waktu penanaman yang tepat waktu dan hindari waktu penanaman yang tidak seragam pada satu lahan. Itu untuk menghindari ketersediaan tanaman ianang hama ini ini secara terus menerus.
  3. Kondisi tanah yang baik dengan penggunaan pupuk anorganik secara seimbang untuk mengurangi intesitas serangan hama ulat grayak ini.
  4. Lakukan sistem tumpang sari tanaman jagung dengan tanaman lain yang tidak disukasi oleh hama ini.
  5. Lakukan pengamatan setidaknya seminggu sekali untuk mengamati, mempelajari, dan mengambil keputusan yang tepat jika ditemukan gejala serangan hama ini.

b. Tindakan Pengendalian

  1. Secara mekanis, dapat dilakukan adalah dengan cara mencari dan membunuh larva dan telur hama ini secara mekanis, yakni dengan dihancurkan dengan tangan.
  2. Secara biologis, dengan penggunaan musuh alami yang berperan sebagai agen pengendali hayati untuk mengurangi populasi hama ulat grayak. Beberapa contoh musuh alami dari hama ini yaitu  jenis parasitoid Trichogramma spp. dan jenis predator cecopet, kumbang kepik, dan semut.

Merusak Dalam Waktu Singkat, Ulat Grayak Menjadi Ancaman Serius

Sebagai jenis hama baru yang menyerang pertanaman jagung di Indonesia, keberadaan hama ulat grayak atau Spodoptera frugiperda ini dapat menjadi ancman seirus bagi para petani di Indonesia. 

Hama ulat grayak ini mejadi perhatian khusus karena dapat merusak tanman jagung dalam waktu singkat, sehingga pentingnya informasi melalui sistem scounting, serta pencegahan dan pengendalian hama ini dilakukan secara dini.

img feature: Ilustrasi. Tanaman jagung disebuah farm di bogor. 
  1. 0 Komentar
  2. 12 Dibagikan
Referensi
Nonci N, Kalqutny SH, Mirsam H, Muis A, Azrai M, Aqil M. 2019. Pengenala Fall Armyworm (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) Hama Baru Pada Tanaman Jagung di Indonesia. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Kementrian Pertanian.
http://cybex.pertanian.go.id/artikel/61246/mengenal-fall-armyworm-spodoptera-frugiperda-hama-baru-pada-tanaman-jagung-di-indonesia/

0 Komentar