Agro Ekonomi

Mengenal Potensi Ekonomi dan Kegunaan Rempah-rempah Indonesia

Rempah-rempah nusantara kembali menjad primadona karena nilai ekspor yang tinggi, baik di pasar lokal maupun intenasional

  1. 0 Komentar
  2. 3 Dibagikan
Etalase rempah-rempah di event TEI 2019

Sejak virus corona mewabah penjualan rempah-rempah di pasar dalam negeri mengalami kenaikan sigifikan. Dari berbagai pemberitaan, dianggap dapat mencegah virus corona, menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh, permintaan rempah-rempah di berbagai pasar tradisional naik 15 hingga 30 persen.   

Potensi Ekonomi Rempah

Masyarakat nusantara mengenal, membudidayakan, dan memanfaatkan rempah untuk berbagai keperluan, kecantikan, kesehatan, dan untuk keperluan ritual keagamaan. Nusantara adalah rempah, negeri rempah-rempah, artinya Indonesia adalah negara penghasil rempah, dan ini sudah terkenal sejak dulu. Bahkan, alasan Portugis, Belanda, Inggris dan bangsa lainnya pertama kali datang ke Indonesia adalah mencari daerah pusat penghasil rempah yang ternyata itu adalah Indonesia. 

Sampai sekarang pun, rempah sebenarnya masih menjadi primadona di pasar internasional. Peluang ekspor rempah-rempah Indonesia ke pasar internasional sangat potensial. Kemiri, pala, dan rempah lainnya sangat dibutuhkan, dicari di pasar internasional dan harga jualnya pun tinggi.

Sebagai gambaran potensi, ekspor pertanian Indonesia per Desember 2019 mencapai 0,37 miliar dolar. Meningkat 24,35 persen dari tahun sebelumnya di bulan yang sama, dimana komoditas yang mengalami kenaikan ekspor diantaranya tanaman obat aromatik,dan rempah-rempah (Kompas.com).  

Kegunaan Rempah

Rempah adalah berbagai jenis tanaman yang beraroma yang menghasilkan bau khas dan rasa yang khusus. Penggunaan rempah-rempah dalam kehidupan sehari-hari diantaranya, untuk masakan, obat, kecantikan, seperti perawatan kulit, obat sakit perut dan demam, bahkan untuk meningkatkan gairah seksualitas. 

Penggunaan bahan rempah untuk kehidupan sehari-hari volume atau kuantitasnya boleh saja sedikit, tapi yang menentukan dari bahan remah adalah aroa, rasa, dan efek atau khasiatnya yang tidak tergantikan. Dan, walau lekat dengan image tradisional, nyatanya rempah merupakan bahan baku industri yang tidak tergantikan.

Adapun rempah sebagai produk industri,  umunya digunakan pada produk, ssebagai berikut: 

  1. Produk Obat, jamu produk herbal
  2. Produk Kecantikan
  3. Farmasi (fitofarmaka)
  4. Bumbu Masak
  5. Parfum
  6. Sabun

8 Bahan Rempah dan Khasiatnya 

Ada banyak bahan rempah yang berasal dari tanaman rempah, yang potensial di budidayakan di Indonesia, bahan berpotensi menjadi icon baru produk Indonesia. Dari genus piper sendiri yang totalnya ada 600 spesies, 40 spesies diantaranya terdapat di Indonesia. 

Lada, kemukus, sirih merah, cabe jawa, sirih merupakan rempah dari genus piper yang paling banyak dibudidayakan. Belum lagi tanaman famili Zingiberaceae, seperti jahe, temu lawak, lepuyang, kencur, kunyit dan lainnya, yang yang tumbuh subur di Indonesia.

Dari berbagai jenis tanaman rempah itu, dihasilkan produk rempah dengan kualitas tinggi. Berikut 8 jenis rempah-rempah asal Indonesia yang paling laku di pasaran lokal dan internasional.:

1. Lada (Piper ningrum)

  • Disebut sebagai “The King of Spices”.
  • Jenis rempah yang bernilai paling tinggi dan paling bernilai histori.
  • Harga jual di pasaran mencapai Rp. 150.000/Kg (tentatif dan bukan acuan).
  • Berbagai manfaat dari rempah ini diantaranya yaitu membantu menghilangkan rasa sakit, mencegah tukak lambung, anti-asma, anti-diabetes, meningkatkan nafsu makan, dan lain sebagainya.

2. Kayu Manis (Cinnamomum burmannii)

  • Merupakan tanaman asli Indonesia dan tersebar hampir diseluruh wilayah nusantara.
  • Ekspor terbesar dihasilkan dari Sumatera Barat, dengan harga jual yang cukup tinggi dipasaran, yakni sekitar Rp. 70.000/Kg (tentatif dan bukan acuan).
  • Kulit kayu manis mengandung komponen utam yang memberiwkan wangi khas yaitu cinnamaldehyde.
  • Biasanya digunakan untuk bahan tambahan kosmetik dan minyak wangi, ramuan obat, serta untuk pembuatan makanan.

3. Kapulaga (Elettaria cardamomum)

  • Indonesia merupakan penghasil kapulaga terbesar di Asia.
  • Harga jual di luar negeri termasuk yang tinggi, yakni sekitar Rp. 400.000/kg(tentatif dan bukan acuan).
  • Sedangkan, di Indonesia sendiri, harga jual rempah ini tergolong rendah, yakni sekitar Rp. 45.000/Kg (tentatif dan bukan acuan).
  • Rempah ini sangat terkenal sebagai tanaman yang dapat digunakan untuk bumbu berbagai makanan dan minuman, serta untuk bahan ramuan obat tradisional.

4. Pala (Myristica fragrans)

  • Tanaman asli dari Maluku, Indonesia.
  • Daerah penghasil pala terbesar di Indonesia yaitu Sulawesi Utara dan Aceh Selatan.
  • Harga jual ekspor rempah ini terbilang cukup tinggi, yaitu sekitar Rp. 110.000/Kg (tentatif dan bukan acuan).
  • Berkhasiat sebagai obat masuk angina, obat kolera, obat campak, obat demam, dan lainnya.

5. Vanili (Vanilla planifolia)

  • Rempah yang satu ini merupakan salah satu komoditi termahal di dunia.
  • Harga jual vanili per kilogramnya dapat mencapai Rp. 450.000 (tentatif dan bukan acuan).
  • Biasanya dimanfaatkan untuk pengharum makanan.
  • Selain itu, memiliki kandungan antioksidan yang tinggi serta sifatnya yang bisa mencegah kanker.

6. Cengkeh (Syzgium aromaticum)

  • Tanaman asli Indonesia.
  • Merupakan jenis rempah termahal di dunia.
  • Harga jual di dunia, bisa mencapai Rp. 500.000/Kg-nya (tentatif dan bukan acuan).
  • Rempah ini menjadi primadona karena banyak digunakan untuk masakan, obat-obatan, parfum, dan upacara-upacara keagamaan.
  • Dibidang industry kimia, cengkeh berfungsi sebagai bahan dasar untuk pembuatan vanillin, yang banyak digunakan untuk pembuatan kue.
  • Di Indonesia, cengkeh digunakan juga sebagai bahan pokok dalam industry rokok kretek.

7. Kemiri (Aleurites moluccana)

  • Biji kemiri dijual terbilang rendah harganya di pasaran, yakni sekitar Rp. 40.000/Kg (tentatif dan bukan acuan).
  • Namun, jiki biji kemiri ini telah diolah menajdi minyak kemiri, maka harga jualnya mejadi sangat tinggi yakni sekitar Rp. 700.000/Kg (tentatif dan bukan acuan).
  • Manfaat kemiri, selain untuk kesehatan rambut, yakni untuk kesehatan. seperti mengatasi nyeri sendi, menyembuhkan luka bakar, luka sayatab, dan menaikan kerja sistem imun.

8. Kemukus (Piper cubeba)

  • Tanaman rempah asli Indonesia, yang buahnya biasa disebut sebagai merica buntut, karena bentuknya seperti buah lada yang memiliki ekor.
  • Rempah satu ini walau jarang dikenal oleh masyarakat Indonesia, namun ternyata banyak diekspor ke negara-negara seperti Eropa, Jepang, dan kawan Asia Timur lainnya.
  • Harga jualnya pun relatif rendah, yakni sekitar Rp. 40.000/Kg (tentatif dan bukan acuan).
  • Buah tanaman ini seringkali dijadikan obat, dibandingkan sebagai rempah untuk masakan.

Kendala Ekspor Remah Indoensia

Sayang, ekspor produk rempah diatas dan produk rempah lainnya selalu terganjal oleh standar, baik standar internasional maupun standar yang ditetapkan oleh negara tujuan ekspor. Kendala teknis, birokrasi dan peraturan yang menghambat ekspor rempah diantaranya:

  • Peraturan teknis dan standarsasi, seperti standar mutu, standar bibit/benih, dan lainnya,
  • Lisensi impor,
  • Pemeriksaan sebelum pengapalan,
  • Aturan mengenai asal produk, dan
  • Tindakan-tindakan terkait investasi.

Memang untuk menjadi komoditi ekspor unggulan perlu keseriusan dalam pengembangan industri rempah nasional, dari hulu sampai hilirnya. Bahan rempah untuk produk obat misalnya dapat didorong kearah pengembangan industri fitofarmaka.

Begitu juga rempah untuk bahan baku kecantikan, sabun, sampai bumbu masak, dapat didorong menjadi industri yang terintegrasi, sehingga dapat meningkatkan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif nasional.   

  1. 0 Komentar
  2. 3 Dibagikan
Referensi

Rhosyana C. 2016. Rempah-rempah (Cengkih, Lada, dan Pala) Sebagai Ide Pembuatan Motif Batik Tulis Untuk Busana Ikat Lilit). Tugas Akhir Karya Seni. Universitas Negeri Yogyakarta.

 

Evizal R. 2013. Tanaman Rempah dan Fitofarmaka. Lembaga Penelitian Universitas Lampung, Bandar Lampung.

 

Ellia Kristiningrum, Reza Lukiawan. 2011. Kajian Standarisasi Sektor Rempah-rempah Terkait dengan Penolakan Produk Dalam Mendukung Peningatan Ekspor Indonesia. Jurnal Standardisasi Vol. 13, No. 1 Tahun 2011: 26 - 35. Peneliti pada Puslitbang Badan Standardisasi Nasional

 

Rusdi Evizal. 2013. Tanaman Rempah dan Fitofarmaka. Lembaga Penelitian Universitas Bandar Lampung.

0 Komentar