Agribisnis

Mengenal Konsep Farm To Table Sebagai Solusi Pangan Terintegrasi

Teknologi digital turut menjadi trigger atas perkembangan berbagai pengaplikasian farm to table dengan berbagai model, dan di berbagai ranah usaha penyediaan makanan.

  1. 0 Komentar
  2. 12 Dibagikan
null

Masyarakat pertanian di desa yang masih asri dan subur perlu berbangga, pasalnya tidak sulit untuk mendapatkan bahan pangan yang sehat dan segar. Sayuran, buah, rempah, dan lainnya mudah ditanam diladang maupun di pekarangan. Asal rajin menanam, bertani untuk memenuhi kebutuhan pangan kemungkinan besar tercukupi. Ibarat kata, “sayuran tinggal petik”, tanaman buah-buahan yang tumbuh semi liar hanya tinggal menunggu musimnya saja, lauk ikan dapat dipenuhi dengan membuat kolam kecil, memanfaatkan areal kosong di sekitar rumah.

Kebutuhan Pangan Sehat, Alami dan Segar

Berbeda dengan masyarakat urban, bahan pangan sehat, alami dan segar semakin menjadi barang langka. Terutama di negara maju berbasis industri dengan lahan pertanian terbatas seperti di sebagian besar negara Eropa dan Amerika Serikat, kebutuhan akan pangan sehat, alami dan segar urgensinya semakin tinggi. Sebagai negeri agraris, masyarakat urban Indonesia masih mempunyai banyak pilihan cara dan kemudahan dalam pemenuhan pangan sehat, alami dan segar, walau lambat-laun akan mengalami masalah kualitas bahan pangan, seperti yang dialami negara lain. 

Gambaran itu tidaklah berlebihan, karena kenyataannya pada peringatan world food day yang jatuh pada tanggal 20 Oktober 2019, FAO (Food and Agriculture Organization) mengangkat tema ‘Healthy Diet for A Zero Hunger World”, dimana salah satu yang didengungkan diantaranya, diversify your diet by adding traditional, locally grown and seasonal foods dan keep fresh and waste less.

Mengenal Farm To Table Sebagai Pemenuhan Kebutuhan Pangan Sehat, Alami dan Segar

Pemenuhan kebutuhan pangan sehat, alami dan segar itu memunculkan konsep “farm to table”. Frasa atau istilah farm to table dapat diartikan dari berbagai prespektif. Pengertian farm to table dari prespektif usaha restoran, adalah konsep menyajikan makanan, sehat, alami dan segar, langsung dari kebun, atau restoran yang berada dikebun dimana konsumen dapat memilih dan memetik bahan pangan yang ada dikebun untuk menu makanannya. Prespektif dari pembuat kebijakan, seperti pemerintah, dan organisasi internasional seperti FAO, beda lagi, yaitu lebih pada bahan pangan dan sistem rantai pasok bahan pangan yang terverifikasi kualitasnya, kandungan, kesegaran, dan asalnya.

Farm to table sebagai konsep penyajian makanan berangkat dari budaya makan, baik bersama keluarga maupun untuk suatu acara, di areal terbuka di kebun, di sekitar rumah, yang biasa dilakukan oleh masyarakat di Eropa dan Amerika Serikat sebelum era industri, (revolusi industri). Awalnya konsep penyajian makanan farm to table, pengadaan dan penyajian makanan yang segar dan otentik, muncul sebagai “counterculture”, atas membanjirnya makanan instan, dan kalengan. Berangkat dari komunitas/kaum Hippie pada tahun 1960-an, pada tahun 1970-an farm to table berkembang menjadi sebuah konsep yang diterapkan pada usaha restoran. 

Farm To Table Sebagai Solusi Pangan, Kesehatan, Pertanian, Ekonomi dan Lingkungan

Mulai saat itu, muatan farm to table tidak terbatas pada keotentikan dan kesegaran saja, tapi mencakup kesehatan, kesejahteraan petani, pelestarian lingkungan, dan penaggulangan kelaparan. Perkembangan itu, menunjukan perubahan farm to table menjadi konsep yang terintegrasi dengan berbagai aktivitas dan sebagai solusi terintegrasi atas masalah pertanian, meliputi, pangan, lingkungan, dan ekonomi. 

Sekarang, model pengaplikasian konsep farm to table berkembang tidak hanya pada usaha restoran, tapi juga untuk usaha penyediaan bahan pangan. Melalui teknologi digital, konsumen dapat memesan ke petani langsung untuk ditanamkan bahan makanan sesuai pilihannya, dipetik sendiri atau diantar ketika waktu panen. Teknologi digital turut menjadi driver dan trigger atas perkembangan berbagai pengaplikasian farm to table dengan berbagai model, dan di berbagai ranah usaha penyediaan makanan. 

Farm To Table Di Indonesia

Di Indonesia sendiri, restoran dengan konsep farm to table mulai berkembang, baik restoran yang sekaligus kebun, maupun restoran yang bekerja sama dengan petani, menyajikan makanan organik, dengan menu yang berubah, sesuai dengan musim. 

Berbagai istilah yang pengertiannya hampir sama dengan farm to table diantaranya locally-sourced, farm fresh, and farm-to-fork. Bahan pangan dalam sajian farm to table adalah bahan pangan alami atau organik. Tapi, jika mengacu FAO pada seputar pembahasan farm to table, makanan yang disajikan minimal yang memenuhi good practice agriculture.

Bahan pangan yang ada di Indonesia sendiri, asal bukan makanan kemasan, dan jika acuannya hanya kesegaran, kualitasnya tidak jauh dari bahan pangan pada sajian farm to table. Asal mau ke pasar tradisional ketika malam atau menjelang pagi, bahan pangan segar banyak tersedia di pasar tradisional.

  1. 0 Komentar
  2. 12 Dibagikan
Referensi

Cinnamon Janzer. Upserve Restaurant Insider. The History of the Farm to Table Movement. Diakses 9 November 2019. (https://upserve.com/)

 

Molly Watson. The Spruce Eat. The Meaning of Farm-to-Table: Direct Relationship With Farmer and Restaurant or Home Cook. Diakses 14 November 2019. (https://www.thespruceeats.com/)

 

RYANAISA. Womenalk. Apa Itu Tren Kuliner Farm-to-Table di Banyak Restoran?. Diakses 14 November 2019. (https://womantalk.com/)

 

Study.com. The Farm-to-Table Movement: Definition & History. Diakses 14 November 2019. (https://study.com/)

0 Komentar